Barnes & Noble Bangkit: Personalisasi, Kurasi Lokal, dan Koneksi dengan Komunitas Jadi Kunci
Kabar baik bertiup dari Barnes & Noble, raksasa toko buku yang sempat nyaris tumbang di tengah dominasi pasar digital. Setelah bertahun-tahun berada di ambang kehancuran, perusahaan ini kini kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang luar biasa. Pembukaan lebih dari 60 toko baru pada tahun 2024 dan peningkatan pendapatan menjadi bukti nyata dari transformasi mereka yang sukses.
Dengan kembalinya toko ikonik di Georgetown, Washington D.C., Barnes & Noble tidak hanya mengukuhkan dirinya sebagai simbol kebangkitan toko buku fisik, tetapi juga menghidupkan kembali pengalaman belanja buku yang penuh makna.
Namun, perjalanan ini tidak diraih dengan mudah. Pada dekade 2010-an, Barnes & Noble terjebak dalam strategi yang kehilangan arah. Dominasi Amazon di pasar buku daring dan pengisian toko dengan produk non-buku seperti mainan dan gadget justru menjauhkan mereka dari esensi bisnisnya.
Penjualan merosot tajam, ratusan toko ditutup, dan perusahaan ini akhirnya dijual ke hedge fund Elliott Advisors pada 2019, menimbulkan kekhawatiran tentang masa depannya.
Titik Balik
Titik balik terjadi pada 2018, ketika James Daunt diangkat sebagai CEO. Daunt membawa pendekatan baru yang revolusioner, dengan fokus pada desentralisasi pengelolaan toko dan kembali ke akar bisnis: buku. Ia memberi kebebasan kepada manajer toko untuk menentukan stok dan desain berdasarkan kebutuhan komunitas setempat.
Langkah ini memungkinkan setiap toko mencerminkan karakter unik komunitasnya, membedakannya dari model bisnis lama yang terlalu homogen.
Selain itu, Barnes & Noble memanfaatkan tren sosial seperti #BookTok di TikTok untuk menarik generasi muda. Rak khusus untuk buku-buku yang populer di platform tersebut, ditambah acara peluncuran buku dan diskusi komunitas, menciptakan hubungan emosional yang kuat antara toko dan pembacanya.
“Ketika Anda pergi ke Barnes & Noble, itu seperti sebuah perjalanan,” ujar seorang pelanggan muda.
Transformasi fisik toko juga menjadi bagian integral dari strategi ini. Renovasi besar-besaran menciptakan tata letak yang lebih nyaman dan tematik, mendorong pelanggan untuk menghabiskan waktu lebih lama di dalam toko. Dengan desain baru ini, Barnes & Noble berhasil menghidupkan kembali nuansa toko buku independen yang lebih personal dan relevan bagi pelanggan masa kini.
Kurasi Lokal
Hasilnya mulai terlihat sejak 2019, ketika kunjungan pelanggan meningkat sebesar 7% dibandingkan tahun sebelumnya, dan penjualan mulai pulih. Pembukaan kembali toko ikonik di Georgetown, Washington D.C., menjadi simbol keberhasilan transformasi ini.
Dalam kata-kata Daunt, “Kami menjalankan toko yang benar-benar bagus, dan itu sebabnya kami berhasil melawan Amazon dan e-book.”
Selain perubahan dalam manajemen dan desain toko, Barnes & Noble juga berhasil memanfaatkan kebangkitan minat terhadap buku cetak di Amerika Serikat. Penjualan buku cetak mencapai rekor tertinggi pada tahun 2021, dan perusahaan ini berada di posisi yang tepat untuk mengambil keuntungan dari tren tersebut.
Dengan fokus baru pada buku dan pengalaman pelanggan, mereka menciptakan toko-toko yang menjadi tempat berkumpul komunitas lokal, sebuah konsep yang semakin diminati di era pasca-pandemi.
Kurasi lokal menjadi inti dari pendekatan baru mereka. Dengan memberi manajer toko kebebasan untuk memilih koleksi buku berdasarkan kebutuhan komunitas, Barnes & Noble menciptakan pengalaman yang relevan dan personal bagi pelanggan.
“Sebuah toko buku yang baik haruslah menjadi kurator,” ujar Daunt. Pendekatan ini membedakan Barnes & Noble dari kompetitor besar lainnya dan mendekatkan mereka pada komunitas pembaca setempat.
Perubahan ini tidak hanya menarik pelanggan baru, tetapi juga menghidupkan kembali antusiasme pembaca tradisional yang menghargai suasana toko yang nyaman dan pilihan buku yang bervariasi.
Dengan acara-acara seperti peluncuran buku, diskusi penulis, dan lokakarya kreatif, toko-toko mereka menjadi lebih dari sekadar tempat membeli buku, melainkan pusat kegiatan komunitas.
Pengalaman Fisik dan Digital
Namun, transformasi ini bukan tanpa tantangan. Penutupan beberapa toko lama yang tidak menguntungkan tetap menjadi bagian dari strategi restrukturisasi mereka.
Meski begitu, pembukaan lebih dari 60 toko baru pada tahun 2024 menunjukkan bahwa langkah ekspansi mereka telah membuahkan hasil. “Pendekatan lokal kami membawa hasil yang positif, dan kami percaya bahwa masa depan toko buku fisik masih sangat cerah,” kata Daunt.
Keberhasilan ini juga memperlihatkan pentingnya adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen. Dengan memanfaatkan teknologi untuk memahami tren pasar tanpa kehilangan sentuhan personal, Barnes & Noble berhasil menciptakan kombinasi yang harmonis antara pengalaman fisik dan digital. Komunitas #BookTok menjadi salah satu contoh bagaimana media sosial dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dengan cara yang autentik.
Kehadiran kembali Barnes & Noble di lokasi-lokasi strategis, seperti Georgetown, Washington D.C., menjadi simbol keberhasilan transformasi mereka. Setelah lebih dari satu dekade ditutup, toko ini dibuka kembali dengan pendekatan yang jauh lebih segar dan relevan.
“Pembukaan kembali toko Georgetown adalah contoh dramatis dari kebangkitan toko buku fisik,” ujar Daunt.
Finansial Membaik
Kinerja finansial mereka juga menunjukkan perbaikan signifikan. Pendapatan Barnes & Noble pada tahun fiskal 2024 meningkat sebesar 1,6% menjadi US$1,57 miliar, dengan EBITDA mencapai US$45,2 juta dibandingkan kerugian tahun sebelumnya. Program seperti First Day Complete®, yang mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 48%, menjadi salah satu pendorong utama kinerja ini.
Selain itu, fokus pada inovasi desain toko yang mengundang pelanggan untuk bersantai dan menjelajah rak-rak buku menjadi salah satu daya tarik utama mereka. Beberapa toko bahkan dirancang ulang dengan konsep tematik yang menyerupai toko buku independen, memberikan pengalaman yang lebih personal bagi pelanggan.
Keberhasilan ini menjadi contoh inspiratif bagi industri ritel lainnya tentang pentingnya personalisasi dan adaptasi. Dengan mengutamakan hubungan dengan komunitas lokal dan pengalaman pelanggan, Barnes & Noble membuktikan bahwa toko fisik masih memiliki daya tarik unik yang sulit ditandingi oleh belanja daring.
Dalam kata-kata Daunt, “Kami adalah toko untuk semua orang, dan selama ada cinta untuk buku, kami akan selalu memiliki tempat di hati para pembaca.”
Barnes & Noble kini telah bertransformasi dari perusahaan yang hampir bangkrut menjadi salah satu simbol kebangkitan toko buku fisik. Dengan strategi yang mengutamakan personalisasi, kurasi lokal, dan koneksi emosional dengan komunitas, mereka tidak hanya bertahan di era digital, tetapi juga tumbuh menjadi lebih relevan.
Kebangkitan ini memberikan pelajaran bahwa inovasi, fokus pada esensi bisnis, dan keberanian untuk berubah adalah kunci untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat. (*)