PLN Indonesia Power: Digitalisasi Pembangkit untuk Jamin Keandalan Energi
Dengan perannya yang sangat krusial dalam menyediakan pasokan listrik bagi masyarakat, PT PLN Indonesia Power (PLN IP) terus berupaya menjaga stabilitas dan efisiensi operasionalnya. Namun, anak usaha PT PLN (Persero) ini mesti menghadapi tantangan kompleksitas bisnisnya.
Kompleksitas proses bisnis di sektor kelistrikan tidak hanya dalam hal memastikan ketersediaan listrik, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan antara keandalan pasokan energi dan efisiensi biaya. PLN IP dihadapkan pada tuntutan untuk menyediakan listrik dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.
Di saat yang bersamaan, anak perusahaan PT PLN (Persero) ini harus mempertahankan kinerja operasional yang tinggi. Hal ini tentu memerlukan inovasi dan sistem manajemen yang modern agar operasional bisnis dapat berjalan efektif dan efisien.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PLN IP mengembangkan Reliability and Efficiency Optimization Center (REOC), suatu sistem digitalisasi yang berfungsi untuk memantau serta mengendalikan keandalan dan efisiensi pembangkit.
Sistem REOC dikembangkan secara mandiri (in-house) oleh PLN IP sebagai solusi untuk mengintegrasikan data serta mengelola aset pembangkit listrik secara real time. Harapannya, dapat mengoptimaikan dua indikator penting bisnisnya, yakni EAF (Equivalent Availability Factor) dan EFOR (Equivalent Forced Outage Rate).
EAF atau faktor kesiapan unit pembangkit merupakan nilai hasil perbandingan dari kesiapan pembangkit untuk beroperasi (baik dalam kondisi stand by maupun beroperasi) dengan waktu. Adapun EFOR merupakan tingkat ketidaksiapan unit pembangkit karena adanya kejadian keluar-paksa yang disebabkan gangguan (outage) dan penurunan kemampuan pembangkit (derating).
Sistem REOC berperan sebagai pusat informasi terintegrasi yang memungkinkan PLN IP memantau performa setiap pembangkit secara langsung. Melalui REOC, data operasional dari ratusan mesin pembangkit dapat dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan untuk membuat keputusan strategis dalam meningkatkan efisiensi dan keandalan pembangkit.
“Melalui laptop, para senior leader kami dapat mengetahui secara real time kondisi seluruh mesin pembangkit, lengkap dengan key performance mesin serta risiko operasional dan non-operasional, secara cepat dan akurat,” kata Direktur Utama PLN IP, Edwin Nugraha Putra kepada Majalah SWA .
Proses pengembangan REOC telah berlangsung secara bertahap sejak 2016, yang diawali dengan kegiatan benchmark ke beberapa perusahaan listrik di kancah global, seperti Tenaga Nasional Berhad (TNB, Malaysia) dan Korea East-West Power (Korea EWP, Korea Selatan). Selanjutnya, tim PLN IP melaksanakan studi terhadap program developer pada perusahaan kelas dunia, seperti GE, Siemens, dan MHPS.
Kemudian, PLN IP menetapkan untuk membangun sistem REOC pada tahun 2019 dengan memanfaatkan SDM dari internal perusahaan. Edwin menjelaskan, strategi perusahaannya dalam membangun infrastruktur digital ini dilakukan secara bertahap. Dimulai dari pencetakan para expert di bidang infrastruktur hardware dan software, dan SDM yang fokus pada teknologi AI dan machine learning. Setelah unsur SDM siap, PLN IP memperkuatnya dengan penyediaan hardware dan software yang tepat.
Hingga 2024, PLN IP memiliki 414 mesin pembangkit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Integrasi REOC dilakukan dengan bantuan sistem pengelolaan pembangkit yang sudah ada, yakni CMMS (Centralized Maintenance Management System). Proses integrasi ini dilakukan secara mandiri oleh insan PLN IP yang telah dibekali dengan berbagai kemampuan teknis.
Selain proses integrasi melalui software, dibutuhkan pula integrasi dengan proses tata kelola operasi pemeliharaan yang telah ada sebelumnya. Khususnya, pilar manajemen operasi dan manajemen pemeliharaan.
Saat ini, rekomendasi dari REOC terkait langkah-langkah kerja untuk mencapai keandalan dan efisiensi terbaik pembangkit telah menjadi langkah kerja sehari-hari bagi operator dan teknisi pemeliharaan melalui skema service request dan work order di sistem CMMS. Selain itu, penerapan KPI Digital Powerplant di unit dan head office merupakan kunci penting dalam mengimplementasikan budaya kerja digital di PLN IP.
Desain REOC berfokus pada upaya dini melalui tindakan operasi pemeliharaan untuk menjamin pembangkit beroperasi dalam kondisi terbaik, yaitu dari sisi keandalan (penyediaan listrik) dan efisiensi termal pembangkit.
Konsep REOC mengusung tiga fungsi, yaitu analyze, advise, dan optimize. Analyze diterjemahkan dalam kegiatan monitoring parameter pembangkit untuk mengetahui adanya penyimpangan parameter yang menyebabkan losses dan penurunan potensi produksi. Fungsi analyze dalam operasi REOC bertujuan untuk memonitor kinerja termal pembangkit serta mendeteksi secara dini penurunan kinerja termal pembangkit.
Pada fungsi advise, petugas advisor memberikan rekomendasi solusi untuk mengoreksi penyimpangan parameter, sehingga kembali ke posisi optimal. Misalnya saja, rekomendasi solusi disampaikan kepada unit yang mengalami penurunan kinerja termal. Kemudian, advisor juga berkoordinasi dengan optimizer guna mengawasi eksekusi optimasi agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Pada fungsi optimize, petugas optimizer mengeksekusi rekomendasi dengan mengatur kondisi operasional pembangkit sesuai dengan koordinasi dengan advisor, sehingga mampu meningkatkan efisiensi pembangkit. Optimizer juga memberikan feedback kepada advisor untuk melihat efektivitas pengaturan.
Agar data dapat dianalisis dengan cepat, cermat, dan tepat, harus dibangun kesesuaian antara data dan kondisi masa lalu (historical & context data) dengan melakukan pengolahan yang tepat. Dengan demikian, kondisi saat ini dapat dioptimasi sesuai dengan situasi yang mungkin terjadi di masa depan (early warning & prediction).
Sebagaimana kita ketahui, data yang akurat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Dampaknya, pengeluaran yang tidak perlu, bujet yang bisa dihemat, alokasi yang bisa di-pending, penggunaan sumber daya yang bisa didaur ulang atau dipakai kembali, dan lain-lainnya dapat dioptimalkan, sehingga terjadi penghematan biaya.
Pada 2023, pemanfaatan digitalisasi dan sistem REOC terbukti mampu mendapatkan value creation setara dengan nilai lebih dari Rp 400 miliar, yang berasal dari tindak lanjut atas rekomendasi peningkatan efisiensi termal pada 10 pembangkit PLTU batu bara. “Ke depannya, angka value creation akan semakin besar dengan masuknya beberapa pembangkit lainnya ke platform REOC,” ujar Edwin.
Prospek pengembangan digital plant sendiri memiliki peluang yang sangat besar karena adanya kesamaan karakteristik antara peralatan pembangkit listrik dan industri yang memiliki aset fisik berskala masif, seperti di sektor migas, petrokimia, serta pupuk.
Kesamaan ini menunjukkan bahwa konsep digitalisasi dalam dunia pembangkit listrik dapat diadaptasi dan disebarluaskan ke berbagai industri lainnya. Dari sisi teknologi, potensi pengembangan digital plant semakin menjanjikan di masa depan, terutama dengan kebutuhan teknologi prediktif yang mampu memastikan peralatan beroperasi dengan andal dan efisien.
Teknologi ini berperan penting dalam memaksimalkan nilai aset yang dikelola, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan metode konvensional.
PLN IP, menurut Erwin, terus memperluas penerapan digital power plant di seluruh pembangkit yang dimilikinya. Selain itu, kesamaan karakteristik aset fisik antara PLN IP dan industri lainnya juga membuka peluang baru bagi platform seperti REOC untuk dikembangkan sebagai bisnis Beyond KWh. Hal ini tidak hanya memperkuat kinerja internal PLN IP, tetapi juga memberikan potensi untuk berkolaborasi dengan berbagai sektor industri.
Sejak tiga tahun lalu, implementasi REOC yang merupakan salah satu produk beyond kWh yang dikelola PLN IP untuk dapat membantu asset management telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Antara lain, melalui pengembangan di PLTU Tanjung Jati B dan PLTP Dieng milik PT Geo Dipa Energi.
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa platform digitalisasi yang dikembangkan PLN IP memiliki daya saing tinggi dan dapat diandalkan, baik untuk peningkatan kinerja pembangkit maupun sebagai solusi inovatif yang dapat diadopsi oleh industri lain,” kata Edwin. (*)