Smart Production ala Pupuk Kaltim

null
Budi Wahju Soesilo, Direktur Utama Pupuk Kaltim (Foto: Pupuk Kaltim)

Perkembangan teknologi digital berdampak pada seluruh sektor industri/bisnis. Tak hanya terkait dengan industri yang langsung melayani kebutuhan konsumen ―seperti perbankan, ritel, transportasi, hiburan, ataupun hospitality—tetapi juga pada industri yang menyediakan bahan atau sarana produksi, seperti industri pupuk dan petrokimia.

Karena itulah, Manajemen PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menempatkan transformasi digital sebagai elemen penting dalam mencapai efisiensi produksi serta meningkatkan kapasitas operasional perusahaan secara berkelanjutan.

Saat ini, Pupuk Kaltim merupakan produsen pupuk urea terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki 13 pabrik, di antaranya lima pabrik amonia berkapasitas 2,74 juta ton/tahun, lima pabrik urea berkapasitas 3,43 juta ton/tahun, dan tiga pabrik NPK berkapasitas 300 ribu ton/tahun.

Dengan kapasitas produksi sebesar ini, penerapan teknologi digital menjadi kunci dalam menjaga produktivitas setiap lini produksi di anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) ini.

Sesuai dengan bidang bisnisnya, salah satu langkah penting yang diayun Pupuk Kaltim ialah implementasi teknologi Smart Production ―yang menjadi bagian penting dari IT Master Plan perusahaan ini. Sistem Smart Production mengintegrasikan berbagai aspek dan data terkait secara digital untuk mendukung optimalisasi proses produksi dan meningkatkan kualitas produk.

Bagi Pupuk Kaltim, implementasi Smart Production merupakan suatu keniscayaan mengingat perencanaan produksi di industri pupuk memiliki kompleksitas sangat tinggi, serta melibatkan berbagai variabel, seperti ketersediaan bahan baku, kapasitas pabrik, permintaan pasar, hingga faktor eksternal seperti cuaca dan kondisi ekonomi global.

Dengan jumlah variabel yang demikian besar, pendekatan konvensional dalam perencanaan produksi sering kurang efisien dan tidak mampu memberikan prediksi yang akurat.

Menurut Budi Wahju Soesilo, Direktur Utama Pupuk Kaltim, sebelum melakukan transformasi digital, pihaknya melakukan kajian mendalam serta membentuk tim kerja. Champion Team, demikian nama tim tersebut, mengawal implementasi sistem Smart Production ―di samping juga bertugas untuk membantu memperlancar proses perubahan kerja.

“Pupuk Kaltim telah melakukan digitalisasi dan integrasi data di seluruh lini proses produksi, sehingga saat ini kami dapat mengimplementasikan penggunaan teknologi untuk mengakselerasi produksi melalui otomasi dan prediksi,” kata Budi.

Untuk memastikan pemilihan dan implementasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan pasar, Manajemen Pupuk Kalim menerapkan kegiatan monitoring dan evaluasi kerja secara real time.

Proses ini memungkinkan perusahaan untuk menilai apakah teknologi yang diterapkan sudah efektif mendukung operasional perusahaan, mengoptimalkan kapasitas produksi, dan selaras dengan tujuan bisnis.

Implementasi Smart Production di Pupuk Kaltim meliputi aspek-aspek performa pabrik yang terdiri dari produksi, konsumsi energi, inventori dan operasional pabrik, kualitas dan stok produk, evaluasi kesehatan dan pemeliharaan aset, serta kinerja lingkungan.

Setiap lini produksi telah dilengkapi dengan platform teknologi informasi khusus yang terhubung dengan manajemen Pupuk Kaltim untuk memudahkan pengambilan keputusan.

Aspek SDM tentu punya peran penting juga. “Industri pupuk dan petrokimia ini memiliki tingkat kompleksitas produksi yang tinggi, maka dibutuhkan juga SDM dengan kemampuan mumpuni agar operasional pabrik berjalan dengan baik dan efisien,” kata Budi. Maka, Pupuk Kaltim berusaha mempersiapkan karyawan agar terampil dan kompeten serta bisa menjawab kebutuhan industri saat ini melalui pelatihan yang rutin.

Pupuk Kaltim juga menyiapkan karyawan dengan berbagai pelatihan untuk dapat memanfaatkan teknologi digital. Contohnya, dengan program pelatihan House of Future, yakni program virtual reality-based operator training pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk pabrik amonia dan urea untuk meningkatkan serta mengembangkan kompetensi operator.

Melalui simulasi dengan kemiripan hingga 90% dengan kondisi lapangan, Pupuk Kaltim optimistis mampu menciptakan operator masa depan yang kompeten dan percaya diri dengan kemampuannya. Program ini memiliki level kompetensi bernama Operator Development Plan (ODP), mulai dari level ODP Basic, Intermediate, Advance, hingga Advance+.

Setelah menyelesaikan setiap level pelatihan, karyawan akan mendapatkan lisensi internal sebagai apresiasi. Program ini memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mempraktikkan kasus-kasus operasional produksi secara langsung, termasuk untuk situasi darurat. Dengan demikian, karyawan dapat lebih siap untuk menghadapi situasi sebenarnya di lapangan.

Ke depan, menurut Budi, House of Future diharapkan mampu menjadi pusat untuk pelatihan VR dan tur industri di sektor pupuk nasional (terutama untuk produk pupuk urea) dengan efisiensi dan tingkat akurasi operasional pabrik yang tinggi.

Teknologi Smart Production yang sudah diterapkan oleh Pupuk Kaltim secara langsung telah memberikan perubahan positif yang cukup signifikan dalam peningkatan produktivitas pabrik,” kata Budi. Di saat yang bersamaan, penerapan teknologi ini pun mampu meningkatkan efisiensi energi,” tambahnya.

Budi meyakini, transformasi digital memungkinkan Pupuk Kaltim untuk terus berinovasi dan mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan pupuk berkualitas.

Pemanfaatan teknologi di lingkup kerja Pupuk Kaltim dinilai dapat menjadi kendaraan untuk mendukung kinerja proses dan operasional bisnis. Melalui peningkatan kapasitas produksi, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pupuk petani di dalam negeri dan memperkuat posisi di pasar nasional.

“Kami akan terus mengembangkan aplikasi dan teknologi yang ada dalam Smart Production dengan fokus pada inovasi yang berkelanjutan. Namun, inovasi tidak akan terjadi tanpa inisiatif dan kreativitas karyawan,” kata Budi (*)

# Tag