Perluas Akses Pembiayaan UMKM, AwanTunai Raih Pendanaan Utang U$60 Juta
Perusahaan rintisan fintech Indonesia, AwanTunai, yang berfokus pada ekosistem rantai pasok FMCG (Fast Moving Consumer Goods), berhasil menghimpun pendanaan utang (debt financing) hingga US$60 juta melalui putaran pembiayaan sindikasi yang dipimpin oleh investor berbasis dampak asal AS, Accial Capital.
Pendanaan ini merupakan bagian dari kemitraan strategis yang melibatkan beberapa perusahaan jasa keuangan global. Beberapa perusahaan tersebut antara lain Variant Investments, Developing World Markets, Swiss ResponsAbility, Symbiotics, dan Saison Investment Management.
CEO & Co-founder AwanTunai, Dino Setiawan, mengungkapkan pendanaan utang ini akan digunakan untuk mempercepat rencana AwanTunai dalam meningkatkan operasi, memperluas portofolio pinjaman, meningkatkan penyaluran pinjaman, dan memperluas akses pembiayaan bagi UMKM.
Dino menjelaskan bahwa AwanTunai berfokus pada penyediaan solusi kredit yang terjangkau dan fleksibel bagi UMKM tradisional di Indonesia, khususnya dalam rantai pasok FMCG yang melibatkan warung, grosir, toko kelontong, dan distributor. Layanan yang ditawarkan AwanTunai meliputi pembiayaan pembelian stok atau inventaris toko, pemesanan online terintegrasi, dan solusi manajemen inventaris untuk grosir.
"Keseluruhan layanan ini secara eksklusif dapat di akses melalui ekosistem digital AwanToko,” kata Dino dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (10/1/2025).
AwanTunai menjembatani kesenjangan pembiayaan untuk UMKM, menawarkan solusi kredit yang fleksibel untuk bisnis yang belum terlayani, membuka peluang untuk pertumbuhan dan ketahanan.
Pembiayaan yang terjangkau di AwanTunai itu memungkinkan usaha kecil untuk meningkatkan arus kas, berinvestasi dalam teknologi, serta meningkatkan produktivitas dan profitabilitas serta memperkuat ekosistem rantai pasokan Indonesia.
Menurutnya, UMKM di Indonesia menghadapi kesenjangan pembiayaan sebesar US$165 miliar, sehingga banyak usaha kecil yang tidak terlayani oleh sistem perbankan tradisional. AwanTunai menjawab tantangan ini dengan memanfaatkan solusi pinjaman digital untuk memberdayakan UMKM, memperkuat rantai pasokan, dan mempromosikan inklusi keuangan.
Awan Tunai didirikan pada 2017 oleh Dino Setiawan dan Rama Notowidigdo, AwanTunai saat ini menyalurkan pinjaman lebih dari Rp1 triliun per bulan dengan target meningkat menjadi Rp3 triliun pada akhir tahun 2025. Perusahaan ini mengklaim suku bunga mereka sekitar 2%, salah satu yang terendah di sektor ini.
"Berbeda dengan banyak pemain fintech lainnya yang mendiversifikasi produk dan wilayah operasional, bahkan hingga ke manca negara, kami tetap fokus pada satu sektor dengan permintaan tinggi, yaitu sektor barang-barang konsumsi di Indonesia. Strategi ini menjadi kunci keberhasilan kami," ujar Dino.
AwanTunai didukung oleh Insignia Ventures Partners, International Finance Corporation, Global Brain, BRI Ventures, dan OCBC Ventura, serta sejumlah investor lainnya. Hingga saat ini, AwanTunai telah mengumpulkan lebih dari US$50 juta dalam pendanaan ekuitas dan lebih dari US$100 juta dalam pendanaan utang dari berbagai investor global.
Pada Maret 2024, AwanTunai menutup putaran pendanaan Seri B senilai US$27,5 juta yang dipimpin oleh kelompok perbankan global dan investor negara, termasuk Norfund (dana pemerintah Norwegia untuk negara berkembang), MUFG Innovation Partners dari Jepang, dan OP FinnFund, dana dampak dari Finlandia.
Pendanaan ini merupakan investasi pertama Norfund di perusahaan fintech Asia Tenggara. Dino mengungkapkan AwanTunai telah mencapai EBITDA positif dan menargetkan laba bersih setelah pajak pada pertengahan 2025. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.