Dari 5 Kota ke Seluruh Indonesia: Begini Strategi Ekspansi RedDoorz

null
Cut Nany Indriani (tengah) saat acara BizzComm Podcast (Foto: Agung/SWA)

Ketika RedDoorz pertama kali masuk ke pasar Indonesia pada tahun 2015, industri perhotelan di Tanah Air masih didominasi oleh model bisnis konvensional. Pemilik hotel independen harus mengandalkan cara tradisional dalam mengelola operasional dan pemasaran mereka.

Namun, RedDoorz hadir dengan pendekatan yang berbeda: mengintegrasikan teknologi dalam ekosistem akomodasi, memberikan solusi bagi hotel-hotel kecil agar bisa lebih optimal dalam pengelolaan bisnis mereka.

"Kami melihat banyak hotel independen di Indonesia yang berjalan sendiri-sendiri tanpa dukungan teknologi dan pemasaran yang mumpuni," ungkap Cut Nany Indriani, Head of Integrated Communications RedDoorz Indonesia dalam acara BizzComm Podcast, kolaborasi SWA dengan LSPR Faculty of Business.

Tantangan di Awal

Memulai bisnis di sektor ini bukanlah hal yang mudah. RedDoorz harus menghadapi tantangan meyakinkan pemilik properti bahwa sistem yang mereka tawarkan bisa membawa perubahan signifikan. Pada awalnya, kata Nany, belum banyak operator yang menawarkan model kemitraan seperti mereka. Hotel-hotel kecil biasanya harus bertahan sendiri, menunggu tamu datang saat musim liburan tiba. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya digitalisasi, semakin banyak hotel independen yang mulai bekerja sama dengan RedDoorz.

Dalam satu tahun pertama beroperasi, RedDoorz berhasil berekspansi ke lima kota di Indonesia. Kota-kota awal yang dipilih didasarkan pada tingginya permintaan terhadap akomodasi dengan harga terjangkau. Seiring berjalannya waktu, ekspansi pun terus meluas hingga ke luar Pulau Jawa. Saat ini, RedDoorz sudah memiliki mitra di seluruh Indonesia, bahkan hingga Papua.

“Di mana ada demand, di situ kami berusaha hadir,” jelas Cut Nany. Model bisnis yang mereka jalankan tidak hanya membantu pemilik hotel meningkatkan okupansi, tetapi juga memberikan mereka akses terhadap sistem yang lebih efisien dalam mengelola properti.

Keunggulan utama RedDoorz terletak pada teknologinya. Dengan menggunakan sistem yang terintegrasi, pemilik hotel bisa memantau okupansi secara real-time, mengelola tarif kamar dengan lebih fleksibel, dan menjalankan strategi pemasaran yang lebih efektif.

Intinya, RedDoorz tidak hanya sekadar menjadi platform pemesanan, tetapi juga membantu operasional dan penjualan para mitra agar lebih optimal. Hal ini memungkinkan hotel-hotel independen untuk tetap kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat.

Selain itu, RedDoorz juga menjalankan strategi desentralisasi pemasaran dengan menyesuaikan promosi dan program berdasarkan karakteristik regional. Langkah ini memungkinkan mereka untuk lebih memahami kebutuhan pasar lokal.

Dengan strategi ini, RedDoorz ingin memastikan bahwa setiap properti mitra mendapatkan perhatian yang sesuai dengan segmen pasarnya. Dan dengan pendekatan ini, RedDoorz berhasil membangun jaringan hotel budget terbesar di Indonesia, yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Hospitality 3.0

Dalam perjalanannya, RedDoorz tidak hanya fokus pada hotel budget, tetapi juga mulai berekspansi ke segmen yang lebih luas. Salah satu langkah penting yang diambil adalah meluncurkan beberapa brand baru yang menyesuaikan diri dengan tren dan kebutuhan pasar. Misalnya, Lavana by RedDoorz yang menyasar pasar villa premium dan Urbanview yang dirancang untuk segmen yang lebih modern dan pekerja digital yang sering melakukan workcation. "Kami menyebut model bisnis kami sebagai Hospitality 3.0, karena kami tidak hanya sekadar OTA (Online Travel Agent), tapi juga berperan langsung dalam mengelola properti mitra," ujar Cut Nany.

Keputusan untuk melakukan ekspansi ini didukung oleh analisis mendalam terhadap pola perjalanan masyarakat Indonesia. RedDoorz membagi kota-kota potensial menjadi tiga kategori utama: leisure cities (kota wisata), business cities (kota bisnis), dan transit cities (kota persinggahan).

Menurut Cut Nany, kalau kita bicara kota wisata, tentu demand-nya sudah jelas tinggi, seperti Bali atau Yogyakarta. Tapi ada juga kota bisnis seperti Balikpapan dan Samarinda yang sebenarnya memiliki permintaan yang stabil dari para pekerja yang sering melakukan perjalanan dinas. Dengan strategi ini, RedDoorz mampu memastikan bahwa ekspansi mereka didasarkan pada kebutuhan pasar yang nyata.

Selain ekspansi geografis, RedDoorz juga semakin memperkuat posisinya dengan meningkatkan kemitraan strategis, baik dengan pemilik hotel maupun dengan pemerintah. Salah satu kerja sama penting yang telah dilakukan adalah dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam pengembangan desa wisata.

RedDoorz tidak hanya membantu dalam pemasaran, tetapi juga memberikan pelatihan kepada pemilik penginapan agar mereka bisa meningkatkan standar layanan mereka. Langkah ini sejalan dengan misi RedDoorz untuk membangun ekosistem hospitality yang lebih inklusif dan memberdayakan.

Meskipun sektor perhotelan sempat mengalami pukulan berat akibat pandemi, RedDoorz justru melihat peluang dari perubahan kebiasaan wisatawan. Setelah pandemi, tren seperti workcation dan staycation semakin populer, sehingga permintaan terhadap akomodasi yang fleksibel meningkat. Inilah yang mendorong RedDoorz untuk meluncurkan brand Sans, yang menyasar generasi Z dengan konsep yang lebih estetis, modern, dan penuh pengalaman unik.

"Anak-anak muda sekarang mencari pengalaman yang bisa dibagikan di media sosial, dan kami ingin menyediakan akomodasi yang sesuai dengan keinginan mereka," ujar Cut Nany.

null
The Lavana Sasandu Gunung Salak Bogor, salah satu andalan RedDoorz (Foto: RedDoorz)

Rencana IPO

Dengan strategi yang terus berkembang, RedDoorz juga menatap masa depan dengan ambisi besar. Saat ini, perusahaan telah memiliki hampir 4.000 properti mitra dan menargetkan pertumbuhan hingga 8.000 properti dalam lima tahun ke depan.

“Kami ingin menjadi penyedia akomodasi terbaik dan terbesar di Asia Tenggara. Salah satu langkah besar yang sedang kami siapkan adalah IPO dalam beberapa tahun ke depan,” ungkap Cut Nany. Dengan langkah ini, RedDoorz berharap dapat mengamankan pendanaan lebih besar untuk mendukung ekspansi mereka ke negara-negara lain di kawasan ini.

Ambisi RedDoorz untuk menjadi pemain utama di Asia Tenggara bukanlah tanpa alasan. Selain Indonesia, mereka juga telah memperluas operasionalnya ke Filipina dan mulai merintis kehadiran di Thailand serta Vietnam. Namun, fokus utama mereka tetap pada pasar Indonesia, yang menyumbang sekitar 85% dari total bisnis mereka.

Diakui Cut Nany, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar karena jumlah penduduknya tinggi dan segmen menengahnya berkembang pesat. Itu sebabnya mereka terus mencari peluang untuk menambah properti mitra di berbagai kota.

Selain memperluas jaringan properti, RedDoorz juga berupaya meningkatkan pengalaman pengguna dengan berbagai inovasi digital. Mereka memiliki aplikasi sendiri yang memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dengan cepat, serta memberikan akses langsung bagi pemilik properti untuk memantau performa bisnis mereka.

“Kami ingin membuat pengalaman menginap yang lebih seamless, dari pemesanan hingga check-out. Teknologi menjadi kunci dalam memastikan hal itu terjadi,” ungkap Cut Nany. Dengan pendekatan ini, RedDoorz tidak hanya membantu hotel independen bertahan, tetapi juga meningkatkan efisiensi bisnis mereka.

Dampak Ekonomi

Dampak dari keberadaan RedDoorz juga dirasakan oleh banyak pihak, termasuk sektor ekonomi lokal. Dengan meningkatnya okupansi hotel-hotel kecil, lapangan pekerjaan pun ikut bertambah, terutama di sektor perhotelan dan jasa terkait.

Selain itu, kehadiran RedDoorz di kota-kota kecil juga membantu meningkatkan aksesibilitas akomodasi bagi wisatawan dan pelaku bisnis yang bepergian. Mereka percaya bahwa dengan berkembangnya jaringan, efek domino RedDoorz bagi ekonomi lokal juga akan semakin besar.

Namun, tantangan tetap ada. Persaingan di industri perhotelan semakin ketat, terutama dengan hadirnya berbagai platform pemesanan online lainnya. Meski begitu, RedDoorz tetap percaya diri dengan model bisnis mereka yang unik.

“Kami tidak hanya sekadar menjual kamar hotel, tapi benar-benar terlibat dalam meningkatkan kualitas properti mitra. Ini yang membedakan kami dengan platform lain,” tegas Cut Nany. Dengan pendekatan ini, RedDoorz terus beradaptasi dengan tren pasar dan memastikan bahwa mereka tetap relevan di tengah persaingan yang dinamis.

Ke depan, RedDoorz berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperkuat posisinya di industri hospitality. Dengan pertumbuhan yang pesat dan strategi ekspansi yang matang, perusahaan ini semakin mendekati tujuannya untuk menjadi pemimpin di Asia Tenggara.

“Kami ingin terus tumbuh bersama para mitra dan memastikan bahwa setiap orang di Indonesia bisa mendapatkan akomodasi yang berkualitas dengan harga terjangkau,” tutup Cut Nany. Dengan visi tersebut, RedDoorz tidak hanya menjadi pilihan bagi para pelancong, tetapi juga mitra strategis bagi pemilik properti yang ingin mengembangkan bisnisnya di era digital. (*)

# Tag