Majoo dan Misi Besar Adi untuk Digitalisasi UMKM
Adi Wahyu Rahadi, CEO sekaligus pendiri Majoo, memulai perjalanannya di dunia bisnis dengan latar belakang yang kuat di bidang teknologi serta pengalaman panjang di perusahaan besar seperti Telkomsel. Lulusan teknik yang memiliki minat besar terhadap inovasi digital ini telah menapaki karir korporat yang cemerlang sebelum memutuskan untuk terjun sepenuhnya sebagai entrepreneur.
Mencipta Solusi untuk UMKM
“Awalnya, saya sudah lama bermain di industri software untuk korporat, tetapi ada panggilan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang dapat berdampak langsung pada masyarakat luas,” ungkap Adi ketika berbicara mengenai keputusan pentingnya mendirikan Majoo dalam acara BizzComm Podcast, 17 September 2024. BizzComm adalah siniar kerjasama SWA dengan LSPR Faculty of Business.
Pada 2018, Adi memulai Majoo, sebuah platform digital yang ditujukan untuk membantu UMKM dalam mengelola bisnis mereka secara profesional melalui teknologi. Visi besarnya dalam mendirikan Majoo adalah menciptakan solusi yang dapat membantu UMKM di Indonesia berkembang dan bersaing di pasar yang semakin digital. Melalui Majoo, dia memiliki impian agar pelaku bisnis kecil tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi lebih profesional.
“Saya ingin membantu UMKM di Indonesia untuk naik kelas, sehingga mereka bisa mengelola bisnis mereka layaknya perusahaan besar, dengan tools yang sederhana namun powerful,” jelasnya.
Visi ini mencerminkan tekad Adi untuk memudahkan pengusaha kecil dalam mengakses teknologi yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh perusahaan besar melalui solusi ERP (Enterprise Resource Planning) yang mahal.
Motivasi untuk membangun Majoo bukan semata-mata karena peluang pasar, tetapi karena kebutuhan mendesak yang ia lihat secara langsung. Sebagai pelaku industri teknologi, ia berinteraksi dengan banyak pelaku usaha kecil yang masih menggunakan metode manual dalam mengelola bisnis mereka.
“Saya bertemu dengan banyak pemilik warung dan toko kecil yang mengatakan bahwa mereka kesulitan mengelola keuangan dan inventaris karena semua dilakukan secara manual. Itulah yang menjadi momen penting bagi saya untuk menghadirkan solusi yang bisa membantu mereka,” ujarnya.
Dari sini, dia berkomitmen untuk membawa perubahan dengan memberikan akses digital yang terjangkau bagi UMKM di seluruh Indonesia.
Namun, perjalanan Majoo tidaklah tanpa tantangan. Di awal berdirinya, Adi harus menghadapi resistensi dari pelaku UMKM yang masih merasa nyaman dengan cara konvensional. Edukasi menjadi salah satu hambatan terbesar yang harus dihadapi oleh Majoo. Banyak pemilik usaha kecil yang belum menyadari pentingnya teknologi dalam membantu mereka mengelola bisnis secara lebih efisien.
“Kami harus turun langsung, menjelaskan secara detail bagaimana teknologi ini akan membantu mereka. Ini bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga mengubah mindset,” katanya.
Di tengah tantangan tersebut, Adi dan timnya tetap berkomitmen untuk terus mendidik pasar dan memastikan bahwa solusi mereka benar-benar dapat memberikan dampak positif bagi para pengusaha kecil.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, dia melakukan inovasi dalam model bisnis Majoo. Jika sebelumnya UMKM hanya menggunakan aplikasi POS (Point of Sale) untuk mencatat penjualan, Majoo memperluas layanan mereka dengan menambahkan fitur-fitur lain seperti pengelolaan inventaris, keuangan, hingga manajemen karyawan.
“Kami tidak hanya menyediakan alat untuk mencatat transaksi, tetapi juga solusi menyeluruh untuk membantu mereka mengelola bisnis secara lengkap,” jelas Adi.
Dengan model bisnis berbasis langganan, Majoo memungkinkan UMKM mengakses teknologi yang sebelumnya hanya tersedia untuk perusahaan besar, namun dengan biaya yang terjangkau.
Kolaborasi dan Keterbukaan
Dari sisi kepemimpinan, Adi mengusung filosofi manajemen yang berpusat pada kolaborasi dan keterbukaan. Ia percaya bahwa tim yang kuat adalah kunci kesuksesan perusahaan, sehingga budaya kerja yang mendukung inovasi dan keterbukaan menjadi sangat penting.
“Saya ingin setiap orang di Majoo merasa memiliki, merasa bahwa mereka adalah bagian penting dari perjalanan ini. Inovasi hanya bisa lahir dari lingkungan yang mendorong kebebasan berpikir dan berekspresi,” katanya.
Filosofi ini terbukti berhasil menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan kreatif, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan pesat Majoo.
Toh selama perjalanan lima tahun Majoo, Adi tidak luput dari kegagalan dan kesulitan. Namun, ia melihat setiap kegagalan sebagai pelajaran berharga yang membantunya memperbaiki strategi bisnis.
Salah satu kegagalan yang dihadapi adalah ketika Majoo mencoba memperluas fitur yang ternyata belum siap diterima pasar. “Kami pernah mengembangkan fitur yang ternyata tidak terlalu dibutuhkan oleh pelanggan. Dari situ kami belajar bahwa penting untuk selalu mendengarkan kebutuhan pasar dan melakukan validasi sebelum meluncurkan inovasi baru,” dia mengungkap.
Pelajaran ini membuatnya lebih bijak dalam merencanakan inovasi, memastikan setiap langkah bisnisnya didasarkan pada kebutuhan nyata pelanggan.
Dampak Sosial
Majoo juga telah mencatatkan berbagai pencapaian luar biasa selama perjalanannya. Dengan lebih dari 45.000 pengguna yang tersebar di 600 kota di Indonesia, Majoo telah menjadi salah satu platform digital terdepan untuk UMKM. “Kami sangat bangga bisa melayani ribuan UMKM di seluruh Indonesia. Setiap kali kami melihat bagaimana teknologi kami membantu bisnis kecil tumbuh, itu menjadi pencapaian terbesar bagi kami,” kata Adi.
Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari jumlah pengguna, tetapi juga dari dampak sosial yang dihasilkan Majoo dalam memberdayakan pelaku usaha kecil.
Kolaborasi menjadi faktor kunci keberhasilan Majoo. Adi menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta, untuk memperluas akses teknologi bagi UMKM. Kolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UMKM, misalnya, membantu Majoo dalam menjangkau lebih banyak pelaku usaha yang membutuhkan solusi digital.
“Kami selalu terbuka untuk berkolaborasi. Bagi kami, semakin banyak pihak yang mendukung, semakin besar dampak yang bisa kami ciptakan bagi UMKM,” jelasnya.
Melihat ke masa depan, lelaki yang memiliki suara tegas ini memiliki rencana ambisius untuk Majoo. Ia ingin Majoo menjadi solusi digital nomor satu bagi UMKM di Asia Tenggara, sekaligus memperluas dampaknya ke negara-negara lain di kawasan ini. “Kami melihat Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara, dan kami ingin membawa Majoo ke level berikutnya dengan memperkenalkan solusi kami ke negara-negara tetangga,” ungkapnya.
Selain itu, dia juga berencana untuk terus mengembangkan fitur-fitur baru yang akan semakin memudahkan pelaku usaha kecil dalam mengelola bisnis mereka.
Di luar sisi bisnis, Adi sangat peduli terhadap dampak sosial yang dihasilkan oleh Majoo. Ia melihat bahwa digitalisasi UMKM tidak hanya membantu para pengusaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Sebab, dengan membantu UMKM tumbuh, dirinya juga membantu menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Menurutnya, ini adalah dampak sosial yang sangat penting bagi Majoo. Visi ini menunjukkan betapa pentingnya peran Majoo dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Indonesia.
Dengan segala pencapaian yang telah diraih, Adi dan tim Majoo tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan mereka. Optimisme Adi terhadap masa depan Majoo tercermin dari setiap keputusan strategis yang diambilnya.
“Kami baru memulai, dan masih banyak yang bisa kami lakukan untuk membantu lebih banyak UMKM di seluruh Indonesia. Saya yakin kami berada di jalur yang benar,” tutupnya dengan penuh keyakinan. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.