Sentuhan Generasi Kedua dalam Pengelolaan Binawan Group
Selama 47 tahun Binawan Group bertahan sebagai pemimpin jasa pengiriman ratusan ribu tenaga kerja ke lebih dari 30 negara. Bagaimana kepemimpinan perusahaan di tangan generasi kedua?
Berawal dari Tenaga Teller
Jalan Dewi Sartika, Cililitan, Jakarta Timur menjadi kawasan bersejarah bagi Binawan Group. Di daerah itulah terekam perjalanan dirintisnya bisnis Binawan yang mulanya menggeluti jasa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri dengan kantor sederhana, hingga kini berkembang menjadi banyak unit usaha dengan beberapa gedung megah di atas lahan seluas 1,8 hektare. Antara lain ada gedung Universitas Binawan, Binawan Training Center, Binawan International Cabin Crew Academy, Klinik Binawan Nurtura Aesthetic & Wellness Center, dan Klinik Pratama Binawan.
Pertimbangan menggunakan nama Binawan sebagai brand ada dua. “Binawan menurut KBBI artinya pembina. Kan bisnis kami membina ribuan tenaga kerja. Selain itu, Binawan sebenarnya nama marga kami Al Waini, Bin Awwan (dibaca Binawan) yang asal-usulnya dari Yaman,” Said Saleh Alwaini, MBA, CEO Binawan Group yang juga generasi kedua Binawan Group, membuka cerita sejarah perusahaan keluarganya.
Said mengisahkan, cikal bakal Binawan dibesut oleh sang ayah, Ir. Saleh Alwaini (almarhum) pada 1977. “Sejarahnya sederhana, ayah saya diminta temannya saat berkunjung ke Indonesia, yaitu Syeh Sulaiman Ar Rajhi, pemilik Bank Ar Rajhi di Saudi Arabia, untuk mencarikan teller atau karyawan bank. Saat itu belum ada istilah PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) atau TKI (Tenaga Kerja Indonesia),” kata lulusan MBA dari University of Sydney, Australia, ini mengenang.
Sekali dikirimi tenaga teller, ternyata Syeh Sulaiman puas dan minta terus dikirimi tenaga kerja berikut diberi cek biaya operasional dan fee jasa pengurusan. Dari situlah akhirnya usaha pengiriman tenaga kerja ke luar negeri digarap lebih serius dan resmi mengibarkan bendera Binawan.
Kepiawaian Binawan dalam menyediakan tenaga kerja yang terampil itu pun terdengar lebih santer ke banyak pihak. Alhasil, permintaan terus meningkat, bahkan dari luar Arab Saudi, tapi masih masuk teritori Timur Tengah. Agar tenaga kerja yang dikirim berkualitas, founder Binawan berpikir bahwa mereka harus diberi pelatihan terlebih dahulu agar memiliki standar yang dibutuhkan pekerja di mancanegara.
Untuk itu, langkah berikutnya ialah mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) pada 1980-an. “Konsep BLK yang didirikan Binawan adalah pelopor di Indonesia. Sebab, kami yang memulai dan tidak ada persyaratan kewajiban dari pemerintah saat itu. Tujuan kami semata-mata untuk perlindungan pekerja,” kata pria berusia 33 tahun ini. BLK Binawan didirikan di Cipanas, Cianjur, Purwakarta, Jember, Lombok, juga di Sumatera dan Sulawesi.
Persaingan Lembaga Pengiriman TKI
Seiring berjalannya waktu, kesuksesan bisnis Binawan menginspirasi pelaku bisnis lain untuk terjun di jasa pengiriman TKI ke luar negeri. Akibatnya, bak jamur di musim hujan, di mana-mana muncul lembaga pengiriman TKI. Persaingan sengit pun tak terhindarkan, sehingga terjadi perang harga biaya pengurusan kerja ke mancanegara.
Kondisi tersebut seolah mengingatkan Binawan untuk memegang teguh prinsip mengutamakan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam setiap pengiriman TKI. Maka, pada 1989 Binawan mendirikan pusat pelatihan Binawan Training Center di Jakarta.
Pendirian training center ini juga untuk menjawab tantangan industri pengiriman TKI/TKW di luar negeri yang banyak terjadi kasus. “Jika ditelusuri, kasus TKI di luar negeri karena SDM kurang terampil, tidak bisa berkomunikasi, sehingga majikan kesal. Lalu, diusir atau dipulangkan ke Indonesia,” kata Said.
Karena itulah, Binawan Training Center dipersiapkan agar pekerja bisa “bela diri” saat menghadapi masalah dalam bekerja, misalnya siapa yang bisa dihubungi telepon atau diajak bicara jika ada masalah. “Jika semua syarat pekerja terpenuhi, majikan akan happy,” ujarnya.
Pentingnya pengelolaan SDM ini, menurut Said, sesuai dengan DNA awal Binawan, yaitu penguatan kompetensi. “Spirit founding father adalah edukasi, bukan sekadar kirim tenaga kerja. Dari awal, pendiri Binawan selalu menyiapkan TKI dengan baik, memberikan bekal ilmu dan skill,” katanya.
Satu lagi keputusan penting yang diambil oleh Binawan: sejak 1990-an tidak lagi mengirimkan tenaga asisten rumah tangga (ART) ke luar negeri. Langkah ini untuk menyikapi banyaknya kasus ART bermasalah dengan majikan di luar negeri. Dengan demikian, tonggak bersejarah ini menjadi debut Binawan untuk hanya mengirim tenaga profesional ke luar negeri, seperti perawat, pramugari, pekerja pabrik, pekerja green house, dan karyawan hotel. Hingga sekarang, sudah 130.000 pekerja profesional yang dikirim ke lebih dari 30 negara di Asia, Eropa, hingga Timur Tengah.
Merambah Bisnis Pendidikan hingga Restoran
Bermula dari jasa pengiriman TKI, bisnis Binawan Group berkembang merambah berbagai sektor. Meski demikian, Said Saleh Alwaini menggarisbawahi, kepak sayap Binawan menetapkan lima sektor sebagai lini binis utama.
“Fokus Binawan ada lima sektor: kesehatan, pariwisata/hospitality, teknologi informasi, agriculture, engineering-construction-manufacture,” ujarnya. Selain itu, di Binawan ada ekosistem business unit, bukan hanya penempatan pekerja ke luar negeri, tapi juga ada pelatihan, pendidikan formal, dan praktik lapangan.
Untuk pengiriman TKI, Binawan mendirikan PT Binawan Inti Utama pada 1977. Berikutnya, tahun 1989, mendirikan Binawan Training Center yang berpusat di Jakarta Timur.
Tahun 1997, Binawan merambah bisnis kesehatan dengan mengibarkan bendera Rumah Sakit Umum Menteng Mitra Afia di Jakarta Pusat. Empat tahun berikutnya, tahun 2001, memasuki bisnis pendidikan berbasis kesehatan dengan mendirikan STIKES Binawan, yang kini berubah namanya jadi Universitas Binawan. Berlanjut tahun 2018, mendirikan Klinik Pratama Binawan.
Hingga kini, Universitas Binawan memiliki sekitar 15 fakultas, antara lain Ekonomi Bisnis, Kesehatan Masyarakat, Sains dan Teknologi, Farmasi, Laboratorium Medis, Keperawatan dan Kebidanan, Kesejahteraan Sosial, serta Fisioterapi. Total lulusannya lebih dari 10.000 orang, gabungan sarjana dan diploma. Total mahasiswa sebanyak 2.200 orang, sedangkan mahasiswa tahun ajaran baru 2024/2025 sekitar 1.000 orang.
“Kelebihan Universitas Binawan, ada career path. Kami bekerjasama dengan banyak perusahaan di luar negeri untuk penempatan lulusan Binawan. Lebih dari 50% lulusan Binawan ditampung bekerja di mitra Binawan di luar negeri, sedangkan 50% lulusan menyatakan ingin bekerja di Indonesia, punya usaha sendiri, atau membantu keluarga,” ungkap Said.
Bidang food & beverage (F&B) juga dilirik Binawan dengan membuka resto ala Timur Tengah, Al Jazeerah Signature, tahun 2016. Sukses dengan cabang perdana Al Jazeerah di Menteng, berikutnya dibuka tiga gerai, tersebar di Bogor (Puncak), Jakarta, dan Bali.
Tak berselang lama, perusahaan merambah bisnis pertanian di bawah payung Binawan Agro. Di sini, Binawan melakukan budidaya (green house) multikultur sayuran dan buah untuk dipasok ke jaringan resto Al Jazeerah dan resto perusahaan lain, serta dijual ke pasar.
“Sebenarnya, tujuan awal kami adalah menjadikan tempat usaha resto dan kebun sayur untuk para peserta training Binawan bisa melakukan praktik langsung kerja lapangan. Jadi, begitu diberangkatkan ke luar negeri, mereka sudah siap bekerja di resto atau green house,” Said menjelaskan.
Mereka adalah lulusan SMK Agrikultur dan D-3 Agrikultur dengan potensi gaji Rp 20 juta - 30 juta sebulan. Sistem green house Binawan ini seperti yang diterapkan ke Kanada, Eropa.
Kemudian, Binawan masuk ke bisnis klinik kecantikan dengan mendirikan Nurtura Aesthetic & Wellness Center tahun 2017. Klinik ini menggarap segmen premium dengan biaya sekali treatment mulai Rp 1 juta hingga Rp 30 juta dengan sistem paket.
Pada 2022, Binawan menggarap bisnis teknologi informasi lewat bendera Techhub (Binawan Inti Technology) dan Jobshub (International Job Portal). Pada tahun yang sama, dibuka pertama kali kafe Shisha & Basboush untuk mewadahi para peserta training Binawan yang akan bekerja di kafe atau menjadi barista.
Tak berhenti di situ, tahun 2023 Binawan masih berekspansi dengan mendirikan Binawan Property yang mengelola sejumlah vila di Puncak, Bogor. Vila-vila ini selain dikomersialkan, juga sebagai fasilitas bagi peserta training Binawan yang praktik langsung dan akan bekerja di industri perhotelan. Tak ketinggalan, didirikan pula usaha Binawan Asset Management.
Unit usaha terbaru Binawan ialah Binawan International Cabin Crew Academy (BICCA), tahun 2023. Lembaga pendidikan ini untuk mendidik peserta training menjadi calon pramugari dengan lama pendidikan sekitar dua bulan dan biayanya Rp 28 juta.
Inti semuanya ialah human resources development, membangun kemampuan seseorang berstandar global agar bisa bekerja ke luar negeri. Dari proses ini, muncul pertanyaan: bagaimana orang Indonesia bisa bekerja ke luar negeri. Maka, dibentuklah training center. Termasuk saat itu founder mendapat permintaan untuk mengirim perawat ke Australia.
“Saat itu standar perawat Indonesia belum ada yang memenuhi kualifikasi Australia. Maka, solusi ayah saya ialah membuat lembaga pendidikannya agar memenuni persyaratan. Padahal, waktu itu, Binawan sudah kirim perawat ke Belanda dan Timur Tengah. Lalu, Binawan diminta kirim pekerja yang mampu berbahasa Jerman, maka kami buatkan kursus bahasa Jerman dan sebagainya,” Said memaparkan.
Dari belasan perusahaan Binawan Group, mana yang hasil inovasi Said? “Saya mendirikan BICCA. Banyak perubahan yang saya lakukan setelah bergabung,” kata Said.
Pertama, dari sisi teknologi atau teknologi informasi (TI), Binawan mendirikan data center, yang bertugas menjadi katalis ke sistem digitalisasi perusahaan. Binawan mulai masuk ke era digitalisasi yang semula dikelola secara manual. Hasilnya, Universitas Binawan mulai membuat Learning Management System (LMS), sistem akademik, pembelajaran dengan komputer, penempatan sistematis dengan komputer, serta pola belajar-mengajar dengan sistem online dan kini lanjut hybrid.
Perubahan kedua yang dilakukan Said, pengembangan training. Ketiga, mendirikan BICCA pada Desember 2023 yang diresmikan Menteri Tenaga Kerja RI Ida Fauziah sebagai sekolah pramugari. Mengapa? Sejak tahun 2008, Binawan telah menempatkan pramugari ke sejumlah maskapai asing, antara lain Qatar Airways. Tahun 2017 mulai mendapat permintaan dari Saudi Arabian Airlines, Qatar Airways, dan Gulf Air. Kebutuhan paling besar ialah pramugari.
Binawan juga dipercaya mitra untuk merekrut pramugari asal Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia untuk ditempatkan di Saudi Airlines, Qatar Airways, Gulf Air, dan penerbangan internasional lainnya. Cerita menariknya, mencari pramugari di Korea Selatan itu paling mudah, karena 99% pendaftar adalah lulusan sekolah pramugari selama dua tahun. Mereka memiliki attitude, postur, cara berkomunikasi, mental, cara jalan, cara berpenampilan, dan kemampuan berbahasa asing yang mumpuni.
“Dari sanalah, saya terinspirasi untuk mendirikan sekolah pramugari di Indonesia. Apalagi, di Indonesia itu potensinya besar karena kru Garuda Indonesia unggul di dunia. Jadi, saya tambah yakin jika nanti pramugari Indonesia bisa unggul di dunia,” ungkapnya. Langkah Binawan selanjutnya: akan membuka sekolah pramugari program D-1.
Gaya Kepemimpinan Generasi Kedua
Said Saleh Alwaini mengatakan, gaya leadership yang dia terapkan dalam memimpin perusahaan dengan karyawan lebih dari 1.000 orang ialah menggabungkan nilai-nilai yang sudah ditetapkan oleh generasi pertama dan inovasi kebijakan yang dia gulirkan setelah memegang tongkat estafet dari sang ayah.
“Saya resmi memimpin Binawan Group setelah ayah meninggal, April 2022. Tapi, saya terlibat di perusahaan sejak tahun 2014 setamat kuliah. Beberapa jabatan direktur dan komisaris dipegang oleh keluarga; ada kakak, ibu, paman, sepupu, saudara yang lain, serta sejumlah profesional. Kakak dan saya berbagi tugas, kakak mengurusi yang berkaitan dengan bidang kesehatan dan saya nonkesehatan,” tutur bos yang suka memberi contoh dan terlibat langsung jika memberikan tugas ke anak buah ini.
Sebenarnya, Said terlibat di perusahaan sejak SD, ketika dia ikut ayahnya bekerja di kantor, dengan membantu mengantar air minum. “Selanjutnya, semua urusan Abah saya yang mengerjakan sebagai asisten pribadi,” dia menambahkan.
Dalam memimpin, marwah yang diamanatkan oleh founder: Binawan selalu memikirkan karyawan dari awal bekerja hingga pensiun. Untuk itu, dikelompokkan: ada praduta (persiapan), penempatan (mengirimkan pekerja sampai berangkat), dan purna (bagaimana hidup pekerja ini setelah kembali ke Indonesia).
“Sekarang yang kami pikirkan ialah tenaga profesional. Bagaimana jika pekerja itu pulang ke Tanah Air, tetap dapat diserap kembali, seperti jadi tenaga pengajar, perawat, dan chef,” katanya.
Nilai-nilai legacy dari pendiri yang diwariskan ada tiga. Pertama, internasional. Soalnya, beberapa kejadian menunjukkan ada unit-unit bisnis yang bergeser visi internasionalnya, menjadi goyang. Akhirnya, founder selalu mengingatkan, dan bisnisnya jadi lurus lagi.
Kedua, akhlak. “Kata ayah, tidak ada gunanya meski bahasa Inggris jago, pintar, terampil, tapi tidak punya akhlak baik. Akhlak ini adalah karakter yang selalu ditanamkan, seperti nilai jujur dan sopan. Makanya, pola pelatihan Binawan dengan sistem asrama, agar mengetahui kehidupan sehari-hari peserta didik dan mendidiknya ke arah yang benar. Asrama di BLK sebagai pembentukan karakter atau mental yang berlokasi di Cipanas, Jawa Barat.
Ketiga, inovasi atau selalu menjadi pionir. Founder berpesan jika memasuki bisnis baru, haruslah jadi pelopor atau pendobrak yang sebelumnya tidak ada.
“Contoh, saat ayah menempatkan tenaga kerja ke Korea, itu adalah yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Binawan kirim pekerja ke pabrik gitar di Korea. Akhirnya, setelah 10 tahun bekerjasama dengan mitra bisnis di Korea, kerjasama dikelola oleh Pemerintah Indonesia dengan pola kerjasama Government to Government,” Said menguraikan.
Contoh lain, pengiriman perawat ke Singapura dipelopori Binawan. Perawat Binawan pertama kali dikirim ke negara-negara Eropa, lalu ke Jepang dan Singapura.
“Singapura itu sejarah perawat Indonesia bisa diterima kerja di sana, di rumah sakit Pemerintah Singapura. Sebab, sebelumnya standar pendidikan perawat di Indonesia tidak diakui,” ungkap Said.
Apa rahasia sukses bisnis Binawan? “Ayah kami bilang, sayangilah orang tua, maka Allah akan menjaga kita,” ucap Said menirukan pesan mendiang ayahnya.
Namun, Said menekankan, bagi founder Binawan, kesuksesan tidak melulu diukur dari kinerja keuangan. “Sampai beliau wafat, Binawan tidak memiliki direktur keuangan. Yang ada adalah catatan keuangan manual yang dilakukan tiap divisi. Nah, setelah saya jadi CEO, barulah dibentuk posisi direktur keuangan,” ungkapnya.
“Prioritas ayah saat itu ialah kebermanfaatan untuk orang lain. Contohnya, program Pak Saleh mengirim 200 tenaga perawat ke Australia yang menghabiskan dana ratusan miliar rupiah,” kata Said. Peserta sekolah perawat di Binawan gratis sampai dikirim ke Australia untuk biaya pengurusan visa, paspor, dan biaya hidup sementara selama satu bulan. Namun, banyak dari mereka setelah gajian sekitar Rp 80 juta sebulan tidak mau mencicil biaya pendidikan dan pengiriman ke Australia.
“Jika dianalisis, proyek pengiriman tenaga kerja ke Australia ini gagal. Namun, ayah saya tidak mau menghentikan, justru kami banggakan karena mampu menempatkan perawat ke Australia. Ini adalah yang pertama kali Indonesia menempatkan perawat ke Australia. Ini adalah program paling sukses dari sisi prestasi. Sayangnya, dari sini finansial ini adalah program yang menghancurkan Binawan karena nilainya ratusan miliar tidak kembali. Hanya sebagian kecil yang beritikad baik membayar,” Said memaparkan.
Belajar dari pengalaman itu, pola kerjasama diubah. Yaitu, dengan melibatkan perbankaan untuk pendanaan.
Terkait nilai omzet Binawan Group, Said tidak bersedia buka kartu. Yang jelas, kontribusi omzet berganti-ganti tiap unit bisnis, tergantung pada tren. Saat Covid-19, kontribusi bisnis kesehatan dan pendidikan mendominasi. Justru, restoran anjlok saat Covid-19, tapi pendapatannya stabil saat kondisi normal.
Menurut Said, kontribusi pendapatan ke holding dari divisi bisnis resto sekitar 20%, pendidikan (universitas) 15%, pelatihan 10%, penempatan pekerja ke luar negeri 10%, rumah sakit 20%, lain-lain 25%.
Ke depan, rencana pengembangan bisnis yang segera dilakukan Said setidaknya ada tiga. Pertama, membangun asrama. Kedua, mendirikan akademi komunitas, jenjang pendidikan D-1 dan D-2 untuk mencetak lulusan caregiver dan pramugari. “Kami mengirim tenaga pramugari sejak tahun 2008, hingga kini ada lebih dari 1.000 orang yang sudah dikirim.”
Ketiga, mendirikan rumah sakit pendidikan. Contohnya, Universiras Pelita Harapan punya Siloam Hospitals. Nah, Universitas Binawan akan membangun Rumah Sakit Binawan meski saat ini grup telah miliki RS Menteng Mitra Afia. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.