Indonesia Kecipratan Manfaat China + 1, Ini Komentar Bank DBS soal Bisnis Pusat Data dan AI

Indonesia Kecipratan Manfaat China + 1, Ini Komentar Bank DBS soal Bisnis Pusat Data dan AI
Chief Investment Officer DBS Bank, Hou Wey Fook dalam acara daring (online) CIO DBS Insights 1Q25 Game Changers pada Senin (13/1/2025). Tangkapan layar Nadia K. Putri/SWA

Bank DBS memperkirakan, bisnis pusat data dan kecerdasan buatan (AI) akan terus berkembang di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia. China + 1 atau China Plus One merupakan salah satu strategi untuk menarik investasi asing, terutama dari Cina.

“Saya pikir Indonesia, Malaysia, semuanya mendapatkan keuntungan dari China Plus One. Banyak sekali investasi yang masuk ke sektor teknologi,” jelas Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook dalam acara daring (online) CIO DBS Insights 1Q25 Game Changers pada Senin (13/1/2025).

Fook mencontohkan terbentuknya Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) pada awal tahun 2025 ini. Kawasan baru tersebut dirancang untuk menarik investasi global sekaligus memperalam hubungan ekonomi dua negara tersebut. Terlebih lagi, investasi pusat data dan AI semakin sering menarik investor asing di Malaysia, seperti Microsoft, Amazon Web Services (AWS), Google dan Oracle.

Sementara di Indonesia, investasi pusat data dan AI rencananya akan dilakukan oleh Equinix Indonesia, dengan menggandeng PT Astra Digital Intenasional. Rencana pembangunan pusat data itu akan dilakukan di Kuningan Barat, Jakarta Pusat pada tahun ini. Adapun modal yang dibutuhkan sebesar US$74 juta.

“ASEAN selalu menjadi tempat bagi banyak perusahaan multinasional untuk mendirikan pabrik dan sebagainya,” tutur Fook.

Meskipun begitu, Bank DBS memperkirakan awal tahun 2025 akan terjadi perlambatan terkendali (soft landing), khususnya di Amerika Serikat. Hal ini berpotensi membawa suku bunga ke tren yang lebih rendah.(*)

# Tag