East Ventures Optimis Kebangkitan ASEAN dalam Market Outlook 2025

Keseluruhan ekosistem dan portofolio East Ventures. (dok. East Ventures)
Keseluruhan ekosistem dan portofolio East Ventures. (dok. East Ventures)

Melansir World Economic Outlook dari IMF, lima tahun dari sekarang, pertumbuhan global diperkirakan mencapai 3,1%, kinerja yang tergolong biasa saja jika dibandingkan dengan rata-rata sebelum pandemi Covid-19.

Di samping itu, meningkatnya proteksionisme di berbagai negara yang dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan geopolitik yang kompleks juga perlu menjadi perhatian.

Dalam konteks ini, lanskap perdagangan yang terus berubah dapat memberikan ruang bagi inovasi-inovasi baru yang tidak hanya mengatasi kekhawatiran ekonomi lokal tetapi juga tetap bersangkutan dengan pasar global. Hal ini bisa menjadi langkah penting dalam membentuk kembali masa depan interdependensi ekonomi.

Di Asia Tenggara, East Ventures melihat tanda-tanda positif dengan adanya peningkatan konsumsi belanja yang kuat, perbaikan lanskap investasi, dan pemulihan pariwisata yang terus berlanjut. Semua ini diperkirakan akan mendukung pertumbuhan pada tahun 2025.

Selain itu, pemotongan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, atau The Fed pada bulan September 2024 lalu diprediksi akan memberikan manfaat bagi konsumen dan pelaku bisnis.

Laporan e-Conomy SEA 2024 menunjukkan bahwa nilai bruto transaksi (GMV) dan pendapatan di kawasan ini telah tumbuh secara konsisten dengan angka dua digit dalam setahun terakhir. Temuan ini selaras dengan apa yang terjadi dalam ekosistem East Ventures, dimana semakin banyak perusahaan portofolio yang kini telah mencapai profitabilitas.

Laporan tersebut juga memberikan wawasan menarik mengenai tren dan metrik ekonomi digital di Asia Tenggara, yang menjadi acuan East Ventures dalam menilai kinerja perusahaan portfolionya.

East Ventures dengan bangga melaporkan bahwa pendapatan dari perusahaan-perusahaan tahap lanjutan (growth) meningkat sebesar 40% tahun ke tahun, hampir tiga kali lipat dari pertumbuhan rata-rata di kawasan Asia Tenggara.

Pencapaian ini tidak hanya menunjukkan kekuatan investasi East Ventures, tetapi juga memposisikannya di atas tolok ukur kawasan Asia Tenggara saat dibandingkan dengan perusahaan dan pemodal ventura (perusahaan venture capital) lainnya.

Semua ini berkat pola pikir para founder yang mengutamakan sifat adaptabilitas, terutama di tengah tantangan ekonomi, ketidakstabilan pasar, dan lanskap yang tak terduga.

Sejalan dengan hal tersebut, 70% perusahaan dalam portofolio tahap lanjutan East Ventures juga telah mencapai profitabilitas, dan lebih dari 80% menunjukkan kenaikan dalam margin EBITDA selama tahun lalu, diantaranya Sociolla, ShopBack, The Parentinc, RPG Commerce, Praktis, Mighty Jaxx, Traveloka, Komunal, Fore Coffee, ISMAYA Group, IDN, Ruangguru, waresix, Inteluck, dan Xurya.

Hal ini sesuai dengan keyakinan East Ventures, di mana profitabilitas adalah tujuan utama, meskipun setiap startup memiliki pendekatan dan perjalanan yang berbeda untuk mencapainya.

East Ventures telah menginjak tahun ke-15 sebagai venture capital di bidang teknologi di Indonesia dan Asia Tenggara. Perjalanan ini berfokus pada nilai-nilai dan kekuatan yang dimiliki, East Ventures berhasil menghadapi berbagai tantangan, beradaptasi dan tetap percaya pada kemampuannya dalam melihat lebih jauh dari apa yang hanya terlihat di depan mata (beyond the obvious).

Selama 15 tahun, East Ventures telah membangun ekosistem yang besar, solid, dan dinamis dengan lebih dari 300 perusahaan portofolio dan lebih dari 500 founder dalam mendukung tujuan nasional dan mendorong kolaborasi regional.

Fokus Lanskap Baru di 2025

Di tahun 2025, terdapat beberapa sektor yang akan menjadi fokus East Ventures. Pertama, East Ventures memprediksi bahwa ekosistem startup AI akan benar-benar berkembang. Sekitar 25% bisnis akan mulai menggunakan Generative AI (GenAI) dan berencana untuk menerapkan agen AI. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 50% pada tahun 2027.

Kedua, inovasi kesehatan. Proyeksi East Ventures untuk tahun ini bagi industri kesehatan adalah akan semakin banyak perusahaan yang mengandalkan AI untuk meningkatkan perawatan pasien dan memperlancar sistem operasional.

Ketiga, teknologi iklim. Sektor ini tetap menjadi area fokus penting, terutama dalam mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan dan penghitungan karbon.

Dan keempat, teknologi konsumen/consumer tech. Perkembangan e-commerce melalui pengalaman belanja yang dipersonalisasi dan otomatisasi layanan pelanggan melalui chatbot juga akan terus meningkat dalam teknologi konsumen. Startup yang didukung East Ventures seperti Cosmart sedang menangani hal tersebut dan menghadirkan solusi pengalaman berbelanja yang lebih baik.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag