SCG Cetak EBITDA Rp24,13 Triliun pada Tahun 2024

null

SCG, mencatat nilai Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization atau EBITDA sebesar Rp24,13 triliun (US$1.528 juta), didorong oleh pengelolaan biaya yang ketat, percepatan pengiriman High-Value Added Products & Services (HVA), pengurangan modal kerja secara berkelanjutan,serta investasi pada proyek-proyek dengan imbal hasil tinggi dan cepat, ditambah dengan utang yang mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Yakin dengan kesehatan keuangan yang kuat, SCG berada dalam posisi yang strategis untuk mengoptimalkan peluang dari pemulihan ekonomi regional di tahun 2025.

Thammasak Sethaudom, Presiden dan CEO SCG, mengatakan bahwa hasil tersebut didorong oleh adaptasi SCG terhadap berbagai tantangan, termasuk perlambatan siklus petrochemical, ketegangan geopolitik, fluktuasi biaya energi, serta suku bunga yang tinggi.

“SCG terus berkomitmen untuk memperkuat kesehatan finansialnya dengan mempertahankan EBITDA yang kuat sebagai prinsip utama dalam pengelolaan bisnis. Perusahaan telah menerapkan berbagai langkah penguatan yang diumumkan pada akhir Q3/2024, dengan hasil yang signifikan,” ujarnya, Jumat (14/2/2025).

Langkah tersebut di antaranya pengelolaan dana operasional telah yang diturunkan sekitar Rp2,9 triliun (US$183 juta) dibandingkan tahun lalu. Restrukturisasi aktivitas operasional dan bisnis, termasuk dengan menghentikan bisnis yang kurang optimal di tahun 2024 untuk meningkatkan efisiensi operasional. Controlled capital expenditures (CAPEX) yang memprioritaskan proyek dengan keuntungan yang tinggi dan cepat.

Alhasil, utang bersih perusahaan turun sebesar Rp7,9 triliun (US$494 juta) dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,7 kali. Posisi keuangan SCG tetap kuat dan stabil, dengan cadangan kas pada akhir tahun sebesar Rp25,2 triliun (US$1.570 juta).

Pada kuartal IV/2024, pendapatan dari penjualan mencapai Rp58,3 triliun (US$3.698 juta), meningkat sebesar 2% dibandingkan kuartal sebelumnya, didukung oleh peningkatan volume penjualan dari SCGC.

Namun, perusahaan mencatat kerugian sebesar Rp229 miliar (US$15 juta) untuk kuartal tersebut, dibandingkan dengan laba sebesar Rp318 miliar (US$20 juta) pada kuartal sebelumnya, yang terutama disebabkan oleh kinerja Long Son Petrochemicals (LSP) serta pengakuan penuh biaya penyusutan untuk proyek tersebut.

Per 31 Desember 2024, total aset SCG mencapai Rp407,66 triliun (US$25.364 juta), dengan aset di ASEAN (tidak termasuk aset di Thailand) sebesar Rp186 triliun (US$11.580 juta), atau setara dengan 46% dari total aset konsolidasian SCG.

Untuk SCG di Indonesia, perusahaan melaporkan pendapatan dari penjualan di Indonesia untuk tahun fiskal 2024 sebesar Rp17,4 triliun (US$1.099 juta), menandakan peningkatan sebesar 8% secara tahunan (year-on-year), yang dipacu oleh pertumbuhan pendapatan di SCG Chemicals (SCGC), khususnya dari ekspor Thailand dan LSP di Vietnam ke Indonesia.

Pada Q4/2024, pendapatan dari penjualan di Indonesia mencapai Rp4.36 triliun (277 juta USD), menunjukkan penurunan sebesar 1% secara tahunan, yang dipengaruhi oleh SCG Distribution and Retail, SCG Cement and Green Solution, dan SCGP. (*)

# Tag