LSPR Bizfest Menggaungkan Ide Bisnis dan Produk Buatan Mahasiswa LSPR dengan Praktik SDG's
Fakultas Bisnis di LSPR Institute of Communication & Business menggelar festival bisnis tahunan bertajuk LSPR Bizfest 2025. Kegiatan ini merupakan festival kolaborasi antara mahasiswa-mahasiswi batch 3 dari Program Studi Manajemen, Pariwisata, dan Bisnis Jasa di Fakultas Bisnis LSPR. Festival tersebut digelar di Taman Kota Peruri, Jakarta Selatan, pada 18 Januari 2025.
Acara 4th LSPR BizFest 2025 itu mengangkat tema Next Gen Entrepreneur: Empowering Minds Through Sustainable Entrepreneurship. Adapun acara ini dirancang untuk menjadi platform para civitas akademika Fakultas Bisnis LSPR dalam memamerkan purwarupa dari ide bisnis inovatif melalui showcase, menginspirasi generasi muda untuk memulai bisnis ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui sesi talkshow inspiratif, workshop interaktif bersama London School Beyond Academy (LSBA) serta berbagai sesi menarik lainnya.
Yuliana Riana Prasetyawati, Dekan Fakultas Bisnis LSPR, menceritakan ada perebedaan di acara LSPR Bizfest tahun ini yang digelar secara terbuka dan dibuka untuk umum. Lokasinya juga lebih besar dari tahun sebelumnya di Taman Kota Peruri, Jakarta. “LSPR Bizfest ini menampilkan produk-produk karya mahasiswa Fakultas Bisnis LSPR. tema tahun yang diangkat tentang keberlanjutan mengikuti program Sustainable Development Goals atau sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Tahun ini terdapat 44 tenant yang mengikuti acara ini, terbanyak kuliner, fesyen daur ulang dan aksesoris,” ujar Yuliana saat ditemui swa.co.id di Jakarta, Sabtu (18/1/2025).
Para mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Bisnis LSPR menampilkan karyanya. Misalnya, tiga produk yang mengambil limbah tutup botol plastik untuk dibuat menjadi manik-manik aksesoris, dan mengambil limbah kain perca kain batik yang dipadupadankan dengan bahan kulit untuk dijadikan tas selempang, Jenama dari produk tersebut wear.taschel dan meliorans.
Meliorans sebuah jenama aksesoris yang dibuat dari limbah botol sampah plastik untuk dijadikan pernak-pernik aksesoris seperti liontin anting-anting dan kalung. Putu Savita dan Aji Bhagaskoro mahasiswa LSPR, Fakultas Bisnis batch 4 semester 3, membuat ide bisnis dengan memanfaatkan limbah botol plastik. “Kami hanya menggunakan catokan rambut untuk memanaskan limbah botol plastik untuk dijadikan manik-manik aksesoris, kami belum mempunyai alat atau mesin canggih untuk memanaskan botol plastik yang menjadi lempengan/bahan yang nantinya akan dibuat beragam pernak-pernik aksesoris, gelang, kalung, anting-anting dan cincin,” ujar mereka berdua dengan penuh semangat.
Sementara, wear.taschel produk fesyen tas selempang yang dibuat dari limbah kain perca beragam corak dan motif yang dijahit atau dipadupadankan dengan kulit sintesis. Ghaitsa Raya Nadhifah Setyawan Putri, Anindya Zalfa Setyorini dan Raihanah Abidah Said, mahasiswa LSPR batch 4 ini mengkreasikan mbuat ide tersebut untuk melestarikan batik, menarik hati Gen Z untuk mengenal beragam motif atau corak batik Indonesia serta memperpanjang hubungan erat dengan perajin kulit di daerah.”Kami ingin memperkenal ragam motif batik kepada Gen Z, milenial dan masyarakat umum dengan harga yang terjangkau,” ujar mereka bertiga dengan bahagia.
Tak hanya itu, mahasiswa LSBA menampilkan karya-karya mereka seperti menjual goodie bag, tempat pensil dari limbah kain perca, gantungan HP, dan sebagainya. “Saya dan teman saya membuat karya ini dengan penuh cinta untuk tidak bergantung ke orang lain dan membuktikan bahwa kami juga bisa mempunyai kreativitas seperti kalian,” ujar Iwan salah satu mahasiswa LSBA.
Semua ide bisnis yang dibuat mahasiswa berasal dari pemikirannya mereka bukan dari ide dosen. “Kami, para dosen termasuk saya hanya memberi bimbingan kepada semua mereka agar produknya dapat terjual atau dikenal masyarakat umum. Mengajarkan mereka tentang ilmu kewirausahaan dari semester pertama,” ujar Yuliana.
Bizfest 2025 ini mempekenalkan wadah untuk para mahasiswa LSPR menjajakan produknya, yakni kayaraya. Disana masyarakat dapat menjangkau produk-produk kewirausahaan mereka dengan mudah dan aman. “Kayaraya ini seperti wadah atau market place untuk mereka berjualan langsung dengan calon pembeli secara langsung. Kayaraya dibuat agar para mahasiswa bisa berinteraksi dengan calon pelanggan mereka, mengenal karakter dari setiap pembali serta mengatahui apa yang dibutuhkan atau diminati pelanggan,” ujar Yulia.
Yulia berharap setelah lulus dari LSPR, para mahasiwa dapat membuka bisnis baru, pastinya lapangan kerja terbuka. “Ke depannya, mahasiswa dapat meningkatkan skill mereka dalam berbisnis,” ujar Yulia. (*)