Dampak Judi Online Bikin Daya Beli Turun, Memangkas Pengeluaran Kebutuhan Rumah Tangga

Yuswohady, Managing Partner Inventure dalam Press Conference Indonesia Industry Outlook 2025 dengan tema Indonesia Market Outlook 2025: Kelas Menengah Hancur, Masihkah Bisnis Mantul? secara daring, Selasa (22/10/2024). (Tangkapan layar : Dok).

Judi online (judol) menjadi isu yang krusial di kelas menengah. Judol bukan hanya soal hiburan. Ini merupakan ancaman serius bagi kestabilan finansial keluarga. Dengan kemudahan akses dan berbagai platform yang menjamur, banyak orang yang terjerat dalam ilusi cepat menjadi kaya. Kegiatan judol menjadi marak karena tidak perlu bertatap muka atau datang ke lokasi bandar. Cukup menggunakan gawai yang tersambung dengan internet dan hanya menyertakan nomor rekening bank atau dompet digital serta e-mail sudah bisa mendapatkan akun di situs judi.

Berdasarkan riset Inventure 2024 mengidentifikasi dampak judi online terhadap kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan survei terhadap kelompok ini, ditemukan bahwa 14% dari mereka pernah terlibat dalam aktivitas judi online. Dari kelompok ini, 69% terpaksa mengurangi pengeluaran rumah tangga demi menutupi hutang yang muncul akibat penggunaan pinjaman online.

“Data ini menunjukkan bahwa dampak finansial dari judi online tidak hanya berimbas pada kondisi keuangan pribadi, tetapi juga memaksa kelas menengah untuk memangkas kebutuhan dasar dan rekreasi keluarga.” ucap Yuswohady, Managing Partner Inventure pada jumpa pers virtual Indonesia Industry Outlook 2025 di Jakarta, Selasa (22/10/2024).

Riset tersebut menujukkan kemudahan akses judi online melalui smartphone dan platform digital, serta penawaran pinjaman online yang semakin marak, menjadi kombinasi yang berpotensi membahayakan stabilitas keuangan rumah tangga kelas menengah. Terjebak dalam lingkaran hutang akibat pinjol membuat mereka harus melakukan penyesuaian drastis dalam pengelolaan keuangan, memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Sumber : Inventure.

Selain itu, satu dari lima kelas menengah pernah bermain judol dan berdampak pada pada pemangkasan pengeluaran rumah tangga. Adapun pengeluaran rumah tangga yang dipangkas kelas menengah, uang rokok sebanyak 79%, uang makan 72% dan uang hiburan 72%. Akibatnya, sebagian besar kelas menengah yang bermain judol tidak mampu membayar cicilan rumah, mobil bahkan tidak bisa menyekolahkan anak.

Tampak jelas, ​judol membawa berbagai bahaya ekonomi yang signifikan. Dampak finansial pada individu dan keluarga, penurunan produktivitas, pengurangan pendapatan lokal, biaya sosial dan kesehatan, serta risiko pencucian uang. Bunga pinjaman yang diberikan sangat tinggi dan denda yang tidak transparan. Belum lagi ada rasa ketakutan akan ancaman karena tidak melunasi saat jatuh tempo dan rasa malu terhadap keluarga dan komunitasnya telah mengganggu kesehatan mental dan fisik.

Oleh karena itu, upaya dalam pemberantasan judol harus dilakukan secara aktif dan profesional karena akses ke situs-situs tersebut masih bisa ditemukan. Menjadi ancaman yang sangat serius sebab mereka yang terjebak pinjol karena uangnya digunakan untuk bermain judol. Banyaknya orang yang terjebak dalam lingkaran utang l dan sulit lepas dari kebiasaan judol ini memicu masalah ekonomi dan psikologis di masyarakat. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag