World Bank Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 5,1% Tahun 2025, Pertimbangkan Sejumlah Faktor Tantangan Struktural

Tim riset Bank Dunia atau World Bank memperkirakan pergerakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh di angka 5,1% pada tahun 2025. Menurut Country Director World Bank Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk, Indonesia berhasil melampaui rerata pertumbuhan dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah.

Lebih lanjut, Carolyn menjelaskan ada tiga kunci untuk mendukung Visi Indoneesia 2045, yaitu kestabilan makroekonomi negara, akselerasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, serta investasi di sektor layanan publik, sambil mempertahankan kehati-hatian fiskal. Ketiga kunci ini diharapkan dapat meningkatkan penerimaan pajak yang dapat membantu perkembangan produk domestik bruto (PDB).

“Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan penerimaan pajak setidaknya sebesar 6% dari PDB,” ujar Carolyn dalam sambutannya di acara Funding Indonesia’s Vision 2045 yang dihelat World Bank di Jakarta pada Senin (16/12/2024).

Namun, untuk mencapai visi tersebut, Carolyn mengakui Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan struktural seperti produktivitas dan pengembalian modal dan tenaga kerja yang menurun.

Senada dengan Carolyn, Senior Economist World Bank Wael Mansour, menjelaskan, tingkat pengangguran yang terjadi pada pekerja muda produktif masih tinggi, diiringi dengan kurang terciptanya lapangan kerja untuk kelas menengah dan lambatnya kenaikan upah riil pada sektor yang memiliki banyak tenaga kerja.

“Faktanya, partisipasi angkatan kerja kelompok muda masih rendah. Pengangguran kelompok muda masih tinggi,” tegas Mansour. World Bank melihat, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi kelompok muda tersebut.

Mansour menambahkan, penurunan produktivitas itu juga didukung oleh stagnannya upah riil, terlebih ketika masa pandemi COVID-19 membuat para pekerja produktif tidak dapat menghasilkan pendapatan menengah yang cukup serta pekerjaan dengan gaji yang layak.

Sementara itu, rencana pemerintah Indonesia untuk mengakselerasi perekonomian nasional hingga 8% dianggap akan menimbulkan sejumlah tantangan. World Bank melihat, tanpa adanya reformasi struktural dan peningkatan produktivitas, ekonomi negara akan mengalami overheating.

“Dorongan besar utuk investasi swasta dan pemerintah dapat memicu penekanan inflasi. Akhirnya, dapat mengikis daya beli rumah tangga dan menurunkan permintaan konsumen, juga menurunkan daya saing ekspor karena nilai tukar riil terapresiasi,” tambah Mansour.

Menurut Mansour, meningkatnya investasi swasta diperkirakan akan meningkatkan impor, sehingga defisit transaksi berjalan melebar, menimbulkan tekanan pada cadangan mata uang asing, dan berpotensi memberikan tekanan pada mata uang rupiah.(*)

# Tag