Tren EBT Memacu Investor Meminati IPO Perusahaan Energi Terbarukan
Analis pasar modal memproyeksikan energi baru terbarukan (EBT) akan terus menjadi tren baik di Indonesia maupun global. Hal ini akan menjadi sentimen positif bagi perusahaan energi terbarukan yang akan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Presiden Prabowo Subianto dalam lawatannya ke China, Amerika Serikat, Inggris, Uni Emirat Arab, KTT APEC di Peru dan KTT G20 di Brasil belum lama ini juga menyampaikan komitmen Indonesia dalam mendorong energi terbarukan. Komitmen Indonesia menuju 75 gigawatt (GW) energi terbarukan pada 2040 juga disampaikan dalam Conference of the Parties (COP) 29 di Azerbaijan.
Hans Kwee, ekonom keuangan dan praktisi pasar modal, melihat bahwa tren global dan komitmen pemerintah Indonesia dalam mendorong pengembangan energi terbarukan akan menjadi sentimen positif bagi perusahaan EBT yang akan go public. Tren tersebut, kata dia, bisa menjadi daya tarik bagi investor terhadap IPO perusahaan energi terbarukan.
“IPO perusahaan energi terbarukan cenderung akan diminati investor mengingat prioritas pemerintah Indonesia dan global dalam mendorong lingkungan berkelanjutan termasuk salah satunya melalui penggunaan energi ramah lingkungan. Tren global serta komitmen dan kebijakan pemerintah Indonesia akan menjadi sentimen positif bagi perusahaan EBT yang akan go public,” kata Hans Kwee, Rabu (11/12/2024).
Komitmen pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan sejalan dengan target karbon netral (net zero emission) pada 2060 atau lebih cepat, target bauran energi bersih 23% pada 2025 dan 40% pada 2030. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyatakan, dalam draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2024 – 2033 target bauran energi bersih minimal 60%. Hal ini juga diperkuat dengan komitmen PT PLN (Persero) untuk melibatkan swasta dalam pembangunan pembangkit EBT dengan kontribusi hingga 60%.
Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan. Berdasarkan data Kementerian ESDM per semester II/2024, potensi energi terbarukan di tanah air sebesar 3.687 GW, tetapi pemanfaatan baru mencapai 0,3% atau sekitar 13.781 megawatt (MW). Potensi tenaga surya 3.294 GW, baru dimanfaatkan 675 MW. Kemudian tenaga angin (bayu) memiliki potensi 155 GW, tetapi pemanfaatan sekitar 152 MW. Potensi tenaga hidro 95 GW, pemanfaatan 6.697 MW. Potensi tenaga arus laut 63 GW dan belum ada pemanfaatan sama sekali. Potensi bioenergi 57 GW, pemanfaatan 3.408 MW. Sementara potensi tenaga panas bumi 23 GW, pemanfaatan 2.597 MW.
Hans Kwee menyarankan agar investor melihat pipeline dan profil perusahaan energi terbarukan yang akan IPO. Pasalnya, setiap jenis energi hijau memiliki karakteristik dan tantangan berbeda. Dia mencontohkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) cenderung membutuhkan investasi dan biaya perawatan/pemeliharaan yang cukup besar. Pembangkit listrik tenaga arus laut juga memiliki banyak tantangan. Energi angin (bayu) juga relatif tidak stabil karena bergantung pada kecepatan angin. "Akan tetapi, ujungnya adalah profit untuk kita melihat prospek perusahaan energi terbarukan."
Permintaan Energi Listrik
Menurutnya, sentimen positif lainnya adalah potensi peningkatan permintaan (demand) listrik ke depan. Target pertumbuhan ekonomi 8% akan turut menggerakkan industri/manufaktur sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap tenaga listrik. Sentimen positif tersebut juga telah mendorong perusahaan besar yang selama ini bergerak di energi fosil seperti batu bara, mulai memasukkan energi terbarukan ke dalam portofolio perusahaan.
Untuk dapat melakukan lompatan besar energi terbarukan, Hans menilai bahwa pemerintah perlu memberikan insentif bagi pelaku usaha, yaitu insentif fiskal, kebijakan, dan regulasi sehingga menarik minat investor. Dia mencontohkan, potensi energi surya melimpah, tetapi pemanfaatan belum optimal.
Demikian juga dengan kendaraan listrik yang masih menggunakan energi fosil. Oleh sebab itu, menurutnya, perlu terus dibangun pembangkit listrik energi terbarukan. "Jadi kita mau tukar dengan mobil listrik, tetapi masih memakai listrik yang dihasilkan dari batu bara sehingga masih kurang optimal dalam upaya mengurangi karbon."
Hans juga menyoroti jumlah IPO tahun 2024 yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Lesunya IPO pada tahun 2024, kata dia, kemungkinan disebabkan berbagai faktor seperti piplres dan pileg 2024, pilkada serentak 2024, piplres Amerika Serikat (AS), dan penurunan daya beli masyarakat. Kemudian, otoritas bursa juga memperketat pengawasan terkait dengan IPO. Padahal, kata dia, minat perusahaan untuk IPO sebetulnya cukup tinggi. Beberapa faktor seperti tren suku bunga tinggi dalam beberapa tahun terakhir dan masa pemulihan pasca-pandemi Covid-19 telah mendorong perusahaan melakukan IPO untuk mendapatkan dana untuk ekspansi usaha.
Sebelumnya, Vice President Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai bahwa IPO perusahaan energi terbarukan akan diminati para investor karena berbagai sentimen positif terhadap sektor industri ini yang mendapatkan dukungan dari berbagai stakeholder, terutama pemerintah. Oktavianus juga memproyeksikan bahwa beberapa perusahaan energi terbarukan akan melantai di bursa untuk mendapatkan tambahan modal. Proyeksi itu didasari banyak perusahaan yang sudah masuk ke bisnis yang berkelanjutan.(*)