ArchKidtecton Mengenalkan Konsep Arsitektur Kepada Anak-Anak
Untuk mendorong anak-anak Indonesia lebih menikmati proses belajar ketimbang sekadar mengejar hasil instan, Sugiarto Witaria tergerak menghadirkan ArchKidtecton di Jakarta pada Juli 2023. Lembaga pendidikan ini lebih banyak mengenalkan anak pada bidang arsitektur, karena arsitektur adalah salah satu wadah yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu STEM (Science, Technology, Engineering, Art, Math) dengan art atau seni.
“Ini adalah cara yang menyenangkan dan kreatif untuk mengembangkan banyak keterampilan sekaligus. Yang lebih seru lagi, karena dapat diaplikasikan ke banyak cabang lain. Jadi tidak hanya untuk profesi arsitek, tapi juga bisa untuk profesi lain seperti interior designer, fashion designer, product designer, game designer, film set designer atau bisa juga jadi sutradara, dan lainnya,” kata Sugiarto kepada swa.co.id di Jakarta, baru-baru ini.
Sugi, sapaan akrabnya, menyampaikan keunikan ArchKidtecton terletak pada pendekatan pembelajaran yang mengajak siswa untuk mengeksplorasi dan mengaplikasikan prinsip STEAM atau Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika dalam kegiatan mereka melalui desain arsitektur.
Dia meyakini desain arsitektur dapat diterapkan dalam berbagai macam aspek dalam kegiatan sehari-hari termasuk dalam proses pembelajaran peserta di sekolahnya masing-masing.ArchKidtecton tidak memiliki batas waktu pendidikan tertentu, karena tingkat kesulitan projek yang diberikan terus berkembang sesuai dengan kemajuan kemampuan peserta. Selain itu, tidak menerapkan sistem kelulusan, namun skill akan diraih jika memahami materi yang diberikan dengan baik.
Sugi jatuh cinta kepada dunia arsitektur sejak remaja. Setelah lulus dari SMAK 2 Penabur Jakarta, Sugi memilih jurusan arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Jawa Barat. Arsitektur merupakan salah satu jurusan favorit di kampus ini.
Kemudian, Sugi menguji keberuntungannya dengan mencari pekerjaan di Beijing, China tahun 2008. “Jadi awalnya saya ke China itu atas permintaan orangtua, lalu saya berangkat dengan visa turis. Tapi, selanjutnya bekerja di perusahan desain arsitektur yang tidak hanya merancang, tapi juga membangun,” ungkap pria kelahiran 28 Mei 1979 ini.
Selama lebih dari 10 tahun, Sugi malang-melintang di Beijing melakukan hal yang disukainya yaitu arsitektur. Setelah sempat merasakan kerja di tiga perusahaan yang berbeda, Sugi memutuskan untuk pulang ke Indonesia. “Pas balik ke Indonesia saya terpikir untuk mengajarkan dasar-dasar arsitektur kepada anak-anak sejak usia dini. Inisiatif yang sudah saya lakukan waktu masih kuliah. Ketika itu sambil memberikan pengajaran menggambar arsitektur kepada siswa yang ingin ikut tes masuk ke jurusan arsitektur Unpar,” terang Sugi.
Mendirikan Lembaga Pendidikan
Ide itulah yang kemudian direalisasikan menjadi lembaga Archkidtecton untuk memperkenalkan dasar-dasar arsitektur kepada anak-anak sejak usia dini. Jadi, Archkidtecton itu didirikan bukan untuk membuat anak-anak menjadi seorang arsitek. ”Anak-anak bisa menjadi apa saja sesuai dengan minatnya. Yang kami ajarkan adalah dasar-dasar desain arsitektur sambil membuat proyek baik secara individu atau berkelompok,” tutur Sugi yang memiliki siswa hingga 80 orang.
Menurut Sugi, di zaman yang serba instan ini, ternyata anak-anak sekarang banyak yang kesulitan memahami bentuk dalam dimensi 2D atau 3D. “Materi yang kami ajarkan berfokus pada dasar-dasar desain arsitektur. Salah satunya seperti memahami bentuk atau objek dalam 2D dan 3D. Program Archkidtecton bertujuan untuk mengenalkan anak-anak sejak dini pada konsep-konsep ini,” jelasnya.
Mengapa pemahaman 2D dan 3D penting? Sugi menjelaskan, karena dengan memahami bentuk dari berbagai sudut pandang memutar, membalik, membedah, atau memotong objek, anak-anak dilatih untuk melihat suatu masalah dari berbagai sisi. Pendekatan ini akan memberikan data yang lengkap, yang kemudian dapat digunakan untuk menemukan solusi masalah secara kreatif, inovatif serta artistik.
Semua murid yang belajar di Archkidtecton mulai dari nol, dua dimensi dan tiga dimensi. Mengapa dari nol? Karena seperti belajar bahasa yang memiliki huruf sendiri seperti Rusia, China, Jepang atau Korea, kita sebagai manusia visual itu mengingat gambar itu jauh lebih mudah daripada membuat gambar. “Jadi misalnya kalau ditanya di sekolah ini gambar bentuk atau objek apa, anak-anak bisa dengan mudah untuk mengenal dan menyebutkan namanya dengan benar. Namun, belum tentu bisa kalau untuk disuruh membuat gambar itu,” ungkap Sugi.
Sugi menyebutkan anak-anak yang terdaftar di Archkidtecton itu berusia 5 tahun hingga 15 tahun. Biasanya mereka belajar 4 kali dalam sebulan dengan biaya antara Rp750 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan. Dalam perkembangannya, pembelajaran Archkidtecton banyak diminati masyarakat. Alhasil berawal dari satu cabang kini ada dua cabang di wilayah Muara Karang (Jakarta Barat) dan Mampang (Jakarta Selatan). Begitu halnya peserta, tidak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa. Namun, ke depan, Sugi ingin menjadikan program ini sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, terutama dimulai dari usia SD. (*)