Panik
“Pemanfaatan terbaik dari kreativitas adalah imajinasi. Pemanfaatan terburuk dari panik adalah kecemasan.” ─ Deeprak Chopra
Seorang kawan, single parent, tergopoh-gopoh menelepon ke saya. Ia cerita bahwa tabungan pensiun satu-satunya yang diwariskan oleh almarhum suaminya terinformasikan telah lenyap dalam rombongan skandal Asuransi Jiwasraya. Tentu ia sangat panik. Anak masih butuh biaya kuliah. Dan, tabungan ludes.
Saya juga mendengar langsung kepanikan pasangan suami-istri. Bak disambar petir, mereka mendengar anak mereka ikut hilang dalam suatu pendakian gunung. Anak lelaki semata mayang itu diinfokan tak diketemukan dalam pencarian oleh regu penyelamat.
Panik, karena baru sadar bahwa dompet kita tertinggal di rumah makan atau mungkin dicopet, adalah penghasil kegalauan hati dan pikiran yang sangat tak nyaman.
Anda pernah merasakan kejadian nyaris celaka dalam situasi terjebak dalam lift yang tiba-tiba macet? Waswas, takut, panik. Begitu semua terselamatkan, lift lancar lagi, suasana lega, mencair menyenangkan.
Namun, kadang ada saja yang melihat kejadian semacam itu sebagai drama sesaat, sebagai drama komedi. Padahal, “Sangat tidak sopan ketika orang berbicara serangan panik, dipandang hanya seolah mereka mengalami sedikit cegukan.”
Masih ingat pertandingan final Piala Dunia 2022 di Qatar? Final sepakbola paling mendebarkan dalam sejarah pertandingan puncak antarnegara. Dalam menit-menit akhir perpanjangan waktu, Mbape dari Prancis sukses menjebol gawang Argentina, dari 3-2 menjadi 3-3. Mereka maju ke babak adu penalti. Nampak kegelisahan besar di kubu Argentina. Mereka panik. Angel de Maria, gelandang Argentina, bahkan menangis saat itu.
“Panik itu sangat menular. Terutama dalam situasi ketika tiada suatu pun yang diketahui, dan semuanya mengalir deras,” kata Stephen King.
Penyebab panik pada umumnya datang mendadak, sebagai suatu kejutan. Kita kehilangan sesuatu yang penting, sangat penting bahkan, dan kita menyayangi sesuatu itu.
Namun, ada juga panik yang timbul tidak dalam kejutan mendadak, tidak sekonyong-konyong. Ia bisa datang dalam rentang waktu yang pelahan.
Pembunuh sukses menyembunyikan diri dari kejaran polisi sekian tahun. Dalam banyak kisah, ia tak lepas dari waswas akan ancaman tertangkap. Ia mudah panik bila mendengar sirene kendaraan polisi.
Para pelaku aneka rupa kejahatan, yang dalam kurun waktu panjang terbebas dari cengkeram hukum, karena faktor-faktor “kekebalan” hukum yang dimilikinya, akan tetap punya rasa waswas, bahkan panik, manakala senja menjelang. Manakala “kekebalan” hukumnya melemah dan akhirnya lenyap. Karena, tak ada pesta yang tak berakhir.
Kepanikan memang merupakan salah satu jenis penderitaan manusia yang kadang tak terelakkan. Kaget, khawatir, sedih, takut, gelisah bercampur aduk, membuat kondisi kejiwaan memburuk. Membuat orang merasakan derita yang bisa jadi lebih menyakitkan ketimbang sakit jasmani. Kondisi yang benar-benar membuat makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Ada petuah, “Jangan mengasumsikan seseorang yang terkena serangan panik sebagai orang lemah. Anda perlu merenungkan, betapa besar kekuatan yang dibutuhkan untuk mengarungi kehidupan dunia setiap harinya.”
Bahkan, kepanikan yang amat tak terkendali dalam rentang waktu tertentu, akan melahirkan kesedihan dan ketakutan berkepanjangan. Ia bisa berujung pada penyakit depresi atau gangguan kejiwaan lain-lain yang lebih parah dan menyengsarakan.
Berikut, nasihat bijak Vannevar Bush, seorang insinyur dan ilmuwan di masa Perang Dunia II, “Ketakutan dan kesedihan tak dapat dibuang. Ia hanya bisa diredakan dengan pelan-pelan, tanpa panik; dengan mitigasi alasan-alasan sesuai akal sehat.” (*)
*) Pongki Pamungkas, Penulis