GFK Paparkan Kunci Pendorong Penjualan Produk Teknologi dan Elektronik di 2025

Foto: GFK

Perusahaan riset asal Jerman GFK menyebutkan pasar produk teknologi dan elektronik di Indonesia selama tahun 2024 menunjukkan kinerja positif, yang mana nilai penjualan tumbuh 2%, tapi volume atau unit yang terjual turun 7% dibandingkan tahun 2023.

Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan penjualan atau peningkatan kontribusi dari segmen-segmen tertentu yang dapat menawarkan fitur-fitur inovatif dan manfaat lebih, sehingga menghasilkan daya tarik penjualan karena konsumen cenderung ingin meng-upgrade produk yang saat ini dimiliki.

Selain itu, pasar 2024 masih didominasi oleh kota-kota besar. Walau begitu, terdapat pertumbuhan signifikan yang berasal dari kota-kota sekunder (kota-kota di seputaran ibukota provinsi) dan kembalinya konsumen ke aktivitas berbelanja secara langsung ke toko.

Hal ini terutama terjadi di ritel modern yang terus memperluas jaringan toko mereka dengan cepat, menawarkan promo menarik, serta menyediakan kenyamanan seperti lokasi yang strategis, penataan toko yang rapi, dan kehadiran sales promotor yang dapat membantu menjelaskan produk.

Oleh karena itu, outlook untuk tahun 2025 kemungkinan besar akan mirip dengan tahun 2024, yang mana penurunan jumlah unit yang terjual masih terjadi, tetapi pada tingkat yang lebih moderat dan mulai menuju normal.

Sementara itu, nilai penjualan diperkirakan terus meningkat berkat daya tarik yang berasal dari produk yang tersegmentasi, yang didorong oleh inovasi dan pengembangan produk. Selain itu, hal ini didukung oleh distribusi produk yang efektif di channel yang bertumbuh dan di kota-kota yang lebih luas.

Pasar untuk laptop diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan yang menjanjikan pada 2025. Secara khusus, laptop gaming tetap menjadi segmen yang menjanjikan, didukung oleh pengembangan produk dan basis pengguna yang lebih luas.

Tren pasar juga diperkirakan akan mengarah pada laptop yang lebih ringan dan tipis, yang menawarkan mobilitas lebih baik bagi pengguna. Selain itu, penggunaan fitur Artificial Intelligence (AI) yang diintegrasikan ke dalam laptop diperkirakan akan meningkatkan daya tarik dan mendorong potensi pembelian baru.

Bagaimana dengan smartphone?

Menurut proyeksi GFK, seperti halnya pasar laptop, penjualan smartphone tahun depan diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang optimistis. Pertumbuhan yang lebih tinggi akan didorong oleh segmen smartphone dengan harga Rp7 juta ke atas.

Selain pertumbuhan dari segmen harga yang lebih tinggi, pasar juga menunjukkan kecenderungan terpolarisasi dengan adanya pertumbuhan pada segmen harga yang lebih rendah (sekitar Rp1,5 juta), yang mana para pelaku pasar bersaing dengan menawarkan spesifikasi yang lebih baik dengan harga yang kompetitif untuk menarik minat konsumen.

Untuk pasar mesin cuci di Indonesia pada tahun 2025, diperkirakan akan sama seperti tahun 2024. Segmen mesin cuci twin tub (tabung kembar) tetap menjadi yang paling diminati.

Namun, seiring dengan meningkatnya preferensi konsumen terhadap kenyamanan dan kinerja yang lebih baik, permintaan untuk mesin cuci dengan kapasitas lebih besar dan dari segmen Front Load (bukaan depan) dan Single Tub (tabung tunggal) diperkirakan akan tumbuh. Segmen ini menjadi fokus utama bagi sebagian besar pelaku pasar, sebagaimana terlihat dari produk-produk yang diluncurkan dan diperkenalkan oleh berbagai merek sepanjang tahun 2024.

Berbeda dengan mesin cuci, pasar AC diperkirakan akan terus didorong oleh model entry-level, khususnya tipe standar 0,5 PK dan 1 PK. Hal ini karena penetrasi AC di Indonesia masih relatif lebih rendah, sehingga banyak konsumen yang merupakan pengguna pertama serta kapasitas listrik yang rendah menjadi pertimbangan mengapa konsumen memilih model entry-level sebelum ke depannya bisa jadi upgrade ke PK yang lebih besar seiring dengan suhu yang diprediksi akan cenderung masih fluktuatif akibat perubahan iklim.

Untuk pasar consumer electronic (elektronik konsumen) utamanya secara kontribusi masih didominasi oleh pasar TV, khususnya TV Panel (non-tabung), diperkirakan akan masih penuh tantangan untuk dapat tumbuh tahun 2025 akibat siklus pembelian belum sepenuhnya terjadi setelah masa pandemi dan ditambah oleh halo effect dari program ASO yang membuat melonjaknya permintaan di pengujung tahun 2022 sampai dengan awal tahun 2023.

Di tengah tantangan ini, ada segmen yang masih dapat tumbuh secara positif, yaitu TV dengan ukuran layar di atas 43-inch dengan resolusi Ultra High Definition (UHD), dan diprediksi akan menjadi pendorong utama bagi semua merek di tahun 2025.

Data pasar juga menunjukkan bahwa selain ukuran layar yang lebih besar, penjualan di segmen seperti OLED, Quantum Dot, dan TV Mini-LED juga menunjukkan tren yang positif, yang mengindikasikan pergeseran menuju teknologi TV dengan kualitas gambar yang lebih baik juga akan cenderung tumbuh di 2025. (*)

# Tag