Saham Sektor Konsumsi Diperkirakan akan Defensif, Ini Gambaran dari Mirae Asset Sekuritas
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Abyan Habib Yuntoharjo menjelaskan saham-saham di sektor barang konsumsi pokok diperkirakan akan defensif. Saham dari sektor tersebut akan menjaga harga dan diperkirakan bertumbuh, khususnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri tahun 2025.
“Investor luar memang fokusnya di sektor-sektor defensif, kalau ritel, mix,” jelas Abyan dalam sesi diskusi bertajuk Consumer Trends for the 2025 Fasting Month: Building Smarter Investors di kantor Mirae Asset Sekuritas, Lebak Bulus, Jakarta pada Kamis (13/2/2025).
Abyan mengamati, saham-saham di sektor konsumsi pokok berpeluang positif karena masih adanya daya beli masyarakat dan potensi pertumbuhan pasar grosir. Namun, pertumbuhan daya beli itu masih disokong dari bantuan pemerintah, mulai dari diskon tarif listrik hingga bantuan beras 10 kg.
Selain itu, momen hari besar pada kuartal pertama 2025, yaitu Imlek dan Idul Fitri terjadi perubahan perilaku konsumen, yaitu masyarakat mempersiapkan diri untuk lebaran. Sejumlah emiten bisa dilirik seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).
“Pertama, ICBP itu pertumbuhan secara domestik masih robust. Kedua, AMRT adalah proksi dari kebutuhan pokok konsumen. Mereka bisa menjaga margin, masih bisa berjualan dan orang akan tetap belanja,” tambah Abyan.
Meskipun begitu, ada kecenderungan masyarakat untuk menahan daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Tekanan berupa biaya kebutuhan sehari-hari, utang pinjaman masih tinggi, lapangan pekerjaan yang diciptakan masih di sektor informal, hingga pemutusan hubungan kerja massal terjadi di startup, lembaga pemerintahan, hingga badan usaha milik negara (BUMN).
Dari segi global, adanya efek Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada Oktober 2024. Selain itu, terjadi arus dana keluar investor asing yang besar pada sejak September 2024 hingga Oktober 2024. Hal tersebut menekan level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga saat ini.
Abyan mengamati, semua saham saat ini dalam kondisi bervaluasi rendah dibandingkan dari rata-rata lima tahunnya.
“Kami menunggu, lebih tepatnya, turnaround story dari global maupun pemerintah,” tutup Abyan.
Melansir dari aplikasi IDX Mobile pada 13 Februari 2025 pukul 16.08, kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 29,19 poin atau 0,44% menjadi 6.616,59. Sebelumnya, IHSG dibuka di posisi 6.637,42 dan sempat mengalami posisi tertinggi di 6.647,11. Adapun nilai kapitalisasi pasarnya hanya Rp11.353 triliun. (*)