Dari Solo ke Dunia: Kisah Sukses Reza Membawa Roti Kopi ke Pasar Global
Man jadda wa jadda.
Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya. Ungkapan tersebut nampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup pemilik nama Ahmad Kurnia Reza Rahman.
Pria kelahiran Solo, yang akrab disapa Reza tersebut merupakan founder PT Juara Roti Indonesia (JURI), yang dikenal dengan brand Ropi (roti kopi). Ropi adalah sebuah kedai yang menyajikan aneka roti khas Mexican Bun dan minuman panas maupun dingin. Hingga akhir tahun kemarin sudah memiliki 80 gerai.
Awalnya Menyasar Lingkungan Sekolah
Reza mengawali bisnis sejak 2016. Modal awalnya Rp100 jutaan dari uang tabungan yang digunakan untuk membeli perlengkapan, sewa tempat dan bahan baku. Ia memulai produksi dari rumah tinggalnya di Perum Harapan Indah Bekasi.
Pada awalnya ia menyasar lingkungan sekolah sebagai target pasar dan membangun jaringan outlet dengan sistem franchise. Dengan model bisnis tersebut, dalam tempo terbilang singkat, gerai Ropi booming.
Didukung dengan strategi pemasaran yang tepat, pertumbuhan gerainya melesat begitu cepat. "Alhamdulillah produk kami bisa diterima pasar sehingga banyak yang minat buka cabang," ujar Reza kepada SWA.co.id.
Dengan banyaknya permintaan untuk membuka franchise Ropi, sempat membuat bagian produksi kewalahan. Ini karena permintaan yang naik drastis. Dengan pertimbangan rumah tinggal tak lagi bisa menampung aktifitas produksi, maka harus dipindah ke tempat khusus.
Dengan gerak cepat, Reza segera memindahkan kegiatan produksi ke tempat baru yang tentu lebih representatif. Ia mendapatkan lokasi yang sangat strategis di Pulogadung. Berdekatan dengan kawasan industri.
Kepindahan ke Pulogadung ternyata memang membawa hoki. Selain mendukung suasana kerja yang lebih produktif, juga mempermudah akses pasar yang lebih luas. Hal ini terlihat dari permintaan buka outlet yang terus meningkat. Puncaknya pernah mencapai 60 cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. "Kebetulan kami berdekatan dengan kawasan industri yang ramai menjadikan perusahaan kami makin cepat dikenal," jelas Reza.
Reza tak menduga bila bisnisnya akan tumbuh dengan cepat. Padahal saat mengawali,ia sempat sedikit dihantui rasa bimbang. Maklum, ia merasa tidak memiliki pengalaman bisnis bidang F&B. Satu-satunya modal adalah dorongan istri dan mertua yang kebetulan hobi membuat roti.
Berbekal dorongan keluarga dan pengalaman sebagai pemasar, akhirnya Reza memantapkan diri untuk terjun ke industri bakery. Ia merasa tak perlu repot-repot melakukan survei pasar, hanya untuk menentukan jenis produk maupun target pasar.
"Saya cukup amati produk apa yang lagi trend di pasaran ketika itu," kata Reza.
Kebetulan tahun 2016 ada satu produk dikenal roti Mexican Bun. Jangan salah paham, meski ada kata Mexican, roti ini asli berasal dari Malaysia. Disebut Mexican Bun karena bentuknya yang bulat mirip topi khas Mexiko.
Dengan prinsip ATM (Amati Tiru Modifikasi), Reza mantap memproduksi roti Bun. Selain roti yang fresh from the oven, ia juga menyiapkan aneka minuman ready to drink berbasis kopi teh dan coklat, dikemas dengan botol yang menarik. Ia menggunakan konsep drive thru pelanggan datang beli dibawa pergi.
Karena yang menonjol produknya mengandung unsur kopi, Reza menggunakan brand Roti Kopi yang kemudian dikenal dengan Ropi. Saat pertama kali memasarkan produknya, ia sengaja menyasar anak-anak sekolah. Karena itulah gerai Ropi memilih mencari lokasi yang berbeda di lingkungan sekolah. Dengan harga yang dibandrol Rp5000, Ropi bisa dibilang laris manis di pasaran.
Dihantam Covid
Setelah gerai pertama sukses, Reza menjadikannya sebagai portofolio untuk mengembangkan bisnis dengan model waralaba. Dengan didukung promosi yang meyakinkan, gerai Ropi mulai banyak diminati para investor yang berharap cuan dengan cepat. Gerainya mulai menyebar ke berbagai kota di Indonesia.
Merasakan perkembangan bisnisnya yang kian menggembirakan, hati Reza tentu saja wajar bila berbunga-bunga. Ia membayangkan bakal segera memanen pundi-pundi rupiah dari hasil kerja kerasnya. Namun apalah daya, bayangan menikmati keuntungan hanya tinggal angan-angan belaka. Bayangan keindahan menikmati cuan mendadak sirna berubah jadi kekalutan.
Musibah itu datang tiba-tiba. Di luar perhitungan, muncul wabah pandemi Covid 19. Wabah yang menyerang hampir seluruh dunia inilah yang menghancurkan bisnisnya dalam tempo sekejap.
Bisnisnya terjun bebas. Banyak cabang yang harus tutup karena efek social distance yang membatasi ruang gerak masyarakat. "Saya lemas bingung tak bisa berbuat apa-apa," ungkapnya mengenang.
Reza harus menelan pil pahit,karena efek pembatasan sosial membuatnya kehilangan 40 outlet yang terpaksa ditutup. Memang masih ada belasan gerai yang mencoba bertahan, tapi kondisinya kembang kempis. Hidup segan mati tak mau. Pendapatannya bisa dibilang negatif tak cukup untuk menutup biaya operasional. Ia harus nombok.
Menghadapi situasi yang sulit, Reza terus berusaha mencari terobosan. Tapi semua jalan sepertinya sudah buntu. Tak adanya kebebasan masyarakat beraktivitas untuk mencegah penularan virus covid menjadi faktor utamanya. Dan keputusan pahit harus diambil. Ia mengibarkan bendera putih. Ia menyerah dengan menutup pabrik yang di Pulogadung.
"Kami sudah tak mampu bertahan," ucapnya.
Pulang Kampung
Meski dalam kondisi sulit, Reza terus berusaha berkelit dari nasib buruk. Ia bukan diam menyerah. Ketika merasa tak ada jalan, ia akhirnya pasrah pada Sang Khaliq. Ia yakin apa yang dialaminya sudah menjadi ketetapan Tuhan. Yang membuatnya terhibur tidak mengalami sendirian, tapi juga dialami jutaan manusia lain yang bernasib sama.
Saat menghadapi kondisi sulit, Reza memilih jalan banyak bertafakur. Ia harus pasrah dan banyak bermunajat untuk hanya memohon pertolongan-Nya semata. Ia yakin pasti akan menemukan jalan atas petunjuk Illahi.
Reza layak bersyukur, doa yang yang dipanjatkan ternyata tembus ke langit. Dari langkah spiritual tersebut, ia mendapatkan semacam firasat untuk melakukan sesuatu yang diyakini membawa kebaikan ke depan. Sesuatu tersebut adalah inspirasi agar dia memindahkan lokasi usahanya daerah dimana dia berasal.
Setelah melalui proses perenungan yang mendalam, akhirnya ia menjalankan misi boyongan, untuk pulang kampung, kembali ke daerah asalnya di Solo. Kota Bengawan Solo menjadi pilihan karena lebih dengan dengan kedua orang tua.
Akhirnya pada 2019, Reza boyongan meninggalkan Jakarta yang selama ini telah memberinya banyak pengalaman mengenyam kehidupan. Semua alat produksi roti yang masih layak, ia angkut ke lokasi pabriknya yang baru di wilayah Delanggu, Kabupaten Klaten, Jateng.
Reza memang memutuskan untuk memilih Delanggu sebagai tempat produksi roti dan kantor perusahaannya. Setidaknya ada dua alasan kenapa pindah ke daerah tersebut. "Yang pertama dekat dengan rumah di Solo dan yang kedua akses ke jalan tol relatif dekat," ujarnya.
Meskipun dalam kondisi dihantui pandemi Covid, dalam waktu singkat Reza berhasil men-setting pabrik barunya di Delanggu. Ia cukup menyewa gudang karena kalau membangun butuh investasi besar.
Setelah tempat produksi siap, Reza sudah tidak sabar untuk segera menggerakkan kembali roda perusahaannya. Ia tak perlu menunggu pandemi berakhir. Dengan pengalamannya sebagai pemasar di sebuah media komunitas, ia merasa tidak kesulitan untuk rebranding Ropi.
Masuk Lingkungan Rumah Sakit
Pelan tapi pasti, Reza sukses menghidupkan kembali roda bisnisnya. Satu persatu gerai yang sempat tutup bisa dibuka kembali. Masih dengan model franchise, Ropi sukses memikat investor. "Alhamdulillah perusahaan kami sudah sehat kembali setelah hancur karena Covid," ujar Reza.
Satu hal yang menarik, belakangan Reza mengaku sedang mengembangkan pasar di lingkungan rumah sakit. "Kami menemukan market yang cukup menarik di rumah sakit," katanya.
Pengembangan outlet di RS tersebut, berawal dari kisah sukses salah satu outlet Ropi di Pontianak. Outlet milik salah satu mitra franchise tersebut, memiliki omset yang bagus dan cenderung stabil. Bahkan pada hari tertentu omsetnya naik. Ternyata lokasi outletnya berada di dalam lingkungan rumah sakit. "Dari sinilah kami tertarik untuk fokus di rumah sakit," tuturnya.
Menurut Reza, sampai akhir Desember 2024, sudah ada 27 outlet Ropi yang tersebar di berbagai rumah sakit. Tidak ada hanya di Pulau Jawa, tapi telah merambah kota besar di Indonesia. Sebagai Gambaran, di Jogja, gerai Ropi bisa ditemukan di RS Queen Latifah, RSUD Sleman dan PKU Muhamadiyah. Jogja, dan Gamping.
Dari evaluasi yang dilakukan Reza, RS menjadi pasar yang bagus karena pengunjungnya selalu berganti dengan orang baru. Produk Ropi dianggap dicocok untuk camilan para pengunjung rumah sakit.
Bisnis adalah Pilihan Hidup
Bagi Reza menjalankan usaha merupakan pilihan hidup. Sejatinya, ia sudah memiliki bisnis yang sudah digelutinya selama puluhan tahun. Bersama sang ayah yang kebetulan seorang jurnalis, Reza mengelola sebuah tabloid komunitas perumahan Harapan Indah di Bekasi. Mereka berbagi tugas. "Bapak pegang redaksi. Saya pegang AE (account executive)," ujar Reza.
Setelah sempat menikmati masa-masa kejayaan, bisnis media mulai meredup tergilas kemajuan teknologi sebagaimana tren yang dialami industri media cetak pada umumnya. Pelanggan dan Iklan terus menurun. "Pendapatan kami dari iklan yang menjadi andalan untuk operasional semakin kecil, " ungkapnya.
Ketika perusahaan pertamanya berada di ambang senjakala, Reza merasa harus mengantisipasi dengan membangun sekoci bisnis baru. Harapannya bila perahu bisnis pertamanya tenggelam sudah ada penggantinya. Karena itulah,dia tidak serta merta langsung menghentikan bisnis media komunitasnya.
Apa yang sempat menjadi kekhawatiran Reza, ternyata terbukti. Bisnis media cetak tak lagi bisa diharapkan menjadi sumber income. Untungnya ketika bisnis media cetak dalam kondisi mati suri, bisnis rotinya bisa dibilang sudah running. Produknya sudah diterima pasar.
Bagi Reza memiliki usaha roti ternyata merupakan impian yang lama terpendam. Ini terkait dengan permintaan sang istri yang dinikahinya tahun 2009, yang ingin dibukakan toko roti, setelah mereka menikah. "Setelan kami menikah istri minta dibuatkan toko roti, saya hanya bilang Insya Allah," tutur pria asli Solo ini.
Menurut Reza, pada awal menjadi pengantin baru, ia merasa belum bersemangat membangun usaha sendiri. Salah satunya karena kondisi bisnis media komunitas yang dijalankannya masih terbilang lancar. "Saya masih sibuk karena banyak hal yang harus saya kerjakan," imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi bisnis media komunitas yang dijalankan Reza dan keluarga menunjukkan gejala perkembangan yang kurang menggembirakan. "Trendnya makin menurun dan susah untuk dinaikkan lagi," ujarnya.
Beruntunglah dia cepat mengambil keputusan untuk banting setir dengan menjalankan usaha baru. Ropi kini tidak hanya bisa dinikmati konsumen di dalam negeri saja, tapi sudah menjadi roti yang bisa memenuhi selera orang mancanegara. Sejak tahun 2023, produk Ropi sudah ditemukan di beberapa gerai di UEA, Timur Tengah.
Diremehkan
Reza tak menduga bila akan mendapatkan kepercayaan dari pengusaha Timteng yang tertarik memasarkan produknya. Dan ternyata merupakan efek dari pameran yang sempat diikutinya di Riyadh, Saudi Arabia tahun 2021. "Saya tidak menduga bila akan ada yang nyantol dari pameran di Timur Tengah," katanya.
Menurut cerita Reza, mengikuti pameran di Riyadh merupakan pengalaman pahit yang berbuah manis. Ia mengikuti pameran dagang di kota tersebut karena diminta Kedubes Arab Saudi. Ia mengaku hanya dapat fasilitas gratis tempat saja. Untuk akomodasi harus biaya sendiri.
Ketika sampai di Riyadh, untuk mengikuti pameran ada perasaan tak enak yang dirasakannya. Sebagai peserta dari Indonesia,ia merasa disepelekan dan tidak dihargai. Ternyata oh ternyata, selama ini mereka memang meremehkan warga negara Indonesia. "Kita sangat diremehkan dianggap warga kelas tiga," terangnya.
Menghadapi perlakuan yang tidak mengenakkan tersebut, Reza mencari informasi agar stand Ropi sukses mengikuti pameran. Ia disarankan untuk menggunakan SPG (sales promotion girls) warga lokal. "Alhamdulillah dengan SPG orang asli Arab pameran berlangsung sukses, banyak pengunjung yang datang," kenangnya.
Tapi apa yang dilakukan Reza menggandeng tenaga kerja asli Arab tersebut, ternyata tidak membuat pejabat Kedubes berkenan. "Saya ditegur dari Kedubes kenapa tidak pakai orang Indonesia, setelah saya jelaskan akhirnya dimaklumi," jelas Reza.
Doa yang Terkabul
Ketika berada di Riyadh, Reza memanfaatkan waktu sekalian bisa umroh. Ia mengaku memanjatkan doa secara khusus agar usaha bakery sukses tidak hanya di dalam negeri,tapi juga sampai ke luar negeri. "Alhamdulillah doa saya dikabulkan saya sekarang bisa memasarkan roti hingga luar negeri," tuturnya.
Reza mengungkapkan, setelah pameran di Riyadh tidak terbayangkan akan ada pengusaha yang tertarik karena dibandingkan dengan peserta pameran lain, stand Ropi bisa dibilang paling kecil. Yang lain perusahaan besar. Dan dia pun nyaris tak percaya ketika ada telpon masuk di seorang pengusaha UEA yang menyatakan tertarik dengan buka Ropi.
Menurut Reza, keberhasilan membuka gerai di UEA merupakan perwujudan dari doa terkabul ketika umroh. Saat dapat tawaran di negara tersebut, ia sempat ragu dan baru yakin setelah ia difasilitasi untuk terbang ke Arab Saudi untuk cek calon lokasi outletnya.
Kini rata-rata Reza memproduksi 10.000 potong roti tiap hari. Sementara itu, ia mengirim 1 ton adonan tiap bulan ke agennya di luar negeri. Selama ini Reza memang mengirimkan roti dalam bentuk adonan dalam bentuk frozen ke seluruh outlet. Adonan yang sudah terbentuk akan dioven sebelum dijual.
Menurutnya, ia melihat ada perbedaan antara konsumen di dalam dan di luar negeri untuk produk roti. Di luar negeri, roti menjadi makanan pokok, sedangkan di Indonesia hanya sekedar camilan. Karena itulah, ia melihat potensi. market yang luar biasa besar untuk luar negri.
"Setelah Timur Tengah saya akan fokus menggarap India yang konsumsi rotinya tinggi," jelasnya. (*)