Golden Energy Mines: Digitalisasi Dongkrak Produksi Batu Bara Naik 10 Kali Lipat
PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) adalah perusahaan publik yang bergerak dalam bidang penambangan batu bara. Perusahaan ini memulai operasi komersialnya tahun 2010 dan beroperasi di bawah kelompok bisnis Sinarmas.
GEMS memiliki izin usaha pertambangan batu bara untuk wilayah Jambi (melalui KIM Block), Sumatera Selatan (melalui BSL dan EMS Group), Sumatera Barat (melalui EMS Group), Kalimantan Selatan (melalui Borneo Indobara), dan Kalimantan Tengah (melalui PT Trisula Kencana Sakti).
Total wilayah pertambangan perseroan mencapai sekitar 66.204 hektare, dengan total potensi sumber daya mencapai 2,91 miliar ton dan total cadangan mencapai 1,03 miliar ton.
Lokasi operasi tambang batu bara Borneo Indobara (BIB) dibagi dua, yakni blok barat (seluas 24.100 ha) dan blok timur. Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara kedua blok tersebut valid sampai tahun 2036. Sumber daya batu bara sekitar 1.696 metrik ton, sedangkan cadangan sekitar 625 juta metrik ton. Kapasitas produksi batu bara sampai tahun ini bisa mencapai 54 juta ton. BIB juga terus mengembangkan kapasitas infrastruktur supaya dapat mencapai coal production capacity.
Tiga Tahap
Latar belakang transformasi digital didorong oleh beberapa faktor, antara lain target meningkatkan produksi batu bara. Selain itu, GEMS juga ingin mengukur operasional pertambangan dengan teknologi, apalagi saat ini era digital. Sebab, bisnis ini juga dihadapkan pada cost dan profit. Karena itu, manajemen GEMS memutuskan segera melakukan digital transformation dengan hadirnya divisi khusus, yaitu Digital and Technology Solution Division.
Menurut Dimas “Omdim” Sutejo, Chief Digital & Technology Officer GEMS, salah satu unit bisnis perusahaan ini, yaitu BIB di Kalimantan Selatan, telah berhasil melakukan transformasi digital dan berdampak signifikan pada kinerja operasional perusahaan.
Transformasi digital BIB dibagi dalam tiga tahap. Pertama, sebelum tahun 2020, digitalisasi sebenarnya telah dilakukan di BIB, atau lingkungan GEMS. Namun, saat itu disebut sebagai early digitalization dan prosesnya disebut sebagai pre digital.
Waktu itu, digitalisasi dikenalkan dalam bentuk aplikasi dan website. Selain itu, juga baru membangun fondasi yang cukup minimalis, yaitu menggunakan teknologi radio untuk konektivitas di area tambang milik GEMS.
Tahap kedua, tahun 2021/2022, BIB mulai mengatur digital transformation dengan adanya divisi khusus, yaitu Digitech, yang sudah mulai mengakomodasi voice of customer, user requirement, dan basic automation .
Tahap ketiga, tahun 2023 sampai sekarang, disebut tahap accelerated digitalization. BIB sudah men-develop sekitar 30 aplikasi yang memberikan added value dan value creation bagi perusahaan ini. Sekarang, terkait digitalisasi, people dan proses sudah sedikit lebih major, serta mendapatkan manfaat yang banyak.
Omdim menjelaskan, 30 aplikasi BIB tersebut dibagi menjadi empat aspek: aspek HSE (Health, Safety, and Environment), social networking, back office support, dan mining operation. Perusahaan ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan agile dan interoperability (kemampuan aplikasi dan sistem untuk secara aman dan otomatis bertukar data tanpa ada pembatas) terkait aplikasi-aplikasi yang digunakan tersebut.
“Ini adalah digitalisasi yang kami kembangkan di grup perusahaan kami. Kami coba mendigitalisasi dari pit (lubang besar yang digali di permukaan tanah atau di lapisan bawah tanah yang dangkal) sampai ke offshore (lepas pantai), bahkan sampai ke marketing,” katanya.
Menurut Omdim, semua dipetakan dan dilakukan spot on implementation. Mengapa?
“Kalau menggunakan deep bank implementation, user pasti akan bosan menunggu kapan jadinya. Dan, tugas di Digitech adalah merangkai menjadi satu kesatuan untuk ditampilkan ke dalam Command Center dan business intelligence yang digunakan sebagai dasar bagi manajemen untuk pengambilan keputusan,” dia menjelaskan.
Tahun 2023, BIB juga menghadirkan Command Centre Room (CCR). Semua aspek digitalisasi, datanya bermuara ke dalam CCR. Dengan demikian, manajemen BIB dapat melakukan remote monitoring. Dibandingkan dengan visit ke lapangan, cara ini lebih nyaman dan aman karena bisa terhindar dari risiko kelelahan dan cedera.
Sementara itu, digitalisasi untuk peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan operasional produksi batu bara juga hadir dalam flow crushing plant yang dikontrol dengan Supervisory Control and Acquisition.
Inovasi Berkelanjutan
Kemudian, untuk inovasi berkelanjutan dalam peningkatan keamanan dan produktivitas kegiatan penambangan, BIB menghadirkan teknologi Mining Eye. “Sebelumnya, jika saya ingin melihat kondisi aktual pit, saya harus menghubungi tim yang ada di pit untuk mengirimkan foto atau informasi terkini terkait dengan pit. Setelah adanya Mining Eye, saya bisa langsung klik sendiri untuk mendapatkan hasil berupa tampilan gambar yang jernih dan bagus. Itu kelebihan teknologi Mining Eye untuk menunjang pengawasan dan mendapatkan informasi terkait dengan operasional pertambangan,” Omdim menguraikan.
Untuk network, BIB mengembangkan fiber optic di sepanjang jalur hauling (kegiatan memindahkan dan mengangkut), dan akan terus tingkatkan. Juga, sudah mendatangkan low earth orbit, satelit dalam hal ini Starlink, untuk memperkuat sinyal di titik blank spot di area sekitar tambang.
“Kami juga ingin menghadirkan safety work base dan increase productivity by digitalization,” dia menambahkan. BIB pun membuat satu ERP (Enterprise Resource Planning) khusus mining yang disebut Cold Chain Management, yang melibatkan banyak orang karena aspek di dalamnya juga banyak.
“Sebenarnya, digitalisasi Borneo Indobara sudah dilakukan lima tahun belakangan ini dan dua tahun terakhir merupakan proses yang cukup masif. Dengan digitalisasi, diharapkan operasional BIB yang semakin besar akan menjadi operasi yang efektif, efisien, serta cost competitive,” kata Ondim.
Dia menambahkan, salah satu risiko keselamatan BIB ialah banyaknya jumlah tenaga kerja yang memiliki latar belakang pengalaman beragam. Diharapkan, dengan digitalisasi, operasional tambang akan menjadi lebih smart, lebih slim, dan lebih resilient terhadap keselamatan operasional dan keselamatan kerja pertambangan.
Menuju Industri Mining 4.0, BIB memproyeksikan peningkatan batu bara setiap tahun dengan pengembangan program transformasi digital pada seluruh kegiatan operasional. Mulai dari integrasi seluruh data kegiatan produksi batu bara dalam cold change management, pengukuran beban kendaraan dalam kondisi bergerak, yakni Way Motion, yang terintegrasi dengan teknologi Teman Indobara hingga Si Cantik, sistem kamera analitik yang berfungsi sebagai pemantau keselamatan dan keamanan berkendara yang beroperasi penuh selama 24 jam.
Ada tiga game changer digital system product yang dimiliki BIB. Pertama, Venus, fleet management system yang disebarkan ke 1.000 hauling truck di BIB.
Kedua, Way Emotion; ketika menimbang, truk tidak perlu berhenti, baik truk double trailer, single trailer, maupun truk ukuran kecil.
Ketiga, Si Cantik yang menggunakan Artificial Intelligence (AI) dan machine learning yang di-deploy ke CCTV biasa dengan use case tertentu, bisa menganalisis perilaku kendaraan, manusia, ataupun objek lainnya.
Manfaat Digitalisasi
Menurut Omdim, digitalisasi BIB telah memberikan banyak manfaat. Antara lain, antrean hauling pada proses penimbangan dan closing dapat ditekan, sehingga kapasitas produksi menjadi optimal. Lalu, visibilitas yang dulunya terbatas hanya lingkup area kerja dan komunikasi lewat WhatsApp, kini bisa termonitor dari Command Center Room. Hal ini turut mendorong proses evaluasi tongkang karena termonitor dengan baik.
Selain itu, performa loading terjaga melalui skema check and balance. Dengan demikian, proses operasional menjadi terukur dan aman, sehingga target produksi BIB dapat tercapai secara efektif dan efisien.
“Secara keseluruhan, impact digitalization Borneo Indobara meliputi workforce transformation, production improvement, safety & loss prevention, serta productivity,” Omdim menegaskan.
Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan produksi BIB mencapai 10 kali lipat: tahun 2014 produksi masih sekitar 4 juta, tapi sekarang tahun 2024 melonjak jadi 46 juta ton. Tahun 2025 ditargetkan menjadi sekitar 50 juta ton, kemudian tahun 2026 seterusnya ditargetkan sebanyak 54 juta ton.
“Selain target produksi yang terus ditingkatkan, kami juga mengembangkan kapasitas Call Production Plan, barge loading conveyor, dan lainnya,” kata Omdim. (*)