Kaisae: dari Tanah Jawa ke Pulau Dewata
Nurfinayati masih mengingat betul rasa pahit-manis yang dialami selama meniti perjalanan bisnisnya. Pada tahun 2017, penuh harapan dan keyakinan, ia mendirikan Greenbelt, sebuah usaha yang berfokus pada suvenir pernikahan berbahan kayu dan bambu dengan model bisnis B2C. Nahas, ketika Pandemi Covid-19 melanda bumi pada tahun 2020, bisnis Greenbelt goyah diterpa badai yang tak terduga.
Kondisi tersebut tak menjadikan Nurfinayati pasrah. Dia tak rebah. Dengan tekad yang kokoh, ia mencari jalan keluar agar bisa tetap bertahan di pasar. Akhirnya Nurfinayati melakukan rebranding dari Greenbelt menjadi Kaisae. Perubahan ini tidak hanya mengganti nama, tetapi juga menggeser model bisnisnya ke B2B dan B2G, dengan produk yang bertransformasi menjadi hampers, dengan tetap setia menggunakan bahan baku kayu dan bambu.
Surga Bahan Baku
Sejalan dengan upaya rebranding tersebut, dalam hal pengadaan bahan baku, Kaisae membangun hubungan erat dengan para pengrajin dari berbagai kota di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali, dengan total kemitraan mencapai 30-50 pengrajin. Kayu jati adalah jenis kayu yang paling sering digunakan, meskipun Kaisae juga terbuka pada penggunaan jenis kayu lain sesuai kebutuhan. Sementara untuk jenis bambu, Kaisae lebih memilih bambu berdiameter besar seperti bambu hitam dan bambu api.
Saat kayu dan bambu akan diolah, perlu dipastikan terlebih dahulu keduanya dalam kondisi kering. Sebab kondisi tersebut lebih mengkerut, lebih kuat, dan lebih mudah dibentuk. Kayu dan bambu juga harus terhindar dari berbagai macam penyakit agar kualitas produknya tetap bagus hingga sampai ke tangan konsumen.
Pemasaran yang Matang
Selain pengelolaan bahan baku yang matang, Nurfinayati juga sangat memperhatikan aspek pemasaran. Untuk menembus pasar B2B dan B2G, dia memastikan Kaisae selalu mengutamakan kualitas produk. Baginya, kualitas adalah cerminan dari portofolio yang akan menarik perhatian segmen pasar tersebut. Portofolio ini diunggah melalui situs resmi, media sosial, hingga marketplace.
Dalam hal pelayanan, kecepatan juga menjadi fokus utama Kaisae. “Mereka biasanya butuh kecepatan untuk memproduksi, untuk melakukan pemesanan, sehingga kecepatan itu yang kami akomodir dengan adanya produk-produk yang lebih ready stock. Jadi produk ready stock, kemudian juga kami juga melakukan produksi sendiri, sehingga banyak hal-hal yang bisa kami profit dengan cepat,” jelas Nurfinayati, Selasa (8/10/2024).
Namun, tantangan dalam berbisnis tidak hanya datang dari internal perusahaan, karena pasar B2B dan B2G biasanya melakukan pembayaran secara administratif yang tidak langsung. Kaisae menyadari hal ini dan menyediakan berbagai metode pembayaran untuk mengakomodasi kebutuhan konsumennya.
Gempuran Pesaing
Tidak hanya menghadapi kompleksitas pembayaran, persaingan bisnis hampers kini semakin ketat. Penggunaan bahan baku kayu dan bambu, yang dahulu menjadi keunikan Kaisae, kini mulai dilirik oleh banyak pemain lain. Di tengah persaingan yang semakin sengit, Nurfinayati percaya bahwa inovasi adalah kunci.
Untuk menghadapi kompetisi tersebut, dia terus berinovasi dalam mengembangkan produk. Bagi Nurfinayati, inovasi produk adalah kunci untuk menjaga Kaisae tetap relevan. Tak jarang dia berkeliling mencari pusat-pusat produksi lokal untuk mendapatkan wawasan dan inspirasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Selain inovasi produk, peningkatan pelayanan kepada konsumen juga menjadi strategi penting dalam menjaga keunggulan Kaisae. Dengan pelayanan yang lebih baik, pelanggan tidak hanya puas tetapi juga mendapatkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Terakhir, perluasan pasar menjadi fokus Kaisae, memberikan akses mudah kepada konsumen melalui berbagai platform, mulai dari situs resmi, media sosial, hingga marketplace.
Persiapan Ekspor
Sebagai bukti dari pertumbuhan bisnis yang signifikan, Kaisae kini bersiap untuk menembus pasar ekspor. Dengan menargetkan negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura pada tahun 2025, Kaisae memperluas cakupan bisnisnya lebih jauh dari pasar lokal.
Untuk mendukung ambisi ekspor ini, Bali dipilih sebagai gerbang utama. Menurut Nurfinayati, Bali memiliki potensi besar karena sering menjadi tuan rumah berbagai acara internasional. Meskipun saat ini Kaisae baru melayani konsumen B2B untuk acara internal perusahaan, pengiriman pesanan ke Bali terus meningkat.
“Dalam satu bulan bisa lebih dari lima acara, sehingga mungkin lebih dari lima kali pengiriman yang tergantung karena season yang sudah di akhir tahun. Kini sudah makin banyak pengiriman (pesanan) ke Bali,” pungkasnya. (*)