Investasi Suntech Perkuat Ketahanan Rantai Pasok Industri Panel Surya Nasional
Target-target transisi energi yang dicanangkan pemerintah tidak hanya akan memperbaiki kualitas lingkungan, namun juga memperkuat kemandirian energi melalui pengembangan rantai pasok industri panel surya. Suntech, produsen panel surya global, berkomitmenmembangun pabrik manufaktur panel surya domestik di Indonesia dengan kapasitas produksi 2 gigawatt (GW) yang akan beroperasi akhir tahun ini.
Suntech membawa perusahaan-perusahaan yang menjadi rantai pasoknya agar berinvestasi di Indonesia untuk membantu percepatan pengembangan industri energi terbarukan dengan memperhatikan peningkatan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Penandatanganan kerja sama antara Suntech Indonesia dan rantai pasoknya, diwakili langsung oleh Chairman Suntech, Wu Fei, di sela-sela diskusi panel Road To ISF 2024: The Future of Energy Value Chains in The Regional Low-Carbon Economy Development di Jakarta, beberapa waktu lalu. “Indonesia akan menjadi fokus kami sebagai salah satu produsen panel surya terbesar di dunia, dengan kapasitas dan jaringan rantai pasok Suntech, kita akan mendukung program pemerintah Indonesia untuk membangun ketahanan energi dalam peningkatan daya saing industri di Indonesia,” Wu Fei menegaskan.
Ke depannya, teknologi dan rantai pasok industri solar panel dan baterai energy storage harus berkembang di Indonesia. "Listrik dari PLTS yang dihasilkan di Indonesia idealnya harus berasal dari panel surya yang dibuat di Indonesia. Indonesia harus mampu menjadi hub manufaktur di tengah transisi energi nasional dan dunia,” ucap Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi yang menyampaikan keynote speech dan menyaksikan penandatanganan kerja sama.
Rencananya, pemerintah Indonesia membangun jaringan transmisi kelistrikan dari wilayah Sumatera, Jawa, Kepulauan Riau, Batam, hingga Singapura seiring dengan rencana ekspor elektron atau listrik hijau ke Singapura sebesar 2 gigawatt (GW). “Dengan memanfaatkan peta jalan TKDN, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi hub manufaktur energi terbarukan di kawasan ini, termasuk proyek listrik lintas batas ke Singapura,” ucap Dharsono Hartono, Ketua Kamar Dagang dan Indonesia (Kadin) bidang Net Zero Hub.
Investasi Suntech Indonesia dan rantai pasoknya juga dinilai Shinta W. Kamdani, WKU Koordinator Bidang Kemaritiman, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia sebagai strategi percepatan pengembangan industri manufaktur panel surya dalam negeri agar tercipta nilai tambah hulu ke hilir dalam transisi energi.
“Keberadaan rantai pasok komponen PLTS yang kuat dan terintegrasi akan membuka akses industri ke energi terbarukan dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan adanya industri PLTS domestik, maka bisnis-bisnis ini dan ratusan bisnis lainnya di seluruh Indonesia mendapat akses listrik yang lebih murah, lebih bersih sehingga mampu membantu mereka memenuhi komitmen internasional dan memastikan tercapainya target net zero emission-nya,” tambah Shinta.
Langkah strategis Suntech Indonesia dalam penguatan rantai nilai industri panel surya Indonesia diharapkan tidak hanya untuk mencapai target bauran energi terbarukan, tapi juga menandakan bahwa Indonesia menguasai teknologi PLTS yang kompetitif.(*)