Deteksi Dini Glaukoma untuk Cegah Kebutaan

Deteksi Dini Glaukoma untuk Cegah Kebutaan
Ilustrasi Pemeriksaan Mata. (Foto: Freepik).
Ilustrasi Pemeriksaan Mata. (Foto: Freepik).
Ilustrasi Pemeriksaan Mata. (Foto: Freepik).

Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang sering diabaikan, padahal dampaknya bisa sangat serius. Kondisi ini terjadi akibat peningkatan tekanan pada bola mata yang merusak saraf optik. Glaukoma berkembang perlahan tanpa gejala awal yang jelas, sehingga disebut sebagai "pencuri penglihatan diam-diam”. Deteksi dini glaukoma sangat penting untuk mencegah kebutaan permanen. Semakin cepat terdeteksi, kerusakan pada tahap awal dapat dikendalikan sehingga glaukoma tidak berkembang lebih parah.

Mengapa Glaukoma Begitu Berbahaya?

Glaukoma sering tidak menunjukkan tanda-tanda awal, sehingga banyak penderita tidak menyadari bahwa penglihatannya sedang terancam. Saat penglihatan mulai terganggu, kerusakan yang terjadi biasanya sudah cukup parah.

Menurut Dr. Kevin, SpM. penyakit tersebut dapat merusak saraf optik yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal visual dari mata ke otak. Dia menyarankan jika mengalami tekanan pada bola mata terus meningkat segera berkonsultasi ke ahli. "Jika mengalami gejala tersebut segera konsultasi sebab saraf optik akan mengalami kerusakan permanen, dan mengalami kebutaan," ujar Dr. Kevin dikutip dalam keterangan tertulis, Kamis (2/1/2025).

Dr Kevin memberikan penjelasan awal mula gejala glaukoma yang diidap oleh penderita. Penderita biasanya tidak merasakan gejala yang berarti, seperti rasa sakit atau penglihatan kabur di awal. "Kerusakan sering kali dimulai dari bagian penglihatan tepi (peripheral vision), yang tidak disadari penderita hingga penglihatan sudah sangat terganggu," tambah Dr. Kevin.

Lebih lanjut, glaukoma juga bisa menyebabkan episode akut, seperti pada glaukoma sudut tertutup, dimana peningkatan tekanan mata terjadi secara mendadak. Ini bisa menimbulkan gejala yang lebih jelas seperti sakit mata yang parah, penglihatan kabur, mual, dan muntah.

Siapa yang Berisiko?

Glaukoma bisa menyerang siapa saja, tetapi ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.

1. Usia di atas 40 tahun

Usia adalah salah satu faktor utama—orang yang berusia di atas 40 tahun memiliki risiko lebih besar terkena glaukoma, terutama jenis glaukoma sudut terbuka. Seiring bertambahnya usia, sistem drainase alami cairan bola mata dapat terganggu, menyebabkan peningkatan tekanan di dalam mata yang berpotensi merusak saraf optik.

2. Riwayat keluarga dengan glaukoma

Jika salah satu anggota keluarga Anda, seperti orang tua atau saudara kandung, menderita glaukoma, kemungkinan Anda juga akan mengalami kondisi ini lebih besar. Faktor genetik berperan dalam penurunan risiko penyakit ini, sehingga sangat penting untuk rutin memeriksakan kesehatan mata jika ada anggota keluarga dengan glaukoma.

3. Menderita diabetes atau tekanan darah tinggi

Kedua kondisi ini dapat mempengaruhi sirkulasi darah ke mata dan mempercepat kerusakan pada saraf optik.

4. Mata minus atau plus tinggi

Mata minus (miopia) atau plus tinggi (hipermetropia) juga berkontribusi pada peningkatan risiko, karena perubahan pada bentuk mata bisa mempengaruhi tekanan di dalam bola mata.

5. Penggunaan steroid jangka panjang

Tanda-Tanda Awal yang Harus Diwaspadai

Beberapa gejala awal glaukoma yang mungkin muncul antara lain:

  • Kehilangan penglihatan sisi (peripheral vision) secara bertahap
  • Pandangan seperti ada lingkaran cahaya di sekitar lampu
  • Penglihatan kabur, terutama di malam hari

Rasa tidak nyaman atau tekanan di dalam mata

Dalam banyak kasus, glaukoma tidak menunjukkan gejala sama sekali. Inilah sebabnya mengapa deteksi dini sangat penting.

Melalui pemeriksaan mata rutin, dokter dapat memeriksa tekanan mata dan kondisi saraf optik untuk mendeteksi glaukoma sedini mungkin.

Cara Mendeteksi Glaukoma

Deteksi dini glaukoma sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen pada saraf optik dan kebutaan. Ada beberapa tes yang digunakan untuk mendeteksi glaukoma, dan biasanya dilakukan oleh dokter mata selama pemeriksaan rutin.

  • Tes Tonometri

Salah satu tes yang paling umum adalah tonometri, yang mengukur tekanan di dalam bola mata. Tes ini penting karena glaukoma disebabkan oleh peningkatan tekanan mata yang berlebihan.

Hasil tes yang menunjukkan tekanan di atas normal, artinya Anda berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan saraf optik.

  • Pemeriksaan Saraf Optik

Selain tonometri, dokter mata juga melakukan pemeriksaan saraf optik untuk mencari tanda-tanda kerusakan. Selama pemeriksaan ini, dokter menggunakan alat khusus untuk melihat langsung ke bagian belakang mata. Bentuk dan warna saraf optik yang abnormal bisa menjadi indikator awal glaukoma.

  • Tes Perimetri

Tes lain yang sering dilakukan adalah uji lapang pandang atau perimetri, yang mengukur kemampuan mata melihat objek di area sekitar. Tujuannya adalah untuk mendeteksi kehilangan penglihatan tepi, yang merupakan salah satu gejala khas glaukoma.

  • Tes Pachymetry

Tes tambahan seperti pachymetry, yang mengukur ketebalan kornea, juga bisa dilakukan. Ketebalan kornea dapat memengaruhi pengukuran tekanan mata, sehingga ini penting untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Jika Anda berada dalam kelompok risiko tinggi, seperti memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma atau kondisi medis tertentu seperti diabetes, melakukan pemeriksaan ini secara rutin sangat dianjurkan untuk mendeteksi glaukoma sedini mungkin.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag