Jejak Langkah Warung Madura, Melejit di Masa Sulit

Jejak Langkah Warung Madura, Melejit di Masa Sulit
Salah satu warung Madura yang buka 24 Jam. (Foto Jawapos/Radar Solo)

Di tengah gempuran modernisasi dan minimarket modern, Warung Madura tetap kokoh berdiri. Tak lekang oleh waktu, ia hadir dengan ciri khasnya, pelayanan ramah, harga bersaing, dan jam operasional yang fleksibel 24 jam setiap hari. Lebih dari sekadar tempat berbelanja, Warung Madura adalah simbol ketangguhan ekonomi kerakyatan, bukti bahwa bisnis tradisional mampu beradaptasi dan terus relevan di era modern saat ini.

Warung Madura memang memiliki tampilan yang cukup unik dibandingkan warung-warung kelontong lainnya. Biasanya, Warung Madura menghadirkan bensin eceran kini lengkap dengan pom bensin mini dibagian muka. Tumpukan beras berada di dalam etalase kaca, dan rokok aneka merek tersusun sangat detail dan rapi di lemari kaca. Dari segi waktu, Warung Madura mayoritas buka 24 jam, hingga lahir tagline antimainstream: 'tutup kalau sudah kiamat (tapi masih buka setengah hari)'.

Ketua Paguyuban Warung Sembako Madura Abdul Hamied mengatakan, Warung Madura hadir pada sekira medio 1990-an di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Banyak orang Madura yang kala itu merantau ke kota-kota besar, seperti Jabodetabek untuk mencari peruntungan dengan membuka warung sembako.

Dalam menjalankan bisnis Warung Madura, sistem yang dijalankan terbilang sederhana dan berbasis pada kekeluargaan. Kebanyakan Warung Madura dimiliki orang sepasang suami-istri. Para pemilik warung juga kerapkali mempekerjakan kerabatnya untuk ikut merantau dengan menerapkan sistem bagi hasil. Bagi hasil biasanya ditetapkan fifty-fifty antara pemilik dan pegawai, sehingga tak ayal lahir bibit-bibit baru pemilik Warung Madura karena memiliki tabungan saat menjadi pegawai warung beralih menjadi owner dengan mendirikan Warung Madura sendiri.

Warga berbelanja di Warung Madura di kawasan Muara Angke Jakarta, Selasa (14/1/2025). Meski dalam kondisi banjir rob yang melanda kawasan Muara Angke, Warung Madura milik Ulin Nimah tetap buka dan melayani pembeli. Menurutnya, warung tersebut akan tutup jika pemiliknya pulang kampung. (Republika/Thoudy Badai)

Dalam memilih lokasi warung, orang-orang Madura, kata Hamied, memiliki kemampuan atau insting sendiri. Yang pasti, mereka akan membangun warung di lokasi permukiman warga atau di kampung-kampung. Sehingga menciptakan kedekatan atau proximity dengan konsumen.

Adapun dalam operasionalnya, Warung Madura menetapkan harga yang terjangkau, dengan menghadirkan produk-produk dalam bentuk kecil atau eceran. Dibandingkan ritel-ritel modern, Warung Madura bisa menghadirkan kualitas produk yang sama, namun harganya bisa ditekan menjadi lebih rendah.

Kekhasan Warung Madura adalah kecerdikan orang-orang Madura dalam memanfaatkan ceruk pasar baru, yakni buka 24 jam non-setop, sehingga pasar midnight terbentuk. Biasanya, jika Warung Madura dimiliki oleh sepasang suami istri, istri berjaga di siang hari, sedangkan suami menjaga warung di malam hari.

Bertahan di tengah pandemi

Seiring berjalannya waktu, Hamied mengungkapkan bisnis Warung Madura kian berkembang dan menjamur di banyak titik. Bahkan menurut penuturannya, jarak adanya Warung Madura dari satu titik ke titik lainnya, dari yang dulu dalam hitungan kilometer, kini sudah bisa ada yang dalam hitungan meter.

Perkembangan bisnis Warung Madura kian terlihat fenomenal belakangan ini, terutama usai berakhirnya pandemi Covid-19 pada 2022. Ia menyebut, saat masa-masa pembatasan aktivitas pada medio 2020—2022, banyak usaha tutup, sedangkan Warung Madura tetap konsisten membuka warung. Saat itu, menurut Hamied, masyarakat mulai melirik Warung Madura karena meski tengah malam tetap saja buka meski kondisi tidak memungkinkan.

“Tren bisnisnya, kalau kayak teori balon, ya sedang bagus-bagusnya, sedang besar-besarnya. Terutama pascaCovid-19, orang mulai aware, itu jadi momentum Warung Madura makin dikenal. Dan sekarang, untuk di Jawa ini betul-betul eksesif pertumbuhannya, bukan hanya normal, sudah abnormal. Eksponensial kalau dalam bahasa survei, jadi berkali-kali lipat,” ungkap Cak Hamied, sapaan akrabnya, saat ditemui Tim Republika di kediamannya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (14/1/2025) lalu.

Habibi pedagang warung Madura Potre Koneng 2 bersama anaknya menunggu pembeli di warungnya di Tangsel, Banten, Senin (13/1/2025). Warung Madura yang secara lokasi, harga, dan jam operasional (24 jam) lebih unggul dari toko modern tersebut menjadi pilihan berbelanja kebutuhan dasar warga seperti minuman botol, sembako, snack, dan produk mandi. - (Republika/Prayogi)

Bahkan menurut penuturan Hamied, bisnis Warung Madura dalam dua tahun belakangan ini mengalami pertumbuhan hingga 1.000 persen. Asumsi perhitungannya berdasarkan pengamatannya dalam melihat jumlah pemain di bisnis Warung Madura.

“Dulu itu 'pemainnya' juga masih dikit. Karena berbanding lurus, ketika orang makin aware, makin banyak suka terhadap Warung Madura. Kemudian sosmed juga mendukung itu, akhirnya orang yang mau bisnis Warung Madura juga makin banyak karena menggiurkan,” terangnya.

Berdasarkan catatannya, para pemilik Warung Madura yang tergabung dalam Paguyuban Warung Sembako Madura mencapai hampir 5.000 orang. Diperkirakan satu orang memiliki setidaknya 3—5 warung, sehingga kemungkinan ada sebanyak 15 ribu-25 ribu Warung Madura saat ini. Itu baru angka dari para anggota paguyuban. Padahal ada banyak pemilik Warung Madura yang tidak tergabung dengan paguyuban.

“Orang-orang Madura dulu biasanya mereka itu jadi TKI, ke Malaysia, Taiwan, sampai ke Arab. Sekarang mereka melihat ternyata ada (usaha) yang lebih menjanjikan, nggak harus ke luar negeri, ya itu adalah Warung Madura. Makanya pertumbuhan bisnisnya juga jadi makin cepat,” terangnya.

Warung Madura dari kacamata sosial

Sementara itu, Antropolog dari Universitas Indonesia (UI) Semiarto Aji Purwanto, juga menyampaikan pandangannya mengenai fenomena kian mencuatnya bisnis Warung Madura belakangan ini. Dekan FISIP UI yang kerap disapa Aji itu mengatakan, transaksi jual-beli yang terjadi di Warung Madura tidak melulu dilihat dari sudut pandang ekonomi, tetapi juga sosial yang membentuk gaya hidup.

“Barangkali kita sudah sangat akrab dengan perspektif daya beli dari ekonomi, tapi saya akan melihat itu dari perspektif gaya hidup atau lifestyle, jadi berbelanja itu bukan sekadar ekonomi, tapi ada transaksi sosial budaya. Ada transaksi kultural, itu adalah fenomena sosial,” ujar Aji saat ditemui tim Republika di Kampus UI, Jumat (17/1/2025) lalu.

Ia menjelaskan mengenai perubahan gaya hidup yang menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada kegiatan ekonomi atau jual beli. Aji menyebut perubahan gaya hidup sudah muncul di kisaran 1970-1980 ketika Indonesia mengalami booming ekonomi akibat komoditas minyak. Lantas pada awal 1990-an, ritel-ritel bermunculan dan kian berkembang. Bisnis ritel yang tumbuh dan berkembang pesat bukan sekadar menawarkan transaksi jual-beli barang, tetapi juga kenyamanan. Sehingga menjamurlah kemudian ritel-ritel modern yang kian memberikan layanan yang memanjakan, bahkan bersifat rekreatif.

“Kalau sekarang kita melihat ada tren balik ke Warung Madura sebagai satu kategori, maka kita perlu cermati lagi, apakah gaya hidupnya berubah? Kalau saya mau tetap pakai dengan perspektif itu, ya berarti ada gaya hidup yang berubah,” tuturnya.

Warga berbelanja di warung Mutiara Madura di Bogor, Senin (13/1/2025). Warung Madura yang secara lokasi, harga, dan jam operasional (24 jam) lebih unggul dari toko modern tersebut menjadi pilihan berbelanja kebutuhan dasar warga seperti minuman botol, sembako, snack, dan produk mandi. - (Republika/Prayogi)

Eksisnya Warung Madura, dengan tagline uniknya, disinyalir kian berkembang karena orang-orang Madura di kota-kota besar kian berani ‘tampil’. “Saya mengistilahkannya: ada aktivasi sentimen etnik. Beberapa kelompok etnik menyembunyikan identitasnya, tapi beberapa kelompok lain justru mau mengaktifkan itu. Nah bagaimana kelompok etnik Madura itu bisa mendapatkan tempat di Jakarta? Konteksnya sangat kontekstual,” kata Aji.

Ada sejumlah anggapan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu kemungkinan adalah karena etos kerja orang Madura yang memang tinggi sedang berada pada tren yang positif. Hal itu dinilai wajar mengingat banyak orang Madura yang memang menjadi perantauan atau pendatang di berbagai kota besar seperti di Jabodetabek untuk membuka usaha Warung Madura.

Kekerabatan yang kuat

Sejalan dengan itu, hal lainnya yang paling disorot oleh Aji adalah mengenai unsur kekerabatan yang kuat di dalam budaya etnis Madura. Sebagai perantauan, orang-orang Madura harus bertahan hidup di tempat baru, berbagai cara dilakukan, salah satunya adalah dengan mengaktifkan kekerabatan atau kinship. Membangun relasi atau kekerabatan di perantauan menjadi hal penting dalam konteks membangun bisnis.

“Itu menjadi salah satu strategi yang secara tradisional paling aman dan nyaman. Aspek-aspek itu (kekerabatan) yang dimainkan, sentimennya akan positif. Dan kreatifnya orang Madura itu kalau merantau bawa keluarga, beda dengan kelompok-kelompok etnis lain,” ungkapnya.

Dengan koneksi kekerabatan yang menjadi budaya, para pemilik atau penjaga Warung Madura pun menciptakan iklim bisnis yang cenderung menerapkan pendekatan yang personal, berbeda dengan pelayanan ritel-ritel modern yang impersonal. Di warung-warung Madura, ada interaksi yang lebih intens, sehingga terbangun relasi. Menurut penuturan Aji, bagi orang-orang yang memiliki jiwa yang komunal, itu menciptakan kenyamanan.

Abu (30) pemilik Warung Madura beristirahat saat pergantian waktu jaga di tokonya di kawasan Muara Angke Jakarta, Selasa (14/1/2025). - (Republika/Thoudy Badai)

Di sisi lain, Aji menyebut Warung Madura juga memungkinkan pemberian toleransi untuk harga. Misalnya, harga produk yang bisa ditawar oleh pembeli. Tawar-menawar itu merupakan tradisi berbelanja orang Indonesia. Bahkan sebagian pemilik warung memperbolehkan adanya praktek utang-piutang.

Di samping itu juga, Warung Madura memiliki keunggulan fleksibilitas waktu yang membuat orang mudah memperoleh barang yang sedang dibutuhkan. “Warung Madura kemudian menjadi arena sosial,” ujar dia.

Suasana warung Mutiara Madura di Bogor, Senin (13/1/2025). Warung Madura yang secara lokasi, harga, dan jam operasional (24 jam) lebih unggul dari toko modern tersebut menjadi pilihan berbelanja kebutuhan dasar warga seperti minuman botol, sembako, snack, dan produk mandi. - (Republika/Prayogi)

Dekat dengan Islam

Aji melanjutkan, kemungkinan sentimen lainnya dari segi konsumen adalah berkaitan karakter masyarakat Indonesia yang berada pada situasi primordial yang cukup kuat. Hal itu terlihat dari kondisi solidaritas sosial yang dinilai meningkat. Dan hal itu bisa berkaitan salah satunya dengan agama.

“Barangkali di masa sekarang sentimen Madura yang dekat dengan Islam itu lagi positif,” kata dia.

Secara luas, ia memberi contoh mengenai munculnya boikot produk-produk yang berasal dari negara atau suatu kaum yang menyerang kaum tertentu (Israel-Palestina). Sehingga terjadi pergeseran pos untuk konsumsi.

Sentimen konflik Israel-Palestina, menurut Aji memengaruhi sampai tingkat lokal. Khususnya sentimen pro-Palestina yang dinilai sangat kencang sekali di Indonesia. Hal itu lantas cenderung terkoneksi pada satu agama mayoritas di Indonesia, yakni Islam. Sehingga, Aji menyebut, dalam konteks pertumbuhan bisnis Warung Madura, bisa jadi yang dipandang bukan Madura sebagai etnik, tapi Madura sebagai etnis yang mayoritas agamanya muslim.

Warga berbelanja di warung madura Anugerah di Jakarta, Jumat (10/1/2025). Warung Madura yang secara lokasi, harga, dan jam operasional (24 jam) lebih unggul dari toko modern tersebut menjadi pilihan berbelanja kebutuhan dasar warga seperti minuman botol, sembako, snack, dan produk mandi. - (Republika/Prayogi)

Aji menekankan tidak bisa melihat Warung Madura secara mikro semata hanya sebagai warung yang dikelola oleh kelompok etnik Madura. Tapi ada konteks-konteks lain yang ikut membentuknya. Kebangkitan ekonomi Islam hingga kebangkitan UMKM bisa menjadi faktor-faktor yang menjadi konteks tersebut.

"Kenapa kemudian Warung Madura itu naik dan menjadi alternatif belanja kelompok-kelompok tertentu, yang sebelumnya cenderung ke mal atau mart-mart. Jadi, sekali lagi bukan sekadar persoalan daya beli yang menurun ya, ada banyak faktor. Jadi ada banyak penjelasan kan, mengapa Warung Madura itu naik lagi sekarang,” terangnya.

Sumber: Republika.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag