Peran Orang Tua Memasukan Protein Hewani di Setiap Makanan Anak

Epi Taufik (Foto: Audrey Aulivia W./SWA)
Epi Taufik (Foto: Audrey Aulivia W./SWA)

Protein Hewani dinilai efektif dalam mencegah anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang (stunting). Pangan hewani mempunyai kandungan zat gizi yang lengkap, kaya protein hewani dan vitamin yang sangat penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Mengingat dampaknya yang berpengaruh terhadap generasi penerus negeri ini, penting untuk kita sadar dan mau mencegah hal tersebut. Menurut Kementrian Kesehatan, ada 3 hal perbaikan dalam upaya pencegahan stunting yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Terkait pola makan, penting dalam setiap kali makan terdiri dari karbohidrat, vitamin, lemak, mineral, dan protein.

Untuk asupan protein, nutrisi ini dapat berperan dalam pencegahan stunting. Dari data tingkat konsumsi protein, sebenarnya konsumsi protein per kapita sudah berada di atas standar kecukupan konsumsi protein nasional yaitu 62,21 gram namun masih cukup rendah untuk protein hewani yaitu kelompok ikan/udang/cumi/kerang 9,58 gram; daging 4,79 gram; telur dan susu 3,37 gram.

Epi Taufik, Tim Dewan Pakar Badang Gizi Nasional menjelaskan pentingnya mengonsumsi protein hewani. Dalam masa pertumbuhan anak, orang tua disarankan untuk menambah asupan proten hewani. Sumber protein hewani bisa berasal daging ruminansia, daging ayam, susu telur, ikan. “Fungsi protein berperan dalam memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme untuk energi, metobolisme ke dalam zat-zat vital dalam fungsi tubuh, membuat enzim-enzim yang esensial bagi fungsi tubuh yang normal dan membentuk hormon-hormon yang dibutuhkan tubuh anak,” ujar Epi di Jakarta, Jumat (31/1/2025).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) no 28 tahun 2019 kebutuhan asupan protein harian anak disesuaikan dengan usia dari anak yaitu usia 6-11 bulan sebanyak 15 gram/hari, usia 1-3 tahun sebanyak 20 gram per hari, usia 4-6 tahun sebanyak 25 gram/hari, dan usia 7-9 tahun sebanyak 40 gram/hari.

Kualitas protein dicermati pada dua cara, yakni melihat profil asam amino makanan dan peringkat bioavailabilitas protein. Dua sistem penilaian kualitas protein yang paling bernilai saat ini adalah protein digestibility-corrected amino acid score (PDCAAS). Sistem ini mengukur kualitas sumber protein dengan melihat asam amino yang dikundungnya dan seberapa mampu tubuh manusia mencerna jumlah total protein.

Kemudian, sistem baru yang diusulkan disebut The Digestible Indisipensable Amino Acid Score (DIAAS). Salah satu perbedaan utama sistem PDCAAS dan DIAAS terletak adalah bahwa yang terakhir memperhitungkan anti-nutrisi. Sistem peniliaian DIAAS menilai kualitas dengan klasifikasi DIAAS di atas 100 sebagai protein berkualitas tinggi, DIAAS di atas 75 dan di bawah 100 protein berkualitas baik serta DIAAS di bawah 75 adalah protein berkualitas rendah.

Dia menyebutkan konsumsi protein hewani di Indonesia terbilang masih rendah dari negara Malaysia yang bisa mengkonsumsi protein 53,39 gram per orang per hari; Jepang 52,18 gram per orang per hari; Vietnam 39,81 gram per orang per hari; sedangkan Indonesia 29,76 gram per orang per hari.

Peran orang tua penting sekali untuk memasukkan berbagai jenis-jenis protein berkualitas tinggi dalam makanan anak akan membantu memastikan bahwa tubuh mereka memiliki apa yang dibutuhkan untuk membangun energi, pertumbuhan, dan sistem kekebalan yang kuat. Kebutuhan protein pada anak juga tergantung pada usia dan berat badan.

“Anak mencapai usia 14 tahun, rekomendasi protein sama untuk anak laki-laki dan perempuan. Sementara pada masa remaja akhir, anak laki-laki harus makan lebih banyak protein karena mereka memperoleh lebih banyak massa otot dan cenderung lebih berat, daripada anak perempuan,” ujar Epi.Orang tua juga disarankan untuk memerhatikan jajanan yang dia konsumsi saat di luar rumah seperti saat di sekolah maupun sedang jalan-jalan bersama teman.

“Kalau bisa untuk bawa bekal ketika sekolah dengan memerhatikan makanan kandungan gizi yang seimbang. Karena banyak jajanan di luar sekolah yang hanya mengandung tepung, pemanis buatan, dan pewarna pakaian yang dipakai untuk membuat bahan makanan seperti cilok, cilor, gulali dan lain sebagainya,” ujar Epi.Dengan memerhatikan kandungan gizi yang dikonsumsi anak setiap hari, tentu akan mengurangi angka stunting di Indonesia. (*)

# Tag