NPG Indonesia: Menjaga Kelestarian Alam dan Budaya Bali Adalah Tanggung Jawab Kita Bersama

Ecoverse, proyek perdana NPG Indonesia yang mengusung konsep Tri Hita Karana (Foto: NPG Indonesia)

Pesatnya pembangunan properti di Pulau Dewata telah menjadi perhatian NPG Indonesia, perusahaan pengembang properti yang berbasis di Bali. Perusahaan ini berbagi pandangannya terkait kondisi tersebut.

“Bali telah menjadi destinasi wisata utama Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, terutama pasca pandemi COVID-19, di mana kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, melonjak tajam,” ungkap Evgeny Obolentsev, General Manager NPG Indonesia, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 14 Oktober 2024.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bali dan Kantor Otoritas Pariwisata Bali, yang dirilis pada Agustus 2024, tercatat 2.910.679 wisatawan mancanegara mengunjungi Bali pada semester pertama tahun ini, meningkat 23,59% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Wisatawan domestik pun terus meningkat, dengan 898.355 pengunjung pada Juni 2024, melebihi jumlah pengunjung pada periode 2020-2023.

Hingga Juni 2024, wisatawan asal Australia masih mendominasi kunjungan ke Bali dengan persentase 24,11%, sementara wisatawan dari India dan China menunjukkan pertumbuhan tertinggi.

Menurut Evgeny, peningkatan ini juga tercermin dari bertambahnya layanan penerbangan langsung ke Bali oleh maskapai internasional. Pada 25 Juni 2024, Etihad Airways meluncurkan penerbangan langsung Bali - Abu Dhabi untuk pertama kalinya. Rute ini disambut dengan antusias oleh wisatawan internasional, yang terbukti dari peningkatan frekuensi penerbangan hanya tiga bulan setelah penerbangan perdana ke Denpasar.

Peningkatan permintaan perjalanan dari Abu Dhabi juga diperkirakan akan terus tumbuh, dengan rencana peningkatan frekuensi penerbangan ke Jakarta pada April 2025 menjadi dua kali sehari.

“Hal ini tentu saja memberikan dorongan yang luar biasa terhadap pertumbuhan industri properti di Bali secara signifikan, khususnya pembangunan vila dan hotel guna mengakomodasi peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali,” jelasnya.

Berdasarkan data BPS Bali, tingkat penghunian kamar (TPK) pada hotel berbintang di Bali mencapai 52,71% pada April 2024, meningkat 13,38% dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 44,31%. Evgeny juga menyoroti minat wisatawan terhadap area baru seperti Seseh, Kedungu, Cemagi, dan Tabanan sebagai indikasi peluang baru di sektor properti.

Menjaga Keseimbangan Antara Pembangunan dan Kelestarian Alam

“Pertanyaan penting yang sering muncul adalah: bagaimana menyikapi perkembangan industri properti di Bali sambil tetap menjaga kelestarian alam dan budaya Bali itu sendiri?” ujar Evgeny Obolentsev.

Menurutnya, jawaban bukanlah menolak pariwisata, karena pariwisata telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Bali. “Yang diperlukan adalah keseimbangan. Bagaimana Bali tetap menjadi surga tropis bagi wisatawan tanpa mengorbankan alam dan budaya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menerapkan regulasi yang ketat terkait zonasi dan kepemilikan lahan. “Zonasi sangat krusial agar tidak terjadi tumpang tindih penggunaan lahan, yang bisa merugikan semua pihak yang terlibat,” jelasnya.

Selain itu, rencana pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Bali, seperti proyek transportasi massal MRT dan LRT, akan sangat membantu mengatasi kemacetan dan mengurangi emisi gas kendaraan bermotor, yang menjadi masalah sehari-hari di Bali.

Proyek Ecoverse: Gabungkan Keberlanjutan dengan Konsep Tri Hita Karana

Di Tengah kondisi seperti itu, NPG Indonesia berkomitmen untuk mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap proyeknya. Dalam proyek hunian terbaru mereka, Ecoverse, yang dijadwalkan selesai pada Kuartal Keempat 2025, NPG menerapkan konsep Tri Hita Karana. Prinsip ini menitikberatkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Dalam membangun proyek hunian, kami berusaha mempertahankan area hijau dan pepohonan yang ada, sehingga bisa mencapai 50% area hijau dari total pembangunan. Ini merupakan tantangan tersendiri,” ujar Evgeny.

Ecoverse, sebuah kompleks hunian di daerah Nyanyi, Bali, yang terdiri dari 34 unit apartemen dan 16 unit townhouse dengan 2 dan 3 lantai, dirancang dengan fitur keberlanjutan seperti penggunaan panel surya, sistem pengolahan sampah, filter air osmosis, dan Rain Water Trap. Proyek ini tidak hanya mengutamakan kenyamanan bagi penghuninya, tetapi juga berupaya selaras dengan alam sekitar. Sebagian besar tenaga kerja yang membangun proyek ini adalah pekerja lokal, yang juga memberikan kesempatan untuk memahami budaya dan kearifan lokal Bali.

“Sementara itu, kami bisa mengalihkan keahlian kami dari Eropa dalam mendirikan bangunan. Hal ini sangat penting bagi kami agar tercipta keseimbangan yang harmonis antara pertumbuhan pariwisata dengan alam dan budaya Bali itu sendiri,” pungkasnya. (*)

# Tag