Asosiasi Semen Proyeksikan Pertumbuhan Penjualan Semen dari Program 3 Juta Rumah
Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memproyeksikan penjualan semen di dalam negeri pada tahun ini tumbuh 1-2%. "Adanya rencana proyek Pembangunan 3 juta rumah, kami masih optimis penjualan semen dalam negeri pada tahun 2025 akan tumbuh sekitar 1%-2%, sedangkan ekspor diperkirakan masih akan tetap sama dengan capaian tahun-tahun sebelumnya," ujar Ketua ASI, Lilik Unggul Raharjo, pada keterangan tertulis yang diterima swa.co.id di Jakarta, Jumat (31/1/2025).
ASI menargetkan total penjualan semen domestik maupun ekspor adalah sekitar 77 juta ton, dan tingkat utilisasi mencapai 65%. Lilik menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi industri semen, antara lain rendahnya utilisasi dan perlunya moratorium. Tren kapasitas produksi di pabrik semen di Indonesia yang terus naik dari tahun 2018 sebesar 107 juta ton per tahun hingga puncaknya di tahun 2023 sebesar 119,9 juta ton pertahu.
Sedangkan permintaan turun dari 69,5 juta ton di tahun 2018 menjadi 64,9 juta ton di tahun 2024. "Maka utiliasi pabrik mengalami penurunan mulai 2020 saat pandemi hingga sekarang hanya sekitar 56% dan belum kembali pada posisi sebelum pandemi sekitar 65%. Dengan utilisasi pabrik masih rendah berkisar 56,5%, sehingga diperlukan moratorium untuk pembangunan pabrik semen baru dengan beberapa pertimbangan diantaranya profitability menurun yang potensi mengancam keberlanjutan industri semen eksisting, dan berpotensi menghambat investasi dalam rangka untuk menurun emisi CO2 industri semen seperti yang digaungkan oleh pemerintah," tutur Lilik.
Industri semen nasional hingga pada akhir tahun 2024 mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2023. Contohnya, penjualan semen di dalam negeri di tahun lalu itu turun sebesar 0,9%, dengan proporsi permintaan semen kantong dan semen curah di Indonesia tahun 2024 adalah 69% dan 31%. Konsumsi semen kantong turun 3,1% dan semen curah naik 4,4%.
Sedangkan, utilisasi industri mencapai 56,5% sedikit lebih tinggi dari tahun 2023 dikarenakan ekspor meningkat, tetapi masih lebih rendah dibandingkan tingkat utilisasi tahun 2019 sebelum pandemi. (*)