Capital Market & Investment

Pasar Kripto Lesu, Investor Cermati Kebijakan The Fed

Pasar kripto dalam satu pekan terakhir mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Penurunan yang terjadi disinyalir merupakan akibat dari beberapa faktor diantaranya seperti kekhawatiran resesi di AS pasca rilis data sektor ketenagakerjaan pekan lalu, potensi tekanan jual 17 ribu lebih kreditur Mt. Gox yang telah menerima pengembalian aset kriptonya, kebijakan bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga dan mengurangi pembelian surat utang, serta masih relatif minimnya pertumbuhan adopsi kripto lebih lanjut dari produk-produk yang ada di ekosistem terdesentralisasi.

Melansir CoinMarketCap pada Senin pekan ini, Bitcoin merosot lebih dari 15% dan menyentuh level US$49.700 dari level US$59.500. Ethereum terkoreksi lebih dalam ke level US$2.200 dari US$2.760. Pada Selasa kemari, recovery mulai terlihat dengan Bitcoin kembali ke level US$55.800 dan Ethereum ke US$2.500.

Merespon kondisi tersebut, Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, mengatakan laju penurunan harga Bitcoin di bawah US$60 ribu ini tergolong cepat, sebab dalam kurun waktu sekitar 24 jam, Bitcoin telah turun lebih dari 15% dengan level terendah US$49.000 yang terjadi Senin malam tadi sekitar pukul 20:30 WIB pada awal pekan lalu. “Penurunan pada tingkat tersebut untuk Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar bukan merupakan sesuatu yang sering terjadi, sehingga menarik untuk dicermati dan dianalisis lebih lanjut,” ungkap Fahmi dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu, (7/8/2024).

Indeks Fear & Greed yang mengukur sentimen pasar berdasarkan data volatilitas, market momentum, dan sosial media, menunjukkan area extreme fear di angka 17 yang terakhir kali terjadi pada Juli 2022 lalu. “Situasi extreme fear menurut indikator ini dapat dikatakan merupakan salah satu waktu terbaik untuk melakukan pembelian aset kripto di pasar. Investor dapat mengoptimalkan kondisi ini untuk membeli Bitcoin di harga yang relatif lebih rendah dari beberapa bulan sebelum penurunan drastis terjadi,” imbuhnya.

Investor Bitcoin dari pasar modal AS juga tidak terlihat mengambil reaksi besar atas koreksi yang terjadi. Hal ini dapat dilihat dari angka netflow ETF Bitcoin dan Ethereum spot yang tidak terlihat mengalami penarikan dana pada level yang tidak biasa. "ETF Ethereum spot bahkan membukukan netflow positif sebesar US$48,8 juta pada perdagangan hari Senin lalu,” jelas Fahmi.

Optimisme para penambang Bitcoin (miner) pun masih terbilang relatif tinggi di mana hanya terjadi sedikit penurunan hash rate yang merupakan fluktuasi normal dan tidak mensinyalir adanya aksi pemberhentian operasi penambangan oleh para miner.

“Hal ini berbeda dengan penurunan hash rate yang cukup signifikan pada 23 Juni lalu yang kemudian diikuti penurunan harga lanjutan Bitcoin dari level US$64.000 ke US$59.000 pada 25 Juni dan US54.000 pada 5 Juli. Dengan optimisme tersebut, membaiknya performa Bitcoin masih terbuka,” lanjut Fahmi.

Dengan tren bullish yang terlihat mampu bertahan terlepas dari tekanan jual yang ada di pasar, periode Agustus-September mungkin akan menjadi periode akumulasi oleh sebagian investor untuk bersiap menghadapi reli utama pada fase bullish kripto yang berpotensi terjadi pasca perubahan arah kebijakan suku bunga The Fed.

“Namun perlu dicatat bahwa apabila suku bunga diturunkan disaat inflasi AS masih belum cukup berhasil ditekan, terdapat kemungkinan kembali ditahannya suku bunga khususnya apabila inflasi kembali naik. Terjadinya hal itu mungkin akan menghambat reli yang akan berlangsung,” kata Fahmi.

Di tengah kondisi pasar saat ini, Reku terus menghimbau investor untuk mengambil keputusan yang cermat dan tidak tergesa-gesa. “Investor bisa memantau pergerakan pasar dengan mencari sumber informasi yang mudah dimengerti dan sudah mencakup analisa pasarnya. Sebab, banyaknya faktor seringkali menghambat investor menyimpulkan situasi yang terjadi. Sehingga dengan mencari sumber informasi yang mudah dimengerti, juga dapat memudahkan investor mengambil keputusan. Inilah yang dilakukan Reku setiap harinya, menghadirkan analisa pasar yang akurat untuk menemani investor menentukan strategi investasinya,” jelas Fahmi.

Selain itu, investor juga bisa melakukan menabung rutin dan memantau kondisi pasar secara reguler. “Saat ini, investor juga lebih mudah untuk melihat rangkuman investasinya melalui fitur Portfolio Analysis yang tersedia di Reku. Sehingga performa investasi secara periodik dan koin pun dapat dipantau secara real-time tanpa harus menghitung secara manual,” ujarnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved