Pangkas Beban Utang, Jababeka (KIJA) Jual Tanah di Cikarang
Pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), Setyono Djuandi Darmono, berencana membayar utang US$100 juta dari total pinjaman sebesar US$280 juta. Utang ini terdiri dari obligasi mata uang dolar AS senilai US$180 juta dan pinjaman dari Bank Mandiri sebesar US$100 juta. Pinjaman tersebut akan jatuh tempo pada tahun 2027.
Untuk mendapatkan dana, Jababeka berniat menjual aset properti di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Bank tanah atau land bank Jababeka di Cikarang ini seluas 5.000 hektare. Untuk pasaran harga tanah di sana, menurut Darmono, diperkirakan Rp3 juta per meter persegi. Jika langkah itu terwujud, maka beban pembayaran utang perseroan juga akan menurun dan membuat kinerja Jababeka lebih baik. “Kami sudah memiliki beberapa road map yang akan dijalankan. Tujuan melepas aset tanah untuk memperbaiki kinerja keuangan Jababeka dan supaya pemegang saham atau investor saham kembali percaya kepada kami. Jangan gara-gara kami tidak bagi dividen, investornya menjauh,” jelas Darmono seperti dikutip swa.co.id pada Sabtu (20/7/2024).
Menurut Darmono, setelah memulihkan kepercayaan pemegang salam, Jababeka akan melakukan penawaran saham terbatas atau rights issue karena uang yang seharusnya membayar beban bunga bisa dialihkan untuk ekspansi. Strategi ini diyakini akan mampu menaikkan kembali harga salam Jababeka. “Kami terpaksa harus kerja keras, cut loss, sales asset yang sudah matang, dan cut bleeding,” tegas Darmono.
Perihal fasilitas Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diperoleh oleh pengembang kawasan BSD City dan Pantai Indah Kapuk, Darmono berharap kawasan industri Jababeka juga mendapatkan. “Kami terbuka jika Kawasan Jababeka masuk PSN. Tapi, PSN nya jangan sama dengan BSD atau PIK,” ucapnya.
Bagaimana dengan investasi proyek di IKN? “Sampai saat ini, kami belum diminta atau dilibatkan dalam proses penjajakan pasar (market sounding) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) di pengembangan proyek ibu kota baru,” tutur Darmono.
Wakil Direktur Utama Jababeka, T. Budianto Liman, mengungkapkan manajemen Jababeka ingin membayar utang lebih cepat untuk menjaga kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Saat ini perusahaan dalam kondisi baik-baik saja, bahkan banyak pihak yang menawarkan funding ke Jababeka untuk melunasi pinjaman.
KIJA pada 2023 membukukan pendapatan jasa Rp3,29 triliun, meningkat 20% dibandingkan raihan tahun 2023 sebesar Rp2,74 triliun. Sementara itu, laba melonjak 577% senilai Rp305,57 miliar selama tahun 2023. Jumlah itu meningkat dibandingkan rugi Rp64,03 miliar pada tahun 2022. Sedangkan total aset perseroan tercatat Rp12,94 triliun atau turun dari nilai aset tahun 2022 sebesar Rp13,11 triliun. Harga saham KIJA sejak awal tahun hingga 19 Juli 2024 (year to date) stagnan pada Rp132. (*)