Bank Mandiri: Mantapkan Budaya Inovasi dan Strategi Human Capital

null
Agus Dwi Handaya, Direktur Kepatuhan dan SDM Bank Mandiri (Foto: Bank Mandiri).

Bank Mandiri, sebagai bank hasil merger sejumlah bank BUMN di awal Masa Reformasi, telah melewati waktu dan proses cukup panjang dalam membangun kematangan organisasi (organizational maturity).

Konsep kematangan organisasi secara umum mengacu pada proses evolusi organisasi dalam membangun kesiapan dan kemampuan pada proses bisnis, SDM, dan infrastruktur pendukung (seperti teknologi).

Dalam hal proses bisnis, Bank Mandiri terus berupaya mengembangkan dan menyempurnakannya melalui sejumlah langkah. Di antaranya, penyusunan proses kerja yang lebih terstruktur dan optimal serta pemanfaatan teknologi dan digitalisasi perbankan. Hal ini dilakukan untuk mencapai proses bisnis yang lebih efisien, transparan, dan terukur.

“Dokumentasi yang terorganisir, manajemen risiko menyeluruh, dan kepatuhan terhadap regulasi juga menjadi prioritas dalam perancangan proses bisnis untuk mendukung tata kelola yang baik,” kata Agus Dwi Handaya, Direktur Kepatuhan dan SDM Bank Mandiri.

Di tengah persaingan industri perbankan yang ketat, Bank Mandiri dituntut untuk mampu terus berinovasi sesuai dengan kebutuhan pasar. Di sinilah kematangan budaya perusahaan dibutuhkan untuk mampu mendukung inovasi dan pertumbuhan bisnis.

Sejumlah inisiatif strategis telah dijalankannya. Antara lain, program Bottom-up Innovation, program yang mendorong partisipasi aktif pegawai Bank Mandiri dalam menginkubasi ide inovatif untuk memecahkan permasalahan strategis (big-rock problems), sekaligus menciptakan high-impact innovation.

Untuk menyebarluaskan budaya inovasi, Bank Mandiri juga membentuk tim (squad) inovasi di setiap unit kerja sebagai perpanjangan tangan Innovation Management, lengkap dengan pembekalan dan panduan pelaksanaan. Bank Mandiri juga menyusun modul pembelajaran inovasi berjenjang dan membentuk Innovation Community sebagai ruang diskusi dan berbagi pengetahuan.

Kendati begitu, menurut Agus, untuk mencapai kematangan budaya perusahaan yang lebih tinggi, Bank Mandiri masih perlu membenahi beberapa aspek penting.

“Penguatan komunikasi dan sosialisasi harus kami lakukan secara konsisten untuk meningkatkan pemahaman pegawai tentang pentingnya budaya inovasi dan dampaknya terhadap pertumbuhan bisnis,” katanya.

Peran pemimpin juga sangat dibutuhkan. Para pemimpin senior di Bank Mandiri memiliki peran sebagai katalis implementasi budaya perusahaan. Lalu, agar pegawai lebih terdorong untuk berinovasi, inisiatif inovasi diintegrasikan dalam proses kerja sehari-hari melalui penetapan target, KPI, dan sistem reward yang jelas

“Kami juga perlu menyusun framework pengukuran yang komprehensif untuk mengevaluasi kemajuan budaya inovasi secara berkala, kata Agus.

Hasil nyata inisiatif inovasi yang cukup besar di antaranya keberhasilan mengembangkan super-app Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri, dua platform digital yang mendukung berbagai kebutuhan perbankan nasabah (masing-masing untuk nasabah ritel dan korporat).

Konsistensi Bank Mandiri dalam mendorong dan mengawal semangat inovasi mendapatkan pengakuan global melalui raihan sertifikasi ISO 56002 Kitemark Innovation Management, sebuah standar internasional yang berfokus pada sistem manajemen inovasi.

Dalam membangun kematangan di bidang manajemen SDM, organisasi Human Capital Bank Mandiri menerapkan strategi 3-3-1. Maksudnya, ada tiga strategi human capital, yakni Accelerate Capability, Augment Productivity, dan Amplify Experience.

Lalu, ada tiga mandat sebagai unit HC, yakni mendukung strategic plan dan corporate plan, berkontribusi dalam pengembangan talenta di Indonesia, dan menciptakan employee experience yang bermakna. Dan, ada satu tujuan,yakni menciptakan pemimpin dan SDM yang andal dan terpercaya.

Untuk merealisasi strategi 3-3-1 itu, ada sejumlah inisiatif yang dijalankan Bank Mandiri. Pertama, Comprehensive Leadership Program, yakni program pengembangan kepemimpinan yang dirancang untuk setiap jenjang karier pegawai, mulai dari pelatihan untuk pegawai newly onboard hingga program akselerasi bagi top talent.

Kedua, Mandiri Well-being Program, yakni program kesejahteraan pegawai yang mencakup empat dimensi: kesehatan fisik, psikologis, finansial, dan sosial. Program ini didukung komunitas Mandiri Club, yang mendorong partisipasi aktif pegawai melalui berbagai aktivitas yang relevan dan menyenangkan.

Ketiga, pemanfaatan teknologi untuk pengembangan SDM. Terutama, penggunaan platform teknologi MYLearn sebagai enabler untuk peningkatan kecakapan para Mandirian. Platform ini mencakup tahapan mulai dari penilaian awal potensi dan keterampilan individu, penyusunan rencana pembelajaran, hingga eksekusi beragam mode pembelajaran, seperti active learning, development dialogue, dan practical learning.

Keempat, Women Leadership Program, yang bertujuan membangun kapabilitas kepemimpinan perempuan di lingkungan kerja. Program ini mencakup workshop, mentoring, dan sesi inspiratif, serta mendukung kesehatan mental melalui aktivitas well-being.

Kelima, program Mandiri Young Leaders (MYLead), yakni inisiatif Bank Mandiri untuk memperkuat leadership pipeline dan mencetak pemimpin unggul yang siap membawa organisasi menuju kesuksesan berkelanjutan. Program percepatan pengembangan ini dirancang khusus bagi talenta BOD-3 berpotensi tinggi, melalui rangkaian penugasan menantang di posisi-posisi strategis.

Dan keenam, My Digital Academy, program early engagement & hiring untuk mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduates dari berbagai universitas dan fakultas terpilih, Ini berupa pelaksanaan program pengembangan kapabilitas melalui innovation bootcamp selama satu bulan.

Dari sisi infrastruktur dan teknologi, Bank Mandiri juga berupaya terus mengembangkan kapabilitasnya. Inovasi berkelanjutan melalui pengembangan aplikasi Livin’, Livin’ Merchant, dan Kopra didukung oleh penguatan kapabilitas pegawai dan teknologi dalam rangka menghadirkan layanan yang optimal, efisien, dan efektif.

Inisiatif yang dilakukan antara lain berupa implementasi solusi berbasis kecerdasan buatan (AI), untuk mendorong pertumbuhan bisnis, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan manajemen risiko yang lebih baik. Juga dilakukan modernisasi infrastruktur teknologi, termasuk optimalisasi penggunaan teknologi cloud.

Selain itu, juga ada langkah penguatan teknologi keamanan siber untuk memastikan ketahanan sistem dan keberlangsungan layanan, melalui mekanisme 24x7 cyber security monitoring, multilayer defense mechanism, dan cybersecurity awareness secara bankwide.

Langkah-langkah pengembangan kematangan organisasi itu dibarengi dengan upaya menerapkan prinsip GCG. Di antaranya, memperbarui ketentuan internal secara berkala, menyelaraskanya dengan regulasi terkini dari otoritas terkait dan best practice internasional.

Bank Mandiri juga melakukan evaluasi berkesinambungan terhadap penerapan Tata Kelola secara individual maupun secara terintegrasi sebagai entitas konglomerasi keuangan. Tak kalah pentingnya, bank ini juga berpedoman pada Sistem Manajemen Risiko yang memadai untuk menjaga keberlanjutan bisnisnya. (*)

# Tag