Dari Laboratorium ke Panggung Bisnis: Kisah Kwik Wan Tien Menata WRP

null
Kwik Wan Tien, dari laboratorium di Prancis, pulang ke Indonesia, mengembangkan WRP (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Tahun 2006. Di sebuah sudut kota Paris, saat senja menyapu langit dengan warna emas yang redup, seorang perempuan muda duduk dengan tatapan yang jauh. Kwik Wan Tien, berada di titik persimpangan: melanjutkan karier atau pulang.

Kala itu, perempuan kelahiran 1977 ini baru selesai menyelesaikan studi di ISIPCA (Institut supérieur international du parfum, de la cosmétique et de l'aromatique alimentaire), sekolah bergengsi di Versailles yang melahirkan ahli kosmetik dan parfum terbaik di dunia. Ia meraih gelar Master of Science Cosmetis and Perfumes.

Di ISIPCA, Wan Tien terbiasa dengan aroma bahan kimia yang berpadu dengan esensi bunga memenuhi ruang eksperimen, tempatnya menghabiskan berjam-jam meramu formula. Ia tidak sekadar belajar membuat kosmetik, tetapi memahami esensi kecantikan itu sendiri — bagaimana setetes parfum bisa menyulut kenangan, bagaimana polesan rias bisa menyalakan kepercayaan diri.

Sejatinya, Wan Tien sungguh beruntung. Pasalnya, sejak kecil, ia sudah menyadari betapa dahsyatnya sentuhan kosmetik. Ia terpesona melihat bagaimana perempuan dengan bekas luka di wajahnya bisa kembali berseri hanya dengan sapuan foundation yang tepat.

“Kosmetik itu sebenarnya bukan sekadar tentang menjadi lebih cantik,” ujarnya dengan mata berbinar. “Ini tentang memberi seseorang rasa percaya diri yang mungkin sempat hilang. Saya pribadi inginnya menjadi makeup artist. Saya senang mendandani orang karena ada tansformasi di sana yang amazing.”

Alhasil, ISIPCA memang sengaja dipilihnya karena alasan rasional. “ISIPCA adalah sekolah yang didukung oleh berbagai perusahaan besar seperti L’Oréal. Para lulusan terbaiknya langsung direkrut oleh industri,” jelasnya.

null
Kampus ISIPCA tempat Wan Tien menimba ilmu (https://www.isipca.fr)

Program di ISIPCA berlangsung selama dua tahun dan dibagi menjadi dua tahap. Tahun pertama (2004-2005) difokuskan pada formulasi kosmetik, termasuk skincare, parfum, dan makeup. Para siswa belajar dari para ahli yang bekerja langsung di industri, sehingga ilmu yang didapatkan sangat aplikatif.

Pada tahun kedua, ia melanjutkan studinya ke Inggris di University of Plymouth (2005-2006), yang menjadi bagian dalam program double degree ISIPCA, yang menggabungkan ilmu kosmetik dengan aspek bisnis. Tujuannya agar lulusan ISIPCA bukan hanya memahami formulasi produk, tetapi juga bagaimana mengelola bisnis kosmetik. Di sini ia meraih gelar MBA.

Bagi Wan Tien, menimba ilmu di ISIPCA adalah langkah penting untuk membantunya memahami pasar lebih luas dan mengembangkan strategi bisnis yang lebih matang saat terjun ke dunia kosmetik. Apalagi jika ia berhasil masuk 10 lulusan terbaik: ia bisa langsung ditarik L’Oréal di Paris.

Apa yang diharapkan Wan Tien akhirnya tercapai. Dia termasuk 10 besar sehingga ditawari masuk L’Oreal Paris.

Namun, di tengah kebahagiaan, keputusan besar harus diambil. Di hari wisudanya, ayahnya datang dan mengingatkan tentang arti keluarga. “Aku harus memilih: bertahan di Paris dengan karier impian atau kembali ke Indonesia untuk bersama keluarga,” kenangnya.

Wan Tien bisa memaklumi permintaan sang ayah. Dia telah 8 tahun meninggalkan Tanah Air. Dia memulai perjalanannya dengan mengambil jurusan Kimia di Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan studinya di Amerika, ia bekerja selama dua tahun di industri farmasi, termasuk di Glaxo Wellcome Holdings Limited (2000-2001) di mana ia terlibat dalam penelitian obat kanker, dan Advanced Medicine and Innovation Ltd. (2001-2004).

“Pengalaman ini membuka mata saya bahwa formulasi bukan hanya tentang kosmetik, tetapi juga bagaimana sains bisa membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang,” ungkapnya.

Namun, hasratnya terhadap industri kecantikan tetap membara. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di ISIPCA, sampai ditarik L’Oreal Paris. Dan hingga sang ayah memintanya pulang.

Keputusan pun diambil: pulang kampung. Tak ada lagi Paris dengan keharuman parfumnya, tak ada lagi Inggris dengan sekolah bisnisnya. Wan Tien kembali ke Indonesia, dengan koper penuh ilmu dan kepala yang dipenuhi impian. "Papiku khawatir kalau aku tetap di luar negeri, aku bisa nggak pulang-pulang dan jauh dari keluarga," kenangnya.

Toh ia tetap merasa beruntung karena saat pulang ke Tanah Air, ia bergabung dengan L’Oréal Indonesia, meski dia memulai kariernya bukan sebagai formulator atau ahli kecantikan, melainkan di bagian pembelian bahan baku. Bukannya mengeluh, ia justru menganggap ini sebagai tantangan. “Saya ingin memahami bisnis ini dari akarnya,” tuturnya.

Menjadi Sahabat Perempuan

Namun, karier di L’Oréal Indonesia itu tak lama, 2007-2011. Takdir kemudian membawanya ke jalur yang lebih personal. Keluarganya yang memiliki bisnis makanan dalam bendera Nutrifood menariknya pulang.

Juni 2011, Wan Tien kembali dalam pelukan perusahaan keluarganya. Di Nutrifood, ia pertama kali ditempatkan di berbagai bidang untuk memahami cara kerja perusahaan. Dari purchasing, memahami proses pembelian bahan baku dan kemasan, hingga perlahan mulai terlibat dalam pengembangan produk susu diet andalan mereka, WRP (Weight Reduction Program). Dia menjadi General Manager WRP Diet Center (2011-2014) dan General Manager WRP (2014-2020).

Selama 9 tahun memegang WRP, perlahan tapi pasti, Wan Tien kian menyadari bahwa pendekatan bisnis produk ini berbeda dengan merek-merek lain dalam keluarga Nutrifood seperti NutriSari, Tropicana Slim, atau HiLo yang arahnya lebih mass market.

"Perempuan itu butuh pendekatan berbeda, dari packaging yang harus cantik, formula yang harus enak, hingga cara pemasaran yang lebih spesifik. Ini yang disasar WRP, segmented," jelasnya.

Saat itu, WRP yang lahir tahun 1991, masih sekadar produk penurun berat badan, tetapi di benaknya, Wan Tien melihat sesuatu yang lebih besar. “Mengapa hanya tubuh yang diperhatikan? Mengapa tidak kecantikan secara keseluruhan?”

Dari sanalah visinya lahir: menjadikan WRP bukan hanya sekadar brand susu diet, tetapi sahabat perempuan dalam perjalanan mereka menuju kesehatan dan kecantikan.

Maka di antara lembaran strategi bisnis serta tumpukan formula produk, Wan Tien pun segera menemukan panggilannya. Ia tidak hanya ingin menciptakan produk, tetapi juga menghadirkan sebuah pengalaman — perjalanan yang memungkinkan perempuan untuk merasa lebih baik, lebih kuat, dan lebih percaya diri.

Dengan naluri seorang formulator dan naluri seorang pemimpin, ia mulai membayangkan WRP yang lebih dari sekadar susu diet. Menurutnya, perempuan tidak hanya ingin kurus. Mereka ingin sehat, bugar, dan memiliki kulit yang bercahaya.

Perlahan tapi pasti, ia mulai mengusulkan WRP melangkah ke ranah yang lebih luas: dari diet menuju gaya hidup, dari penurunan berat badan menuju perawatan tubuh yang holistik. Tahun 1990-an hingga 2000-an WRP memang identik dengan produk susu diet.

null
Iklan WRP tahun 1995, sangat menancap di benak sebagai produk susu diet (Foto: FB Iklan Jadul)

Namun, transisi ini bukan tanpa tantangan. Sebagai bagian dari Nutrifood, WRP harus bersaing dengan merek-merek lain di dalam perusahaan yang sama, masing-masing memiliki prioritas dan ruang inovasinya sendiri.

Wan Tien pun meyakini bahwa untuk benar-benar membawa WRP ke level berikutnya, brand ini harus berdiri sendiri. “Saya melihat cara kerja Nutrisari dan HiLo — mereka memiliki jalurnya sendiri. WRP berbeda, ini lebih dari sekadar produk konsumsi. Ini adalah gaya hidup perempuan, dan gaya hidup perlu ruang untuk berkembang,” ungkapnya.

"Dan kalau WRP tetap di Nutrifood, keputusan strategisnya akan selalu kalah prioritas dengan produk yang lebih besar," ia menambahkan.

Dengan keyakinan yang teguh, ia pun mengusulkan pemisahan WRP dari Nutrifood, menjadikannya entitas mandiri agar lebih fokus pada pengembangan produk dan strategi pemasaran yang lebih sesuai. Dan akhirnya, Juli 2020, setelah melewati proses yang matang, WRP berdiri sendiri, menjadi PT Wajah Rejuvenasi Perempuan (WRP) Indonesia. Dan Wan Tien menjadi CEO-nya.

Melesat

Keputusan untuk spin-off ini terbukti tepat. Seperti terlepas dari ikatan, WRP melesat. Dalam beberapa tahun, perusahaan ini berkembang pesat, tak lagi sekadar dikenal sebagai susu diet, tetapi sebagai merek yang memahami kebutuhan perempuan.

Aneka produk pun lahir. Tidak hanya minuman, WRP kini hadir dalam bentuk camilan sehat, suplemen kecantikan, hingga rencana peluncuran lini skincare. Berangkat dari dua produk, yaitu susu dan cookies, produk-produknya terus berkembang menjadi 27 SKU dengan berbagai varian produk.

null
Dari 2 produk, WRP terus berkembang. Produknya kian beragam (Foto: WRP Indonesia)

Pertanyaannya: apa rahasia Wan Tien bisa mengembangkannya?

Inovasi produk menjadi jantungnya. Dengan darah dan mindset seorang saintis, Wan Tien intens melakukan riset untuk memahami kebutuhan konsumen perempuan terkait produk diet dan kesehatan. Ia menyadari bahwa perempuan tidak hanya membutuhkan produk yang membantu menurunkan berat badan, tetapi juga mendukung gaya hidup sehat dan percaya diri.

Bagi perempuan berambut pendek ini, setiap inovasi yang lahir dari WRP adalah jawaban dari sebuah pertanyaan: bagaimana perempuan bisa merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri?

null
Susu rendah lemak WRP yang disukai pasar (Foto: WRP Indonesia)

Kendati demikian, ia sangat berhati-hati dalam meluncurkan produk. Baginya, membangun WRP bukan hanya sekadar memperbesar bisnis, tetapi memastikan bahwa produk yang dihasilkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi konsumennya.

Ia tidak ingin hanya menjual produk, tetapi menawarkan solusi yang benar-benar bekerja. “Saya tidak mau ada produk WRP yang hanya sekadar tren, tapi tidak memberikan hasil,” tegasnya.

"Karena itu aku suka baca review pelanggan di e-commerce malam-malam, memastikan mereka puas dengan produk kami," katanya dengan mata berbinar. Ini menunjukkan pendekatan WRP yang lebih empatik dan customer-centric.

Oleh karena itu, ia selalu menantang timnya untuk menciptakan sesuatu yang tidak hanya enak dikonsumsi, tetapi juga memiliki dampak nyata. Setiap formula diuji berulang kali, setiap kemasan dirancang dengan penuh perhatian, setiap kampanye pemasaran dibuat dengan mempertimbangkan bagaimana perempuan melihat dirinya sendiri.

Frecy Ferry Daswaty, melihat langsung bagaimana pendekatan unik Wan Tien mengubah WRP. “Beliau ini tidak hanya memikirkan produk, tapi bagaimana produk itu benar-benar bermanfaat bagi konsumen. Saat kami berdiskusi tentang formula atau kampanye, beliau selalu bertanya: apakah ini bisa membantu perempuan merasa lebih percaya diri?” kata Head of Marketing WRP ini. Menurutnya, itulah yang membuat WRP berbeda. Setiap produk bukan hanya dijual, tapi juga membawa pesan dan filosofi yang lebih dalam.

Selain itu, Frecy juga menyoroti bagaimana Wan Tien selalu mendengarkan masukan dari timnya. “Saya sering terkejut dengan betapa detailnya beliau dalam setiap aspek bisnis, mulai dari formulasi hingga strategi pemasaran. Beliau selalu memastikan bahwa kami bekerja dengan standar terbaik,” ujarnya.

Tak Henti Bertanya

Ketika berbicara tentang kecantikan dan kesehatan, Wan Tien selalu melihatnya sebagai investasi jangka panjang. Baginya, perempuan tidak hanya membutuhkan produk yang instan, tetapi solusi yang berkelanjutan.

“Skincare bukan sekadar membuat wajah terlihat cerah dalam semalam, dan diet bukan sekadar menurunkan angka di timbangan dalam seminggu,” katanya dengan penuh keyakinan.

Maka, ia membawa WRP ke arah yang lebih luas — bukan sekadar produk, tetapi filosofi hidup. Dari pola makan, kebiasaan olahraga, hingga kesehatan mental, semua menjadi bagian dari narasi yang ia bangun.

Pendekatan ini membuahkan hasil. WRP kini tidak hanya menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan, tetapi juga bagi mereka yang ingin menjalani gaya hidup sehat tanpa tekanan. Kampanye yang diusung WRP, yakni Unlock Your Confidence, menggema di berbagai kalangan perempuan, dari ibu rumah tangga, profesional muda, hingga mahasiswa.

Wan Tien mengungkap ia ingin membebaskan perempuan dari standar kecantikan yang kaku. “Saya tidak ingin perempuan merasa harus sesuai dengan ukuran tertentu agar bisa merasa cantik. Saya ingin mereka percaya diri dengan versi terbaik diri mereka sendiri,” katanya.

Namun, membangun brand dengan pendekatan seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar strategi bisnis. Itu membutuhkan keberanian untuk melawan arus.

Di tengah gempuran tren diet ekstrem dan obsesi terhadap tubuh sempurna di media sosial, Wan Tien memilih jalur yang lebih menantang: membangun kesadaran bahwa kesehatan lebih penting daripada sekadar angka. “Banyak orang ingin hasil instan, tapi saya percaya pada perubahan yang bertahan lama,” katanya.

Maka, ia terus mengedukasi pelanggannya, memastikan bahwa WRP tidak hanya menjual produk, tetapi juga membimbing konsumennya menuju keputusan yang lebih sehat.

Yang menarik, sebagai CEO perusahaan yang bergerak di industri meal replacement, diet, dan cantik-sehat lewat makanan, ia tetap menjaga esensi kepekaan dan intuisi. Tidak jarang ia mencoba sendiri produk yang sedang dikembangkan, merasakan tekstur, mencium aromanya, dan memastikan bahwa setiap detail benar-benar sesuai dengan visi yang ia impikan.

“Saya harus tahu sendiri sebelum saya meminta orang lain mempercayainya,” ujar perempuan yang tiga tahun terakhir memilih menetap di Bali ini. Kesempurnaan baginya bukan sekadar janji pemasaran, tetapi sebuah tanggung jawab. Ia tidak ingin WRP hanya menjadi tren sesaat, tetapi warisan yang bisa terus berkembang dan memberi manfaat dalam jangka panjang.

Meski telah mengantarkan WRP ke titik ini, Wan Tien tidak pernah berhenti bertanya: apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia ingin memperluas cakrawala, menjadikan WRP lebih dari sekadar produk yang dikonsumsi, tetapi pengalaman yang membentuk kehidupan perempuan. Dari suplemen hingga perawatan kulit, dari makanan sehat hingga edukasi tentang kesehatan perempuan, ia ingin setiap langkah yang diambil oleh WRP membawa perubahan nyata.

“Sepuluh tahun lagi, saya ingin ketika perempuan berpikir tentang kesehatan dan kecantikan, mereka akan langsung mengingat WRP,” katanya penuh harapan.

null
Wan Tien ditemani Frecy Ferry Daswati berbincang tentang produk WRP (Foto: WRP Indonesia)

Saat membincang bahwa ia sukes mengembangkan WRP, Wan Tien menjawab diplomatis. Menurutnya, kesuksesan bukan diukur dari seberapa besar bisnis yang ia bangun, tetapi seberapa besar dampak yang ia tinggalkan. Ia ingin WRP terus berkembang, tidak hanya sebagai merek lokal, tetapi juga sebagai pemimpin di industri kesehatan yang membawa perubahan nyata bagi perempuan.

“Saya tidak ingin WRP hanya menjadi tren yang lewat,” katanya. “Saya ingin ia bertahan, terus berinovasi, dan tetap relevan bagi perempuan dari generasi ke generasi.”

Dari Paris ke Indonesia. Kwik Wan Tien telah membangun lebih dari sekadar brand; ia telah berupaya membangun gerakan yang membantu perempuan menemukan kepercayaan diri mereka.

Dan dalam perjalanan panjang ini, ia tahu bahwa yang terpenting bukanlah seberapa jauh ia telah melangkah, tetapi seberapa banyak perempuan yang kini berjalan dengan kepala tegak, merasa lebih kuat, lebih sehat, dan lebih percaya diri karena kehadiran WRP. Persis seperti tagline yang dikibarkannya: Unlock Your Confidence. (*)

# Tag