Erwin Damar Prasetyo: Siapkan Elitery sebagai Penyedia Managed Services Andal

null
Erwin Damar Prasetyo (Foto: Elitery)

Erwin Damar Prasetyo adalah sosok pemimpin keuangan dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di sektor konsultasi yang menangani bidang ritel dan teknologi (di kantor-kantor Big Four) dengan memegang sertifikasi Chartered Accountant (CA) dan Certified Public Accountant (CPA). Ia juga pernah mengenyam program Executive Education bidang Strategic CFO di Harvard Business School.

Keahlian Erwin di bidang keuangan dan pengelolaan risiko telah membawa manfaaat signifikan bagi perusahaan tempatnya berkiprah saat ini, PT Data Sinergitama Jaya Tbk. (yang lebih dikenal dengan nama Elitery).

Sebagai Chief Financial Officer (CFO) Elitery, ia berhasil memimpin perusahaan dalam melaksanakan proses initial public offering (IPO) pada Desember 2022. Selain itu, ia juga dinilai berhasil merancang strategi keuangan yang efektif dan meningkatkan revenue perusahaan secara signifikan.

Ketika Erwin bergabung pada Juni 2022, Elitery sedang berada dalam tahap persiapan IPO yang menuntut perhatian penuh pada berbagai aspek regulasi dan keuangan. Ia langsung terlibat dalam setiap tahap, hingga akhirnya Elitery mendapatkan effective letter.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Setelah IPO, perusahaan terus memastikan bahwa setiap kewajiban pelaporan kepada regulator dapat dipenuhi secara tepat waktu, sekaligus menjaga kepatuhan terhadap audit dan prinsip tata-kelola perusahaan (GCG) agar seluruh proses berjalan lancar.

IPO juga merupakan pencapaian strategis yang membawa dampak besar bagi perusahaan. Rupanya, selain mendapatkan akses ke modal yang lebih luas, keberhasilan IPO meningkatkan pula brand awareness di pasar.

“Semakin banyak pihak yang mengenal Elitery, semakin besar pula kepercayaan pelanggan, mitra bisnis, dan investor terhadap kredibilitas dan potensi pertumbuhan perusahaan ini,” kata Erwin.

Elitery didirikan pada 2011 sebagai perusahaan yang berfokus pada layanan data center. Namun, dalam perjalanannya, perusahaan melihat bahwa investasi pada data center lebih bersifat capex-intensive, yang membutuhkan investasi besar di awal.

Dengan kepekaan terhadap tren teknologi, Elitery melakukan pivoting bisnis ke layanan cloud, terutama dengan mengadopsi platform seperti Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud.

Perubahan ini menjadi strategi yang tepat, terutama ketika pandemi Covid-19 melanda. Permintaan akan layanan digital meningkat secara signifikan, dan Elitery berada di posisi yang tepat untuk menangkap peluang ini.

Keputusan strategis tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan pendapatan, tetapi juga mengukuhkan posisi Elitery sebagai perusahaan penyedia managed services andal di Indonesia. Fokus Elitery pada cloud membuka peluang untuk melakukan skalabilitas secara fleksibel, suatu hal yang sangat penting dalam menghadapi ketidakpastian pasar dan kebutuhan yang berubah-ubah.

Sebagai perusahaan teknologi, tantangan terbesar yang dihadapi Elitery bukan hanya soal inovasi, tetapi juga pengelolaan sumber daya manusia (SDM). “Di industri TI, talenta merupakan aset utama, dan hiring cost cukup tinggi,” kata Erwin.

Menghadapi hal ini, Elitery menerapkan kebijakan yang berpihak pada karyawan, seperti pola work from anywhere, pengembangan SDM (melalui serangkaian program pelatihan dan pembelajaran), hingga pemberian tunjangan pendidikan. Kebijakan ini berhasil mengurangi turnover karyawan dari 30% menjadi kurang dari 10%, sebuah pencapaian yang sangat signifikan dalam industri yang terkenal dengan tingginya tingkat perpindahan tenaga kerja.

Menurut Erwin, keputusan untuk berinvestasi pada kesejahteraan dan pengembangan karyawan ini merupakan strategi bisnis jangka panjang. “Dengan menjaga stabilitas tim dan mengurangi hiring cost, Elitery dapat lebih fokus pada inovasi dan peningkatan layanan, tanpa terganggu oleh tingginya turnover,” katanya.

Ia melihat bahwa saat ini permintaan layanan dari pelanggan (demand pull) semakin dominan dibandingkan dengan upaya mendorong permintaan (demand push). Dalam kondisi ini, pengelolaan keuangan yang optimal menjadi sangat krusial, di mana prinsip “cash is king” tetap berlaku. Sebagai CFO, peran Erwin ialah mendukung manajemen dalam mewujudkan visi dan misi perusahaan.

“Ketika CEO ingin melakukan ekspansi ke teknologi baru yang membutuhkan investasi besar, CFO harus dapat mengelola modal secara strategis,” kata Erwin. “Fungsi Tim Keuangan tidak hanya terbatas pada pencatatan (bookkeeping), tetapi juga berperan sebagai mitra strategis yang memberikan wawasan dan saran keuangan yang tepat,” katanya lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) semakin pesat. Erwin merasa, sebagai CFO, penting baginya untuk melihat peluang untuk mengadopsi teknologi ini.

Tak mengherankan, hingga saat ini Elitery telah mengembangkan Elipedia, sebuah sistem knowledge management perusahaan. Dengan memanfaatkan teknologi ini, pihaknya dapat mengintegrasikan AI dalam operasional harian untuk meningkatkan efisiensi proses bisnis, terutama dalam analisis data, sehingga Tim Keuangan dapat lebih fokus pada aspek yang lebih strategis.

Menurut Erwin, dari perspektif keuangan, ada dua tugas utama yang harus dijalankannya. Pertama, memastikan bahwa laporan keuangan disusun sesuai dengan standar akuntansi dan regulasi yang berlaku. Kedua, menerapkan financial planning and analysis (FP&A) serta forecasting yang akurat untuk menghindari kejutan finansial yang tidak diinginkan.

Ia mencontohkan, jika perusahaan memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang US$, sementara nilai tukar sedang tidak menguntungkan, pihaknya harus segera mengambil langkah mitigasi risiko, seperti melakukan hedging atau strategi keuangan lainnya. “Dengan pendekatan ini, kami dapat meminimalisir risiko dan menjaga stabilitas keuangan,” ujarnya.

Seorang CFO, dalam pandangan Erwin, juga dapat berperan sebagai “second man” setelah CEO. Sementara CEO bertanggung jawab atas visi dan arah strategis perusahaan, CFO adalah sosok yang memiliki pemahaman menyeluruh terhadap kondisi keuangan perusahaan secara makro. CFO tidak hanya berfungsi sebagai pencatat transaksi, tetapi juga sebagai mitra strategis bisnis yang memberikan analisis, saran, dan arah keuangan berdasarkan data dan proyeksi yang akurat.

Erwin pun menegaskan bahwa peran Tim Keuangan tidak lagi bersifat reaktif, tetapi proaktif dalam memberikan advis keuangan. Dengan demikian, Tim Keuangan dapat mendorong efisiensi, mengoptimalkan alokasi sumber daya, dan memastikan bahwa setiap keputusan bisnis selaras dengan target pertumbuhan perusahaan.

Selama sembilan bulan pertama tahun 2024, Elitery berhasil meraih pendapatan sebesar Rp 338 miliar, mengalami kenaikan 48% (secara year-on-year/YoY) dari Rp 229 miliar pada periode yang sama di tahun 2023.

Dari sisi profitabilitas, Elitery mencatatkan laba bersih Rp 22,2 miliar, tumbuh 174% YoY dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 8,1 miliar.

Sementara itu, total aset perusahaan per September 2024 tercatat sebesar Rp 288 miliar, meningkat 21% dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp 228 miliar. Peningkatan signifikan dalam laba, pendapatan, dan aset ini mencerminkan pertumbuhan bisnis yang kuat serta strategi ekspansi yang efektif dari Elitery. (*)

# Tag