Masih Dibekap Kerugian, Ini Strategi Acset Indonusa (ACST) Turnover

Perusahaan bidang konstruksi bangunan terafiliasi Astra, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) mencatatkan rugi bersih senilai Rp286,07 miliar pada kuartal III/2024. Ini meningkat 89,16% dari periode sebelumnya sebesar Rp151,61 miliar.

Direktur PT Acset Indonusa Tbk, David Widjaja mengungkapkan, kerugian itu berasal dari kenaikan biaya operasional dari proyek-proyek pekerjaan perusahaan. Perusahaan juga masih mengerjakan salah satu proyek yang sedang berjalan.

“Strategi kami ke depan adalah kami tetap meningkatkan proyek-proyek atau mendapatkan proyek-proyek baru, di mana proyek baru yang kami peroleh itu bisa memberikan kontribusi atau profitabilitas,” jelas David dalam pemaparan publik ACST pada Kamis (31/10/2024) secara daring (online).

David melanjutkan, ACST tetap menggunakan strategi untuk mencari pasar-pasar yang existing sekarang. Pasar yang dituju adalah pembangunan fasilitas pusat data, kesehatan, dan beberapa pekerjaan sipil di area pertambangan. Perusahaan juga tetap mengoptimalkan arus kas operasional, di samping tetap melanjutkan proyek yang digarap saat ini.

“Target kami ke depan adalah kami tetap aktif mencari peluang baru dari bisnis inti kami, [yaitu] dari fondasi, maupun dari struktur dan infrastruktur,” pungkas David.

Manajemen ACST mengungkapkan, perusahaan tahun ini tengah memfokuskan diri dengan peluang tender pusat data yang memiliki permintaan cukup tinggi. Proyek pusat data, menurut manajemen ACST, menyumbang peningkatan pendapatan pada segmen struktur. Selain itu, segmen infrastruktur dari proyek pembangunan jalan tol menyumbang peningkatan perusahaan.

Pendapatan bersih ACST pada kuartal III/2024 tercatat sebear Rp2,11 triliun, naik 33,57% dari periode sebelumnya sebesar Rp1,58 triliun. Pendapatan itu disumbang dari pihak ketiga terdiri dari jasa konstruksi sebesar Rp1,36 triliun dan jasa penunjang konstruksi sebesar Rp226,99 miliar. Kemudian, pihak berelasi terdiri dari jasa konstruksi Rp487,73 miliar dan jasa penunjang konstruksi sebesar Rp28,54 miliar.

Adapun beban pokok pendapatannya mengalami kerugian sebesar Rp2,16 triliun, meningkat 38,60% dari sebelumnya senilai Rp1,56 triliun. Beban itu berasal dari subkontraktor bahan baku, biaya tenaga kerja, overhead, sewa alat, penyusutan, jasa profesional, provisi, biaya persediaan, dan lain-lain. Sementara beban penjualan pun turut meningkat menjadi Rp22,92 miliar dari sebelumnya Rp6,84 miliar.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag