Strategi NWP Property: Jadikan Mal Bukan Sekadar Tempat Belanja

Alphonzus Widjaja, CEO Retail & Hospitality NWP Property (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Dalam beberapa tahun terakhir, pusat perbelanjaan (mal) di Indonesia menghadapi tantangan besar dengan munculnya e-commerce dan perubahan gaya hidup masyarakat. Perubahan ini memaksa para pengembang properti untuk beradaptasi agar tetap relevan.

Kenyataan itu disadari PT Nirvana Wastu Pratama ―lebih dikenal dengan nama NWP Property sebagai pengembang dan pengelola aset yang berfokus pada pusat perbelanjaan. Karenanya, NWP Property berupaya terus berinovasi menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

NWP Property saat ini mengelola 32 pusat perbelanjaan modern dan memiliki lima hotel yang tersebar di berbagai wilayah, yakni di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, wilayah Jabodetabek, dan Provinsi Jawa Barat.

Alphonzus Widjaja, CEO Retail & Hospitality NWP Property, menyebutkan bahwa keberhasilan pusat perbelanjaan di kota-kota besar, seperti Jakarta, sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan experience. “Mal yang hanya menawarkan fungsi belanja tanpa elemen customer journey dan customer experience berisiko sepi pengunjung,” katanya kepada SWA.

Strategi pengembangan NWP Property mencakup dua pendekatan utama, yakni membangun properti baru dari nol atau mengakuisisi properti yang kemudian direvitalisasi dan dikonsep ulang. Contoh nyata strategi ini adalah transformasi Pejaten Village menjadi The Park Pejaten, yang dimulai pada pertengahan 2023.

The Park Pejaten adalah contoh bagaimana NWP Property menempatkan pengalaman pengunjung sebagai prioritas utama. Mal ini diposisikan tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi destinasi yang menawarkan berbagai fasilitas dan aktivitas yang menarik bagi pengunjung.

Alphonzus menjelaskan bahwa kebutuhan untuk mengubah suatu mal itu berbeda-beda. Jika hanya renovasi, biayanya tentu jauh lebih ringan dibandingkan dengan rekonseptualisasi.

Renovasi biasanya dilakukan pada mal yang secara bisnis masih tergolong sukses dan ramai pengunjung, tetapi bangunan atau interiornya sudah terlihat usang atau ketinggalan zaman. Dalam kasus seperti ini, renovasi berfungsi untuk menyegarkan tampilan fisik agar tetap relevan dengan tren dan kebutuhan pengunjung, tanpa perlu mengubah konsep dasar mal tersebut.

Namun, jika sebuah mal sudah dianggap sepi, dengan jumlah pengunjung yang terus menurun dan tidak lagi menarik bagi tenant ataupun konsumen, sekadar renovasi tidak akan cukup. Dalam situasi seperti itu, diperlukan langkah lebih besar, yaitu reconcept,” kata Alphonzhus.

Reconcept berarti mengubah konsep mal secara menyeluruh, mulai dari fungsi utama, tenant mix, hingga citra yang ingin dibangun, agar mal tersebut dapat kembali bersaing dan menarik perhatian masyarakat. Inilah yang diterapkan pada The Park Pejaten.

NWP Property memiliki strategi unik dalam membangun pusat perbelanjaan dengan tidak hanya berfokus pada kota-kota besar, tetapi juga merambah kota-kota tier-2 dan tier-3. Kota-kota ini biasanya memiliki jumlah kelas atas yang terbatas, tapi didominasi segmen kelas menengah, yang merupakan pasar terbesar dan memiliki daya beli yang signifikan. Strategi ini memungkinkan NWP untuk masuk ke pasar dengan potensi pertumbuhan yang besar, sekaligus mengisi kebutuhan akan fasilitas ritel modern di daerah yang belum sepenuhnya terlayani.

Dalam membangun mal, NWP sangat memperhatikan berbagai faktor penting, antara lain jumlah populasi di wilayah tersebut, ukuran pasar, dan daya beli segmen konsumen lokal. Dengan pendekatan berbasis data ini, NWP memastikan setiap mal yang dibangun memiliki peluang keberhasilan yang tinggi.

Menurut Alphonzus, meskipun berkembang persepsi bahwa beberapa mal tampak kurang berkembang, pada kenyataannya mal sebagai sebuah industri di Indonesia masih memiliki potensi yang besar.

Hal ini terlihat dari rasio luas pusat perbelanjaan terhadap jumlah populasi di Indonesia yang masih tergolong rendah. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand, rasio di Indonesia masih jauh tertinggal. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara maju, potensi pengembangan pusat perbelanjaan di Indonesia menjadi semakin jelas.

Rasio yang rendah ini menunjukkan bahwa ada ruang besar untuk ekspansi, terutama di kota-kota yang sedang tumbuh,” kata Alphonzhus.

Ke depan, NWP Property memiliki ambisi untuk terus memperluas jangkauan bisnisnya dengan menargetkan pembangunan atau akuisisi minimal tiga pusat perbelanjaan baru setiap tahun.

Strategi ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang dinamis,” kata lelaki yang sudah berkiprah lebih dari 20 tahun di bidang properti dan real estate ini. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag