Banyu Raih Pendanaan Awal US$1,25 Juta untuk Dorong Transformasi Industri Rumput Laut
Startup Banyu yang bergerak di bisnis rumput laut berbasis teknologi, berhasil meraih pendanaan awal senilai US$1,25 juta yang dipimpin oleh Intudo Ventures.
Perusahaan rintisan ini didirikan pada Desember 2023 dengan tujuan untuk merevolusi industri rumput laut Indonesia melalui penyediaan bibit berkualitas tinggi, penerapan teknik budidaya modern, serta upaya meningkatkan pendapatan stabil bagi petani lokal. Perusahaan ini juga berfokus pada pengembangan ekosistem budidaya yang efisien dan berkelanjutan.
Latar belakang kehadiran Banyu didorong oleh kondisi Indonesia sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, namun industri ini masih menghadapi banyak tantangan. Sebut saja tantangan kuantitas dan kualitas bibit yang belum optimal, praktik pertanian yang membutuhkan banyak tenaga kerja dan biaya, kurangnya transparansi harga dan permintaan pasar yang tidak konsisten, akses ke pembiayaan yang terbatas dan rendahnya penerapan data atau teknologi.
“Banyu hadir dengan solusi teknologi untuk mengatasi masalah tersebut dan mendukung petani lokal,” ujar Dodon Yamin, CEO Banyu sebagaimana dikutip Rabu, 22 Januari 2025.
Dinakhodai oleh Dodon Yamin selaku CEO, Anis Nur Aini sebagai CSO, dan Anthony Kwik sebagai Komisaris Utama, Manajemen Banyu berkomitmen untuk meningkatkan daya saing industri rumput laut Indonesia secara global.
Dodon mengklaim, metode bibit dari Banyu telah terbukti meningkatkan hasil panen hingga 20% lebih tinggi dibandingkan metode tradisional serta lebih adaptif terhadap berbagai kondisi perairan di Indonesia. Banyu juga melengkapi petani dengan protokol budidaya yang dikembangkan berdasarkan pengetahuan tentang varietas rumput laut berdasarkan lokasi dan waktu.
Sebagai negara kepulauan dengan beragam kondisi perairan, Indonesia memiliki karakteristik budidaya rumput laut yang berbeda di tiap wilayah. Hal ini mendorong Banyu memperkenalkan Farming as a Service (FaaS) untuk komoditas rumput laut.
Layanan ini memberikan solusi menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit berkualitas, manajemen budidaya, proses pasca-panen hingga pengiriman produk rumput laut sesuai kebutuhan para pelaku bisnis, seperti Fast Moving Consumer Goods (FMCG), produsen bahan makanan, bioteknologi, tekstil dan industri lainnya.
“Pendanaan ini membantu kami mempercepat misi kami untuk menjadikan rumput laut sebagai sumber daya berkelanjutan yang bernilai tinggi,” Dodon menambahkan.
Dengan pendanaan ini, Banyu akan mengembangkan fasilitas produksi pembibitan, memperluas wilayah cakupan budidaya dan ekspor, dan mengembangkan metode bibit berkualitas tinggi. Sulawesi akan menjadi fokus ekspansi pertama, dengan rencana untuk menjangkau wilayah lain seperti Nusa Tenggara, Lampung, dan Maluku.
Di tahun 2025 ini, Banyu menargetkan penyediaan bibit rumput laut berkualitas dan bekerja sama dengan 500 petani. Banyu juga akan memulai proses pengembangan produk turunan dari rumput laut seperti pakan dan bio-fertilizer khususnya pada bidang perkebunan. Selain itu, Banyu melakukan studi kelayakan untuk kemungkinan penerapan corporate farming di sektor rumput laut. (*)