OJK Minta Penguatan Ekosistem Pasar Modal ke Menteri Keuangan, Ini Respons Sri Mulyani

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani dalam acara pembukaan perdagangan pasar modal di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Kamis (2/1/2025). Foto Nadia K. Putri/SWA
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati pada pembukaan perdagangan pasar modal di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Kamis (2/1/2025). (Foto : Nadia K. Putri/SWA).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk mengakselerasi pendalaman pasar modal di Indonesia. Sri mengungkapkan, Kementerian Keuangan terus terbuka untuk ide-ide lain mengingat partisipan di pasar modal—termasuk pasar saham masih relatif kecil.

“Kami harus terus berinovasi mendorong instrumen-instrumen yang jauh lebih terjangkau untuk masyarakat kecil bisa berpartisipasi. Kami, di Surat Berharga Negara sudah membuat pecahan yang sangat kecil,” jelas Sri Mulyani pada Peresmian Pembukaan Pasar Modal Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Kamis (2/1/2025).

Permintaan OJK yang diajukan pada akhir Desember 2024 lalu, Sri menjelaskan bahwa saat ini basis investor Surat Berharga Negara (SBN) melibatkan pelajar dan mahasiswa.

“Sekarang seharusnya ini sudah mulai diajarkan bukan di tingkat mahasiswa lagi, tapi di tingkat sekolah dasar, sehingga mereka menjadi familiar dengan bursa efek,” tambah Sri.

Sri memaparkan, dengan adanya transisi perilaku masyarakat yang gemar menabung menjadi gemar berinvestasi, ini akan membuat pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap saham yang diperjual-belikan. Saham tersebut harus berasal dari fundamental perusahaan yang sehat dan memiliki tata kelola yang baik.

Sementara itu, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menjelaskan BEI terus melakukan literasi dan edukasi pasar modal kepada generasi muda sejak tahun 2022, baik ke perguruan tinggi maupun ke sekolah menengah atas (SMA). Sampai saat ini, terdapat 100 galeri edukasi di berbagai SMA di seluruh Indonesia.

“Literasi terkait pasar modal memang harus dimulai sejak saat dini. Artinya, masyarakat Indonesia memang sudah harus shifting dari saving society menjadi investing society,” tutup Jeffrey.

Berdasarkan komposisi investor pasar modal per November 2024, setidaknya terdapat 54,92% investor yang berusia di bawah 30 tahun, dengan total nilai aset sebesar Rp53,83 triliun. Kemudian disusul investor berusia 31 tahun sampai 40 tahun dengan porsi 24,41%. Adapun total nilai asetnya sebesar Rp277,60 triliun.

Terakhir, terdapat peningkatan identitas investor atau single investor identification yang mencapai 14,87 juta, menurut data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Desember 2024. Angka ini meningkat 22,21% dibandingkan tahun 2023 sebanyak 12,16 juta SID. (*)

# Tag