Inovasi dan Kolaborasi: Strategi Alner Pimpin Transisi ke Ekonomi Sirkular
Alner, perusahaan daur ulang sampah di Indonesia, membidik pertumbuhan bisnis di 2025 seiring tren pertumbuhan ekonomi sirkular.
“Dengan momentum investasi hijau, adopsi di sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), kami berencana berekspansi di kota lain di Indonesia," ucap Co-Founder dan CEO Alner, Bintang Ekanda, saat dihubungi swa.co.id di Jakarta, pada Jumat (10/1/2025).
Tahun 2025, lanjut Bintang, menawarkan potensi cerah bagi Alner untuk memimpin transisi dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular dengan inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Tren ekonomi sirkular disokong oleh Global Plastic Treaty, pengurangan polusi plastik secara global. Sedangkan di Indonesia ada faktor pendorong lantaran sistem refill dan reuse diyakini akan semakin atraktif di tahun ini dan periode mendatang. Hal ini diyakini menjadi variabel pendorong pertumbuhan bisnis Alner di tahun ini.
Alner menjalin kemitraan dengan 1.000 mitra yang tersebar di Jabodetabek. Para mitra mendapat pendapatan tambahan sekitar Rp1-3 juta per bulannya. Alner pada tahun ini menargetkan penambahan jumlah mitra dan pembinaan mitra. Bintang memproyeksikan pendapatan para mitra Alner di tahun ini ditargetkan naik menjadi Rp5 juta per bulan.
Edukasi dan Promosi
Agar mencapai target itu, Alner menggulirkan edukasi dan promosi di media sosial dengan para mikro influencers, aktif berbicara di berbagai forum lingkungan atau ekonomi sirkular, hingga meluncurkan fitur gamification di aplikasi.
Tak ketinggalan, mereka juga berkolaborasi dengan bank sampah lokal, komunitas Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) hingga lembaga nirlaba.
Pada 2025 ini, Alner mengembangkan fitur subscription di aplikasi digitalnya agar pelanggan lebih mudah melakukan pembelian belanja bulanan, lalu dikirim sesuai jadwal dan tidak perlu lagi mengulang pemesanan.
Adapula fitur gamification untuk menghitung berapa jumlah plastik yang sudah dicegah per individu hingga berapa poin yang sudah dikumpulkan. “Sebelumnya, transaksi pembeli banyak dilakukan melalui WhatsApp, namun saat ini pengguna aplikasi Alner terus bertambah yang jumlahnya lebih dari 1.000 pelanggan,” ucap Bintang yang menggondol gelar Master of Science di Univesity of Leeds itu.
Dia juga mengungkapkan rencana ekspansi ke dua wilayah. "Kami berencana berekspansi ke Bali dan Surabaya dalam waktu dekat,” pungkas Bintang.
Alner didirikan oleh Bintang di Jakarta pada 2020. Pembuatan bisnis ini karena dirinya melihat fakta bahwa jenis sampah plastik yang sangat sulit didaur ulang secara ekonomis seperti sachet dan pouch beredar sangat luas di masyarakat, sedangkan tingkat daur ulang di Indonesia rendah.
“Masalah persampahan di Indonesia sangat besar. Lalu upaya pengendalian sampah itu hanya dalam bentuk reaktif daur ulang. Daur ulang penting juga, cuma ini bukan satu-satunya cara mengurangi sampah,” ujarnya.
Berdasar pengalamannya di Inggris, sistem reusable sudah lebih unggul karena ada sistem deposit yang memudahkan warga lokal mengembalikan kemasan mereka ke retailer, lalu mendapatkan uang. Bintang berpikir bahwa ini peluang yang sangat bagus untuk di Indonesia, jadi tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga dapat nilai ekonomi.
Bergabung bersama Enviu, Bintang membangun bisnis ini dari nol. Dirinya mulai dengan 50 botol kemasan dan dua poin penjualan. Pada Agustus 2020, inisiatifnya ini mendapat Best Startup AIS Innovation Challenge. Pada Januari 2021, Bintang meluncurkan layanan pengiriman ke rumah.
Enviu adalah studio ventura sosial yang bermarkas di Rotterdam, Belanda. Di Indonesia, Enviu mendirikan ventura-venturanya melalui program bernama Zero Waste Living Lab yang berfokus pada solusi reuse untuk pencegahan kemasan plastik sekali pakai.
Pada 2021, perusahaan rintisan ini terus berkembang dengan menggandeng brand FMCG global seperti P&G. Selanjutnya mendapat banyak pencapaian, mulai dari memenangkan Alibaba Cloud Accelerator and iF Social Impact, serta memiliki 20 poin penjualan dan menawarkan 50 SKU (Stock Keeping Unit).
Co-Funder dan CEO Alner, Bintang Ekananda. (Foto : M.Ubaidillah/SWA). Tahun 2022, Bintang mengamankan dana hibah US$450.000 dari ADB & kemitraan dengan WIPRO. Menutup tahun 2022, juga mendapat dana hibah dari NREF sebesar US$142.000. Lalu, tahun 2023, Koinpack berubah nama menjadi Alner.
"Alner itu artinya alternative contain,” kata Bintang saat dijumpai swa.co.id di kantor Alner di bilangan Kemang, Jakarta, pada Oktober 2023.
Konsep Bisnis
Alner menyediakan produk-produk harian rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, cairan pencuci piring dari brand-brand yang sudah familiar di masyarakat dalam kemasan yang bisa dikembalikan dan digunakan ulang.
Konsep bisnis Alner mirip dengan langganan air minum isi ulang yang menggunakan galon yang dapat dikembalikan. Alner bekerja sama dengan brand untuk mendistribusikan produk brand tersebut dengan kemasan yang disediakan oleh Alner.
“Jadi orang bisa beli produk melalui Alner atau mitra Alner. Nanti jika produknya habis, kemasannya bisa dikembalikan. Dicuci dulu, lalu digunakan ulang. Kemasan yang digunakan bisa dilacak berapa kali dipakai. Ini poin penting dalam circularity,” kata Bintang. (*)