Duo Sahabat Mencetak Cuan dari Limbah Plastik Tertolak

Berangkat dari rasa prihatin atas banyaknya sampah tertolak atau tidak dapat didaur ulang, dua wanita, Novita Tan dan Ovy Sabrina, tergerak membuat produk bahan bangunan dengan konsep keberlanjutan.

Material bangunan itu berupa paving block atau conblock yang terbuat dari sampah plastik multilayer yang dilapisi aluminium di dalamnya. Contohnya. kantong keresek, kemasan sabun, atau aneka bungkus sachet produk yang tidak bisa didaur ulang.

Alasan duo sahabat kampus ini menjatuhkan pilihan pada produk paving block, di satu sisi jumlah sampah tertolak ini sangat besar, sehingga menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Di sisi lain, Novita sangat aktif dalam kegiatan pengembangan masyarakat dan LSM yang fokus pada pengolahan sampah. Sementara Ovy, berasal dari keluarga pebisnis dan punya pabrik paving block. Keduanya memiliki pemikiran serupa: memanfaatkan sampah plastik tertolak untuk bahan bangunan, lantaran umumnya orang-orang ingin membangun rumah yang tahan lama.

Setelah sepakat dengan ide bisnis produksi paving block, bendera Rebricks dikibarkan sebagai brand sejak 2018. Permodalan awal berasal dari kantong dua pendirinya. Kala itu, mesin cetak masih meminjam dari keluarga Ovy yang merupakan produsen paving block. Adapun bahan baku produksi didapat secara sukarela dari masyarakat sekitar.

Pengeluaran awal Rebricks lebih banyak untuk pengujian di labolatorium dalam rangka membuat sampel. Sementara itu, mesin cacah milik Rebricks dibuat sendiri karena mesin cacah sampah plastik-lunak sulit didapatkan di pasaran.

Setelah Rebricks resmi berdiri, Novita dan Ovy bolak-balik melakukan uji lab untuk mencari formula produk yang tepat. Pada November 2019, barulah Rebricks meluncurkan dua produk perdana: paving block dan hollow block. Ada pula produk roster (ventilasi) dan guiding block (ubin taktil berwarna kuning untuk petunjuk arah jalan bagi tunanetra).

null
Paving block Rebricks (Foto-foto: Rebricks.id)

Produk terlaris di pasaran adalah paving block. Harga paving block dibanderol Rp 120 ribu/m2, hollow block Rp 6 ribu per buah, dan roster Rp15 ribu - 20 ribu per buah.

Alumnus S-1 Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta ini juga berbagi peran di perusahaan. Novita, sebagai Chief Executive Operation Rebricks, bertugas mengembangkan bisnis, sedangkan Ovy sebagai Chief Operation Officer Rebricks mengurusi kegiatan produksi.

Menurut Ovy, target pasar Rebricks adalah masyarakat yang sangat antusias dengan isu-isu green product. Seiring berjalannya waktu, kalangan konsumen tidak hanya ritel, tapi juga merambah kontraktor, perusahaan yang ingin membuat program Corporate Social Responsibility hingga menjadi recycling partner.

Ovy menyebutkan, Rebricks pernah mendapat klien dari McDonald’s untuk dua gerai cabangnya di kawasan Ampera (Jakarta Selatan) dan Kelapa Gading (Jakarta Utara). Pernah juga melayani Indofood, Pertamina, Shell, Chandra Asri, dan masih banyak lagi.

Pada 2024, Rebricks mulai bekerjasama dengan sejumlah kementerian dan lembaga. Ada Kementerian Keuangan serta Kementerian Pendidikan dan Budaya yang memakai paving block milik Rebricks. Selanjutnya, berkolaborasi dengan delapan developer di bawah naungan BTN untuk proyek low carbon housing bank tersebut.

Kemudian, pemerintah mempunyai Proyek Indonesian Affordable Green Housing dan Rebricks berharap mencoba berpartisipasi. Tak hanya menyoal produk hijau, tapi juga menyumbang lebih rendah emisi.

Rebricks bersama konsorsiumnya sudah membuat model hijau di salah satu rumah perumahan bersubsidi di Kuningan, Jawa Barat, dan mendapat sertifikasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Targetnya, Rebricks mampu membangun 3 juta rumah subsidi hijau. Saat ini, rumah subsidi hijau di sana baru dibangun 10 unit rumah, karena masih menunggu respons dari pemerintah apakah akan diberi subsidi hijau atau tidak,” kata Ovy.

Ia mengungkapkan, penjualan Rebricks terus meningkat. Pada awal berdiri, Rebricks tak terlalu banyak melakukan program marketing, karena banyak eksposur yang berdatangan. Setelahnya, Rebricks mulai aktif menggunakan media sosial untuk program marketing.

Menurut Ovy, penjualan Rebricks terdiri dari 50% ke pemakai langsung dan kontraktor kecil, 30% edukasi, dan 20% business to business (B2B). Volume penjualan terbanyak mencapai 4.000 m2. Namun, jika dipukul rata, biasanya 2.000 m2.

Terkait peran dalam ekonomi sirkular, diakui Ovy bahwa Rebricks belum sepenuhnya menerapkan ekonomi sirkular dalam produksi. Sebab, pihaknya masih menjalani salah satu fase dari ekonomi sirkular, yakni mengumpulkan sampah plastik lunak menjadi bahan baku. Sampah-sampah ini dipilah dan dibersihkan, lalu dikirim ke dua drop point Rebricks: kawasan Karet Pedurenan dan Pondok Pinang, Jakarta.

Kendati demikian, ke depan, Ovy mempunyai target jangka panjang untuk bisa mengambil kembali sampah produk untuk didaur ulang menjadi bahan baku produk baru. Dengan begitu, ada proses ekonomi sirkular yang akan terus berputar dari bahan baku ke produk, kemudian produk kembali menjadi bahan baku.

Ada tantangan dalam menghadapi penerapan ekonomi sirkular. Faktanya, bisa mendaur ulang produk kembali menjadi bahan baku merupakan tahapan tersulit. Misalnya, botol plastik PET memang diklaim bisa didaur ulang, tapi hasil setengahnya berasal dari plastik baru. Sebab, botol tersebut ketika dilelehkan terus-menerus tentunya akan mengurangi perlahan-lahan kualitas plastiknya.

Saat ini, Rebricks tengah mencari pendanaan untuk mengembangkan teknologi mesin cetak otomatis sehingga berdampak pada kapasitas produksi yang lebih besar. Selain itu, akan memudahkan quality control saat proses produksi dan berpotensi besar untuk ekspansi pabrik.

Sejauh ini, Rebricks masih menggunakan mesin press cetak yang memerlukan tenaga manusia. Tujuannya, memberikan dampak sosial berupa penyerapan tenaga kerja. (*)

Riset: Fitriana Era Madani

# Tag