Ekonom CORE Indonesia Tanggapi Aksi Taksi Vietnam Xanh SM Masuk Pasar Domestik
Taksi listrik asal Vietnam, Xanh SM, resmi memasuki pasar domestik Indonesia. Kendaraan listrik yang masih dalam naungan grup Vinfast tersebut, kini ada sekitar 1.000 unit mengaspal di Jakarta. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengamati masuknya investasi asing di tengah tren kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) 12% memiliki kemungkinan akan bergantung pada arah kebijakan pemerintah.
“Salah satu yang diangkat [dalam PPN 12%] adalah mobil listrik, yang masih dapat [insentif]. Pemerintah arah kebijakannya untuk mendorong mobil listrik, terutama produksi dalam negeri, masih relatif sejalan,” jelas Faisal kepada swa.co.id dalam acara diskusi media bertajuk “Energi Baru dan Terbarukan: Pendorong atau Penghambat Pertumbuhan Ekonomi” di kantor pusat CORE Indonesia di Jakarta pada Rabu (18/12/2024).
Faisal mencontohkan investor asing yang masuk ke pasar domestik untuk menanamkan modalnya ke bisnis transportasi ramah lingkungan, maka itu akan bergantung pada arah prioritas pemerintah. “Sebetulnya kita melihat dari arah prioritas pemerintah. [Namun] jangan sampai PPN 12% malah menghambat investasi yang semestinya masuk,” tambah Faisal.
Dalam pemaparannya, industri yang bergerak di bidang energi baru dan terbarukan (EBT) diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, dengan ekspektasi pemerintah Indonesia mencapai 8%. Hal itu diwujudkan melalui percepatan industrialisasi yang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja formal.
Dari segi bauran energi di Indonesia, setidaknya energi baru dan terbarukan seperti panas bumi, air, angin, dan surya masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan. Namun, pemanfaatan EBT tersebut masih membutuhkan pembiayaan dan masih terkendala masalah inovasi belanja modal.
Menurut CORE Indonesia, ketika energi fosil dipakai secara berlebihan, suhu bumi akan meningkat, dan berpotensi menggerogoti potensi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Dengan mempercepat penggunaan EBT, diharapkan akan menjaga proses industrialisasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan target pemerintah. “Untuk mendorong EBT, perlu dijaga dari sisi kualitas dan keamanannya. Perlu ada pengembangan industri pemastian,” tutur Faisal.
Sebelumnya, CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 akan bergerak di rentang 4,8% hingga 5%. Hal ini mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti kenaikan PPN hingga 12%, cukai, hingga masalah struktural lainnya.(*)