Harga Bitcoin Tertekan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

null

Bitcoin (BTC) masih berada dalam fase konsolidasi di bawah angka psikologis US$100.000, dengan volatilitas tinggi akibat salah satu peretasan terbesar dalam sejarah aset kripto.

Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi mingguan di US$98.940 sebelum anjlok lebih dari US$4.000, mencapai titik terendah tiga hari di US$94.800. Penurunan tajam ini membentuk pola bearish engulfing, sementara pasar kripto secara keseluruhan mengalami likuidasi lebih dari $600 juta.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Facrur, menyatakan salah satu pemicu utama pelemahan harga Bitcoin adalah peretasan di platform Bybit, yang mengakibatkan kehilangan sekitar US$1,4 miliar dalam bentuk Ethereum (ETH).

"Peretasan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah kripto dan memberikan dampak langsung ke pasar. Bitcoin, yang sebelumnya nyaris menembus $100.000, langsung terkoreksi dan kembali ke fase konsolidasi," ujar Fyqieh pada keterangannya yang dikutip pada Rabu (26/2/2025).

Faktor Makroekonomi dan Dampaknya pada Bitcoin

Laporan ekonomi terbaru menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi AS, dengan PMI sektor jasa menyentuh level terendah dalam lebih dari dua tahun. Data inflasi PDB dan PCE yang akan dirilis pekan ini berpotensi mengguncang pasar lebih lanjut.

Menurut Fyqieh, beberapa data ekonomi penting yang perlu diperhatikan adalah tingkat keyakinan konsumen yang diumumkan pada Selasa pekan ini, data penjualan rumah baru pada Rabu, serta laporan PDB kuartal keempat pada Kamis.

"Jika pertumbuhan ekonomi melebihi ekspektasi, peluang pemangkasan suku bunga bisa berkurang. Sebaliknya, jika data lebih lemah dari perkiraan, bank sentral mungkin akan mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter," jelasnya.

Sementara itu, pada Jumat (28/2/2025) di pekan ini, laporan Core Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Januari akan diumumkan, yang menjadi indikator utama inflasi bagi Federal Reserve.

Selain faktor makroekonomi, sidang Komite Perbankan Senat AS pada Rabu ini tentang Exploring Bipartisan Legislative Frameworks for Digital Assets berpotensi memberikan dampak bagi pasar kripto. Di sisi lain, laporan keuangan Nvidia yang akan dirilis pekan ini dapat memengaruhi aset kripto yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Beberapa perusahaan penambang kripto besar seperti Riot, Marathon, Bitdeer, Terawulf, dan Core Scientific juga dijadwalkan merilis laporan keuangan mereka dalam waktu dekat.

Prospek Pasar Kripto

Kapitalisasi pasar kripto mengalami penurunan 2,3% dalam 24 jam terakhir menjadi US$3,28 triliun. Meski demikian, pasar tetap bertahan dalam fase konsolidasi selama seminggu terakhir, sebagian besar telah pulih dari dampak peretasan Bybit.

Menurut analisis Fyqieh, Bitcoin sempat turun di bawah US$96.000 dalam sesi perdagangan Asia pada Senin pagi, dengan volatilitas yang masih relatif rendah. Sepanjang bulan ini, BTC tetap bergerak dalam kisaran harga yang ketat.

Ethereum, di sisi lain, berhasil pulih sepenuhnya dari dampak peretasan Bybit, sempat menyentuh level tertinggi intraday US$2.835 sebelum kembali turun ke US$2.740.

"Tekanan bearish masih mendominasi pasar, sebagaimana ditunjukkan oleh indikator teknikal. Relative Strength Index (RSI) dalam skala harian dan 4 jam masih berada di wilayah bearish, menandakan potensi penurunan lebih lanjut. Selain itu, Exponential Moving Average (EMA) 100 hari di US$94.100 menjadi level support penting. Jika harga menembus di bawah level ini, tekanan jual dapat meningkat dan mendorong BTC ke level yang lebih rendah," papar Fyqieh.

Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$96.500 per 22 Februari, dengan ketidakpastian pasar yang masih tinggi. Kegagalan BTC untuk bertahan di atas US$98.940 serta tren pasar yang melemah mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut. Trader disarankan untuk memantau apakah Bitcoin dapat kembali menembus US$98.940 atau justru melewati EMA 100 hari, yang dapat memicu koreksi lebih dalam.

Bisakah Bitcoin Kembali ke US$100.000?

Bitcoin hampir menciptakan pola golden cross sebelum peretasan Bybit memicu aksi jual dari US$98.000 ke US$95.000 dalam waktu singkat. Saat ini, EMA jangka pendek masih berada di bawah EMA jangka panjang, yang menandakan dominasi tekanan jual.

Jika tekanan jual terus berlanjut, Bitcoin dapat menguji support di US$94.818. Jika level ini gagal bertahan, BTC berpotensi turun lebih lanjut ke US$93.415 atau bahkan US$91.300. Namun, jika harga berhasil pulih dari level ini, tren bearish dapat mulai melemah.

"Dalam skenario bullish, Bitcoin dapat kembali menguji resistance di US$97.756, dan jika mampu menembusnya, BTC berpotensi naik ke US$100.000, dengan target berikutnya di US$102.668," jelas Fyqieh.

Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, investor dan trader disarankan untuk terus memantau indikator teknikal guna menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya. (*)

# Tag