Investor Cermati Saham ASII, GOTO, dan CUAN di January Effect

null
Main Hall di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Kamis (2/1/2025). (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), jika melihat dari teknikal IHSG menggunakan time frame weekly, berpotensi untuk menguat hingga level 7.290-7.300 yang merupakan area resistance dan indikator EMA21 weekly. Apabila IHSG mampu menguat ke level tersebut dan berhasil bertahan maka IHSG berpotensi untuk naik hingga level 7.500 poin. Apabila ini terjadi maka IHSG berhasil keluar dari downtrend yang sudah berlangsung sejak September 2024. "Namun apabila IHSG hanya mampu menguat ke level 7.290 - 7.300 dan mengalami pantulan maka IHSG masih melanjutkan trend penurunannya yang terjadi sejak September silam," jelas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani pada risetnya di Jakarta, Senin (6/1/2025).

Ia menambahkan jika melihat data foreign flow yang masih mencatatkan outflow di pasar reguler hingga perdagangan terakhir maka probabilitas lebih besar untuk IHSG melanjutkan downtrend-nya sejak September 2024. Akan tetapi hal tersebut dapat batal apabila dana asing yang tiba-tiba tercatat masuk ke IHSG.

Penguatan IHSG pada pekan lalu tertopang 2 top gainers yakni IDX Technology dan IDX Basic Materials. IDX Technology menguat 6,5% dalam sepekan kemarin yang disebabkan oleh kenaikan saham GOTO sebesar 23,8% di periode yang sama. GOTO naik cukup signifikan setelah terjadi false breakdown pada 27 Desember silam. Secara teknikal, GOTO menunjukan tren kenaikan yang berlangsung sejak September kemarin. "Biasanya saham yang akan rally cenderung memberikan false signal seperti yang terjadi pada GOTO pada 27 Desember lalu, dan karena 2 hal di atas maka GOTO layak dipantau untuk trading jangka pendek," imbau Dimas.

Sementara itu, IDX Basic Materials dalam sepekan kemarin naik sebesar 2,9% ditopang oleh saham BRMS yang naik sebesar 30% dalam periode yang sama. BRMS berhasil kembali ditutup di atas indikator MA50 yang merupakan sinyal kenaikan untuk pergerakan jangka menengah. Apabila BRMS berhasil bertahan di atas level tersebut maka BRMS berpotensi untuk kembali bergerak di level Rp460.

Adapun 2 top losers di pekan lalu yang menghambat laju IHSG adalah IDX Healthcare dan IDX Consumer Cyclicals. IDX Healthcare melemah 0,5% dalam sepekan kemarin karena relatif minim sentimen seiring dengan momentum Nataru dan juga kebijakan pemerintah terbaru salah satunya PPN 12% untuk barang dan jasa mewah.

Sementara itu, IDX Consumer Cyclicals dalam sepekan kemarin turun sebesar 0,3% dan menjadi sektor yang mengalami rotasi dalam menjaga pergerakan IHSG. Pelemahan yang terjadi pada sektor ini juga disebabkan minimnya sentimen yang ada.

Berbicara tentang potensi market pada 6 - 10 Desember 2025, Dimas menyebutkan sejumlah sentimen yang wajib diperhatikan para pemodal. Pertama, Sentimen FOMC Minutes. Pada Kamis pekan ini, Bank Sentral AS alias The Fed mengadakan pertemuan yang akan membahas kemungkinan hasil keputusan suku bunga yang akan diumumkan pada 30 Januari 2025. Umumnya ketika proyeksi terhadap kondisi ekonomi AS dan keputusan suku bunga yang disampaikan pada FOMC Minutes akan berpengaruh terhadap pergerakan market saham baik di AS sendiri maupun global.

Kedua, Non-Farm Payrolls Desember. Sehari setelahnya rilis data ketenagakerjaan AS yang memberikan gambaran kondisi ekonomi AS. Berdasarkan konsensusnya, jumlah lapangan pekerjaan di luar pertanian untuk bulan Desember akan mencatatkan penurunan yang cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya. Non-Farm Payrolls Desember diperkirakan akan mencatatkan lapangan pekerjaan sekitar 150rb dibandingkan bulan November yang sebesar 227 ribu.

"Apabila data yang keluar pada Jumat nanti sesuai dengan konsensus maka level ini merupakan level kedua terendah dalam 3 bulan terakhir, pada Oktober lalu sempat mencatatkan level terendah seiring dengan force majeure badai Helene dan Milton yang menghantam Florida," tuturny.

Ketiga, sentimen January Effect. Sentimen terakhir di minggu ini berasal dari momentum seasonal. Umumnya pada bulan Januari ada fenomena yang disebut January Effect di pasar modal. Harga saham pada 2 minggu pertama atau sepanjang Januari ini cenderung mengalami kenaikan. "Namun, jika kita lihat dari data yang ada hingga perdagangan terakhir di pekan lalu menunjukkan probabilitas terjadinya fenomena musiman ini cenderung kecil," sebutnya

Dimas menyebutkan alasannya, dari sisi foreign flow masih mencatatkan outflow yang memberikan keraguan terhadap pergerakan IHSG. Selanjutnya, dilihat dari data historikal dalam 5 tahun terakhir (2020-2024) lantaran hanya terdapat 1 kali kenaikan yang terjadi di bulan Januari yaitu pada tahun 2022. "Artinya, probabilitas IHSG berakhir di zona hijau pada bulan Januari hanya sebesar 20% jika kita tarik data kinerja bulanan Januari dalam 5 tahun terakhir. Namun bukan tidak mungkin penguatan dapat terjadi di IHSG mulai dari minggu ini. Hal ini dapat terjadi karena siklus pergerakan sebuah saham/indeks, dimana IHSG sudah bergerak konsisten turun sejak 4 bulan terakhir yang secara historikal IHSG cenderung berubah tren dari yang sudah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan,” tuturnya.

Ia mencontohkan yang paling dekat terjadi pada Maret-Juni 2024 tatkala IHSG konsisten bergerak turun sebelum akhirnya mencetak level tertinggi sepanjang masanya yang terjadi setelahnya yaitu di September 2024.

IPOT merekemondasikan saham-saham ini pada perdagangan 6-10 Januari 2025.

1. Buy ASII (Target harga Rp5.100, stop loss: Rp4.880, risk to reward ratio: 1:21). Akumulasi yang dilakukan oleh investor asing di ASIl yang sudah terjadi sejak Agustus 2024. ASII menjadi saham yang memiliki historikal yang bagus selama momentum January Effect dalam 5 tahun terakhir dan berpotensi untuk mask fase uptrend setelah sideways yang terjadi disertai akumulasi oleh investor asing.

2. Buy on breakout GOTO (Target harga: Rp89, stop loss: Rp76, risk to reward ratio: 1: 2,3). GOTO telah masuk uptrend pada jangka menengah dan konsisten membentuk higher high dan higher low. Menariknya, GOTO menjadi penopang IHSG pada pergerakan minggu lalu dan berpotensi berlanjut pada minggu ini ditambah momentum January Effect. Apabila breakout dari level Rp80 maka GOTO berhasil keluar dari sideways yang sudah terjadi dalam 1 tahun dan berpotensi untuk menguat hingga level Rp100.

3. Buy CUAN (Target harga: Rp13.500, stop loss: Rp11.400, risk to reward ratio: 1:2,5). CUAN tertopang sentimen positif dari bisnis riil CUAN yang mulai memproduksi batu bara metalurgi melalui anak perusahaan. Selanjutnya, agenda penting emiten yang disampaikan pada public expose terakhir mengenai potensi tambahan sumber pendapatan yang berasal dari bisnis pasir silika dan tambang emas. Menariknya, akumulasi oleh investor asing berpotensi menjadi pilihan saham second liner oleh investor asing di momentum January Effect kali ini.

# Tag