Seremoni

“Setiap seremoni Tahun Baru saya selalu punya pertanyaan, bagaimana saya pulang nanti?” -- Super Chef Melanie White
Di mana pun, di belahan dunia mana pun, ada suatu momen dalam komunitas yang lazim disebut sebagai “celebration”, seremoni atau upacara, atau perayaan.
Wikipedia mengartikannya sebagai “Rangkaian tindakan yang direncanakan dengan tatanan, aturan, tanda, atau simbol kebesaran tertentu. Pelaksanaan upacara menggunakan cara-cara yang ekspresif dari hubungan sosial terkait dengan suatu tujuan atau peristiwa yang penting”.
Dalam skala paling kecil, bagi beberapa kalangan, hari ulang tahun, di usia tertentu, adalah hari yang patut dirayakan sehebat mungkin. Diselenggarakan di hotel mewah, dengan perencanaan yang rapi, memakai jasa event organizer (EO).
Pandangan berseberangan diajukan oleh beberapa kalangan lain. Hari ulang tahun cukup dicatat dan diingat sebagai hari bertambahnya usia. Tak perlu pesta perayaan ultah. “Seremoni adalah ide yang mungkin tak cocok dengan Anda. Anda perlu sesuatu yang lain yang cocok. Cobalah untuk tetap unik,” kata Betsey Johnson, pebisnis produk fashion wanita.
“Pernikahan amat penting, karena di situ dirayakan kehidupan dan segala kemungkinan,” kata Anne Hathaway. Ini pandangan yang pro-seremoni dari seorang bintang film cantik pemeran film The Devils Wear Prada.
Seremoni, pada dasarnya, ada di mana-mana, kapan saja, oleh dan untuk siapa saja. Seremoni di pemerintahan, dalam kehidupan adat, di kalangan keagamaan, dalam kehidupan keluarga.
Ada juga seremoni pelantikan pejabat. Seremoni peresmian gedung atau infrastruktur lainnya. Seremoni adat untuk rupa-rupa kejadian. Kelahiran, pernikahan, kematian. Seremoni-seremoni serupa dalam keagamaan. Dan banyak lagi, tak terhitung.
Sekadar suatu catatan pembelajaran soal seremoni adalah prinsip “substansi seremoni ―niat, tujuan, kemanfaatan― harus dijaga kuat, sementara bungkus tak perlu berlebihan”. Menjadi kemubaziran yang menyesakkan bila niat baik dan tujuan dasar seremoni larut serta lenyap ditelan oleh aura semarak dan megahnya seremoni.
Niat pernikahan secara mendasar adalah seremoni untuk berdoa bersama, mengucapkan selamat atas dimulainya kehidupan sang mempelai. Agar sang mempelai menjadi pasangan yang sakinah, mawadah, warakhmah. Bukan suatu pameran kemewahan gaya hidup di tengah kehidupan masyarakat yang mayoritas masih dalam kemiskinan.
Niat seremoni peresmian suatu gedung adalah pernyataan ke publik bahwa gedung sudah mulai dibangun atau bahkan sudah mulai dioperasikan. Sekaligus sebagai usaha doa bersama agar gedung tersebut menjadi wahana yang baik dan bermanfaat, serta aman selalu.
Seremoni dalam hal ini bukan sekadar sebagai pameran ego atau kehebatan diri. Bukan sekadar unjuk diri dan busung dada secara sosial politik.
Lebih jauh Bill Gates menuturkan pandangannya, “Oke-oke saja menyelenggarakan upacara perayaan sukses. Tapi jauh lebih penting memperhatikan pembelajaran dari kegagalan-kegagalan.”
Gates bahkan mengingatkan bahwa seremoni bukanlah hal utama. Seremoni adalah sekadar suatu titik perjalanan hidup yang tak harus diistimewakan. Meraih sukses adalah hal utama.
Satu poin penting dari kutipan Wikipedia di atas, “Pelaksanaan upacara menggunakan cara-cara yang ekspresif dari hubungan sosial terkait dengan suatu tujuan atau peristiwa yang penting.” Di sini, yang perlu menjadi keutamaan adalah “hubungan sosial” yang berkaitan dengan suatu tujuan yang penting.
Secara sederhana, ucapan Charlize Theron, artis pemenang Oscar, pemain film top Italian Job, membantu menjelaskan, “Saya memelihara hubungan-hubungan saya, seperti memelihara pernikahan. Upacara-upacara tidak penting bagi saya.” (*)
*) Pongki Pamungkas , Penulis