Ilusi Masayoshi Son: Legenda Investor Perusahaan Teknologi Tinggi

Ilusi Masayoshi Son: Legenda Investor Perusahaan Teknologi Tinggi

Jika berbicara tentang investasi di sektor teknologi tinggi di dunia bisnis saat ini, hal itu tidak bisa lepas dari peran dan sepak terjang sang legenda investor bisnis teknologi, Masayoshi Son.

Dia yang dipanggil dengan nama ”Masa” dalam buku ini adalah pendiri sekaligus CEO SoftBank Group, perusahaan konglomerasi Jepang yang terkenal sebagai salah satu pemain utama di industri teknologi tinggi global.

Lahir pada 1957, Masa dikenal sebagai seorang visioner dengan insting bisnis yang tajam, khususnya dalam mendukung perusahaan teknologi tinggi yang memiliki prospek cerah.

Ia memulai SoftBank pada 1981 sebagai distributor perangkat lunak, tetapi kemudian mengubahnya menjadi salah satu perusahaan investasi teknologi paling berpengaruh di dunia.

Melalui institusi Vision Fund, Masa mengelola dana investasi yang luar biasa besar, memungkinkan SoftBank untuk berinvestasi di banyak perusahaan teknologi revolusioner, seperti Alibaba, Grab, Uber, WeWork, dan Arm.

Sebagai investor ternama, Masa memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan perusahaan teknologi tinggi dengan memberikan modal, keahlian, dan jaringan yang diperlukan untuk ekspansi global.

Investasinya berfokus pada pendanaan perusahaan-perusahaan yang berpotensi mengubah industri mereka melalui teknologi inovatif. Awal keberhasilannya dalam mendukung Alibaba, di mana investasi awal SoftBank sebesar US$ 20 juta telah berkembang menjadi puluhan miliar dolar, menjadi salah satu contoh kesuksesannya sebagai investor.

Meski terkadang menghadapi kritik atas beberapa kegagalan keputusan investasinya, seperti di WeWork, Masa hingga saat ini tetap menjadi figur berpengaruh dalam ekosistem investasi teknologi global.

Jika beberapa tahun lalu marak berkembang perusahaan rintisan (start-up) dalam waktu singkat, hal itu tidak dapat dilepaskan dari sepak terjang Masa dan timnya, yang dengan sangat agresif ikut mendanai dan mengembangkan perusahaan rintisan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Buku berjudul The Money Trap ini merupakan sebuah memoar yang ditulis oleh Alok Sama ketika dia bekerja dengan Masa. Sebelum bergabung dengan SoftBank, Alok memiliki pengalaman luas di Morgan Stanley dan Citigroup, yang memberinya keahlian dalam transaksi bisnis bernilai tinggi.

Buku ini bercerita tentang perjuangan dari seorang bankir investasi hingga menjadi orang kepercayaan Masa. Tentang bagaimana bankir investasi menggandakan uang dengan lebih cepat, lebih banyak, dan lebih mudah, dengan menggunakan segala pengetahuan, jaringan, dan teknologi yang mereka kuasai.

Buku ini ditulis dengan gaya memoar. Namun, memoar, yang terkait dengan penggambaran sepak terjang seseorang atau suatu peristiwa, memiliki berbagai kelemahan.

Pertama, sering bersifat subjektif, karena berisi sudut pandang pribadi penulis, sehingga dapat memengaruhi keseimbangan atau keakuratan fakta yang disajikan. Penulis mungkin secara tidak sengaja mengabaikan atau membesar-besarkan peristiwa tertentu untuk menyesuaikan narasi dengan perspektif mereka sendiri.

Kedua, cenderung fokus pada pengalaman pribadi yang dapat membuat pembaca sulit menemukan relevansi atau koneksi universal, terutama jika mereka tidak memiliki pengalaman serupa.

Selain itu, gaya penulisan yang terlalu introspektif atau emosional dapat mengurangi daya tarik bagi pembaca yang mencari informasi yang lebih obyektif atau analitis.

Akhirnya, risiko bias dan kurangnya sumber pendukung dapat pula membuat informasi yang disajikan dalam memoar kurang kuat dibandingkan dengan karya nonfiksi lainnya yang berbasis penelitian mendalam.

Salah satu ciri kspansi bisnis Masa ialah melakukan strategi “bakar uang”. Ini bisa ditelusuri dari peristiwa yang terjadi pada masa remajanya.

Pada suatu ketika, orang tua Masa mengelola sebuah kedai kopi di Tokyo saat ia masih kecil. Bisnis tersebut kesulitan menarik minat pengunjung, hingga Masa membujuk ayahnya untuk menawarkan kopi gratis. Usahanya berhasil. Banyak pelanggan datang untuk mendapatkan kopi gratis, tetapi sering mereka juga membeli kue kering atau croissant yang relatif mahal.

Itu merupakan pelajaran berharga, yang kemudian diterapkan dalam investasi di kemudian hari dengan strategi membakar uang di berbagai perusahaan di seluruh dunia untuk mendapatkan pelanggan awal sebanyak mungkin.

Model bisnis seperti itu biasanya memiliki “dampak jaringan yang kuat. Seiring dengan meningkatnya jumlah peserta, platform menjadi lebih berharga bagi semua pengguna.

Uber, yang kemudian menjadi perusahaan investasi SoftBank, adalah contoh yang baik. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengemudi, waktu tunggu berkurang dan pilihan berkendara meningkat, menarik lebih banyak pelanggan, yang pada gilirannya menarik lebih banyak pengemudi, menciptakan “dampak jaringan” klasik.

Dinamika “pemenang mengambil sebagian besar” (the winner take all) adalah karakteristik lain dari model bisnis seperti itu. Karena, pada titik tertentu, platform menjadi begitu mengakar sehingga hampir tidak mungkin bagi pesaing untuk dapat menggantikannya.

Masa dikenal mendorong startup untuk mendominasi pasar dengan menghabiskan dana besar untuk akuisisi pelanggan, sering tanpa memperhatikan profitabilitas jangka pendek. Pendekatan ini menuai kritik karena dianggap menciptakan gelembung valuasi dan mengganggu keseimbangan pasar.

Meski begitu, Masa tetap menjadi sosok visioner yang berani mengambil risiko besar, dengan keyakinan bahwa inovasi teknologi akan membentuk masa depan. Keberhasilannya dalam investasi seperti Alibaba menunjukkan kejeniusannya, tetapi kegagalannya dalam beberapa proyek besar memperlihatkan risiko tinggi dari pendekatan yang ia gunakan.

Masa memiliki unsur idealisme yang terinspirasi dari tokoh samurai Jepang Sakamoto Ryōma. Dia adalah seorang samurai tanpa tuan (ronin) yang menjadi legenda karena perannya sebagai penghubung dan reformis di era transisi Jepang dari feodalisme menuju modernisasi pada akhir periode Edo.

Sebagai ronin, Ryoma memanfaatkan status independennya untuk menjembatani berbagai kepentingan politik dan militer. Dengan visinya yang melampaui zamannya, ia mendorong konsep pemerintahan modern, perdagangan internasional, dan militer yang berbasis teknologi barat. Teknologi mendapat perhatian utama.

Keberaniannya sebagai ronin yang tidak terikat oleh kewajiban tradisional memungkinkan Ryoma menjadi simbol perjuangan dan pembaruan, menjadikannya salah satu tokoh revolusioner paling dihormati dalam sejarah Jepang.

Karenanya, Masa juga ingin menjadi seperti ronin yang berjuang sendiri untuk membuat dunia yang lebih baik, tanpa terikat pada suatu institusi atau ideologi tertentu. Tentunya, dengan tetap menggunakan teknologi sebagai senjata utamanya.

Investasi teknologi lebih bersifat spekulatif, bahkan bisnis yang sudah mapan pun terus-menerus terancam oleh berbagai disrupsi. Masa pernah mengatakan, “Pada setiap hal baru, sudah ada bayangan kehancurannya.”

Sama seperti video yang membunuh radio, Google membunuh Yahoo!, iPhone membunuh BlackBerry, Spotify membunuh cakram padat, Netflix membunuh DVD, Facebook membunuh MySpace, serta TikTok membunuh Facebook, Instagram, dll.

Memang, investasi di sektor teknologi tinggi butuh kegilaan tersendiri dan Masa-lah orang yang cukup gila untuk beroperasi di sektor tersebut. Orang gila yang mengelola dana US$ 100 miliar. Dengan uang sebanyak itu, dia hampir bisa melakukan apa saja yang dimauinya.

Masa sangat terobsesi dengan teknologi. Teknologi yang seakan-akan menjadi Tuhan di masa depan, yang menentukan nasib umat manusia di masa yang akan datang. Teknologi akan menjadi Tuhan berikutnya (deus ex machina) dan Masa berambisi hendak menjadi pendeta tertingginya.

Dalam hal ini, Masa melihat peluncuran Chat-GBT-3 pada tahun 2022 akan menjadi katalisator bagi gelombang inovasi teknologi berikutnya. Inovasi yang didasarkan pada teknologi kecerdasan buatan. Ini merupakan tonggak baru seperti yang pernah terjadi dengan kemunculan Chip Intel 8080, Internet, atau iPhone pada masa lampau.

Masa telah menjadi barometer tersendiri. Ikon yang selalu dilihat dan diikuti gerak geriknya. Komunitas keuangan global selalu memantau pergerakannya. Dia menjadi trendsetter keuangan global. Usia Masa sekarang 67 tahun, uangnya masih banyak, masih cukup banyak dana yang bisa dibakar untuk mendanai segala kegilaannya di masa depan.

Besarnya dana yang terlibat pasti memengaruhi perkembangan perusahaan teknologi tinggi di masa depan. Hal ini nantinya juga memengaruhi kehidupan kita sehari-hari yang semakin erat berhubungan dengan teknologi tinggi.

Jika kita meyakini bahwa teknologi tinggi akan menjadi tumpuan ekonomi dunia di masa depan, kita harus mampu mengamati dan mengantisipasi segala sepak terjang, pemikiran, dan keputusan yang diambil oleh investor teknologi tinggi seperti Masayoshi Son ini, mulai dari sekarang. (*)

*) Peresensi adalah Staf Pengajar Program Studi Magister Administrasi Bisnis, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Judul buku : The Money Trap: Lost Illusions Inside the Tech Bubble

Pengarang : Alok Sama

Penerbit : St. Martin’s Press, New York

Cetakan : Pertama, September, 2024 Tebal : 304 halaman

# Tag