Ashari, Lulusan SMK yang Mengkreasikan Mesin Pengolah Sampah

null
Mesin incinerator pembakar sampah di Bantul, Yogyakarta. (Foto : Gigin W. Utomo/SWA).

Masalah sampah yang tidak tertangani dengan baik, ternyata menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Setidaknya itulah yang dirasakan Ashari. Pria asal Bantul, Yogyakarta ini menciptakan mesin incinerator khusus untuk membakar sampah.

Ashari, pendiri dan owner PT Hari Mukti Teknik (HMT), adalah pengusaha yang jeli menangkap peluang bisnis. Pria paruh baya ini merupakan kreator ulung di bidang teknik permesinan. Ia pemilik merek Kanaba dan Siyuba. Keduanya merupakan produk mesin laundry buatan anak bangsa yang pertama maraih sertifikat SNI (Standar Nasional Indonesia) dan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri).

Setelah sukses memproduksi dan memasarkan aneka mesin laundry berkapasitas besar, Ashari ternyata tertarik untuk mencoba meraih keberuntungan dari dunia persampahan. Sejak beberapa tahun belakangan, ia melakukan riset bersama tim R&D di Hari Mukti Teknik untuk menciptakan mesin pengolah sampah.

Ketertarikan Ashari pada mesin pengolah sampah bukan hanya pertimbangan bisnis semata. Ia mengaku prihatin melihat problem persampahan di negeri ini, khususnya di Kota Yogyakarta "Saya terpanggil untuk ikut mengatasi masalah sampah yang carut marut tidak tertangani dengan baik di Yogyakarta," kata Ashari kepada swa.co.id di Bantul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu .

Sekedar informasi, hingga memasuki tahun 2025 ini, kota Yogyakarta memang masih menghadapi problem sampah yang serius. Yogyakarta darurat sampah. Meski sudah berlangsung lama, sampah belum teratasi dengan tuntas. Kota yang dulunya berslogan berhati nyaman, kini diplesetkan menjadi berhenti nyaman. Masyarakat terganggu dengan penumpukan sampah di berbagai sudut jalan.

Permasalah sampah tersebut muncul setelah TPA Piyungan yang selama ini, menampung sampah dari Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul ditutup. Penutupan tersebut membuat ketiga daerah tersebut kelabakan. Mereka seperti gagap tak mampu menangani sampah dengan baik."Saya sedih melihat sampah dibuang di sembarang tempat di jalan dan sungai" ujar Ashari yang merampungkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

null
(depan) Ashari, pendiri PT Hari Mukti Teknik dan sang kreator mesin incinerator di Bantul, Yogyakarta. (Gigin W. Utomo/SWA).

Melihat kondisi tersebut, Ashari merasa terpanggil dan mencoba menawarkan solusi. Bersama timnya, ia membuat mesin di bengkel produksi HMT yang berada di Piyungan, Kabupaten Bantul. Setelah melalui serangkaian uji coba, lahirlah beberapa jenis mesin incinerator sampah yang dilabeli Dong So.

Pada tahap awal berhasil dikembangkan mesin yang digunakan membakar material sampah plastik. Hasilnya berupa arang dan cairan yang bisa digunakan sebagai bahan bakar seperti BBM. Incinerator generasi pertama dia beri merek Dong So Pirolisis. Saat ini tersedia Dong So 500 liter dan Dong So Pirolisis 5.000 liter.

Strategi Pemasaran

Pemasaran untuk menjual incinerator menggunakan kanal offline dan online. Selain menawarkan langsung ke calon konsumen, misalnya pemerintah daerah. Mesin ini mudah dibeli calon konsumen di berbagai market place dan website perusahaan. Bahkan juga sudah masuk e-katalog LPSE untuk lelang elektronik.

Setelah sukses memproduksi mesin incinerator Pirolisis, Ashari mulai mengembangkan incinerator dengan kapasitas lebih besar yang dinamakan Dong So Pyrocenator. Kelebihan mesin incinerator generasi kedua tersebut, memiliki keunggulan lebih cepat mengatasi sampah. Sampah tidak harus dipilah tapi langsung dibakar.

Menurut Ashari, Pyrocenator memiliki keunggulan karena ramah lingkungan. Tidak menghasilkan limbah yang berpotensi mengganggu lingkungan. Produk abu yang dihasilkan bisa dijadikan material bangunan.

Keberuntungan sepertinya sedang membersamai Ashari. Begitu mesin siap dirakit, ternyata Pemda Kulonprogo membutuhkan mesin tersebut. Mesin yang masih gress itupun langsung dipasang di TPA Banyuroto, Nanggulan, Kulonprogo.

Pada awal Desember kemarin, mesin berikut rumah produksinya senilai Rp9.8 miliar diserahkan Ashari kepada Pjs Bupati Kulonprogo, Srie Nurkiatsiwi. Dana untuk membayar mesin dan membangun gedung gedung TPA Banyuroto berasal dari Dana keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo merupakan institusi pemerintah pertama yang menguji coba ketangguhan incinerator Dong So Pyrocenator tersebut. Mesin tersebut dinilai cukup efektif dan efisien karena semua jenis sampah langsung bisa dibakar. "Hasil pembakarannya berupa abu tanpa residu," ujar Ashari.

Ashari menjelaskan mesin incinerator tersebut memiliki kapasitas 1 ton per jam. Jika dioperasikan selama 24 jam maka bisa membakar sampah sebanyak 24 ton. Pihaknya meyakini dengan kapasitas tersebut, maka persoalan sampah, khususnya di Kulonprogo, bisa ditangani dengan cepat.

Ashari optimistis kualitas produknya lebih unggul dari produk sejenis buatan luar negeri yang harganya jauh lebih mahal itu. "Sebaiknya pemerintah tidak tergantung dengan produk import, karena kami sebagai pengusaha lokal bisa menciptakan produk yang bisa diandalkan," papar Ashari.

Srie mengatakan Pemkab Kulonprogo sangat mendukung penggunaan mesin untuk mengatasi masalah persampahan. Ia juga mengatakan, permasalahan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab satu wilayah, tetapi membutuhkan sinergi antar daerah. Dia menyampaikan pentingnya kolaborasi antara Pemkab Kulon Progo dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Menurut dia, dengan luasnya area di TPA Banyuroto dan letaknya yang jauh dari pemukiman, wilayah ini memiliki potensi besar sebagai pusat pengolahan sampah bersama. “Dengan edukasi yang baik kepada masyarakat, keberadaan TPA tidak lagi menjadi masalah, justru bisa memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi,” jelas Srie. (*)

# Tag