Aktivitas IPO Cukup Tangguh, Nilai Emisi IPO Melonjak 12,5%
Perusahaan yang IPO di Bursa Efek Indonesian (BEI) pada semester pertama tahun ini menunjukkan kinerja positif. Nilai emisi IPO sejak awal tahun hingga 18 Juli 2024 (year to date) tumbuh sebesar 12,5%. Ini mengindikasikan kuatnya minat investor terhadap saham-saham pendatang baru ini. Khususnya, perusahaan seperti PT Satu Visi Putra Tbk, PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk, PT Remala Abadi Tbk, PT Homeco Victoria Makmur Tbk, dan PT Manggung Polahraya Tbk muncul sebagai perusahaan teratas yang baru-baru ini terdaftar.
Reuben Tirtawidjaja, Ernst & Young (EY) Indonesia Strategy and Transactions Partner, menjelaskan Indonesia telah menjadi pasar IPO terkemuka di ASEAN pada paruh pertama 2024 dalam hal jumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek. "Ini menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Hingga paruh pertama 2024, di Bursa Efek Indonesia sudah ada 25 perusahaan yang berhasil melakukan IPO," ujar Reuben di Jakarta, baru-baru ini.
Hal tersebut terjadi di tengah adanya moderasi pasar akibat pemilihan presiden Indonesia yang diadakan pada bulan Februari 2024, yang secara historis menyebabkan perlambatan sementara dalam aktivitas pasar modal. Kawasan ASEAN yang lebih luas juga mengalami moderasi dalam aktivitas IPO, yang kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi yang dapat menyebabkan kenaikan suku bunga. “Tren ini tidak hanya terjadi di pasar ASEAN, lanskap IPO global juga mengalami penurunan sebesar 12% secara tahuan dalam jumlah perusahaan yang melakukan IPO,” ujarnya.
Selama paruh pertama tahun 2024, sektor material telah menjadi pendorong utama aktivitas IPO di Indonesia. Sektor ini menghasilkan 7 IPO, yang secara kolektif mengumpulkan modal sebesar US$119,3 juta, dengan kontribusi tertinggi dari PT Ancara Logistics Indonesia Tbk dan PT Adhi Kartiko Pratama Tbk yang mengumpulkan total dana sekitar US$90 juta.
Sektor energi merupakan kontributor terbesar kedua terhadap aktivitas IPO di Indonesia. Sektor ini menghasilkan 4 IPO, dengan total peningkatan modal sebesar US$31,4 juta. PT Citra Nusantara Gemilang Tbk, PT Multi Hanna Kreasindo Tbk dan PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk menjadi kontributor terbesar dengan mengumpulkan total dana sekitar US$27 juta.
Sektor ritel juga merupakan pendorong utama aktivitas IPO di Indonesia. Hanya dengan 2 IPO, sektor ritel mengumpulkan modal sebesar US$29,4 juta, dengan PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD) memainkan peran penting, dengan mengumpulkan dana terbesar. Secara keseluruhan, pasar IPO di Indonesia tetap tangguh meskipun terdapat tantangan pasar yang terus berlanjut. PT Bursa Efek Indonesia memperkirakan 60-70 perusahaan bakal melakukan pencatatan perdana saham alias IPO pada tahun ini. (*)