BEI Ungkap Tantangan Mengelola Pasar Modal dari Danantara, Apa Saja?

BEI Ungkap Tantangan Mengelola Pasar Modal dari Danantara, Apa Saja?
Gedung Daya Anagata Nusantara (Danantara) . Dok Antara

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan sejumlah tantangan yang akan terjadi jika pasar modal mengandalkan badan usaha milik negara (BUMN) tercatat yang masuk dalam naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Tantangan itu dimulai dari ketangkasan, pengawasan, tata kelola, model bisnis hingga keterbukaan informasi.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan tantangan tersebut yaitu seberapa tangkas dan lincah Danantara terhadap dinamika pasar modal. Iman menggambarkan, ketika BUMN yang tergabung dalam Danantara membagikan dividen, maka perusahaan yang tergabung itu akan menikmati pembagian hasil keuntungan tersebut.

Iman melanjutkan, dari segi dana kelolaan atau asset under management (AUM), nilai aset Danantara sebesar US$900 miliar diklaim berkontribusi kecil terhadap produk domestik bruto Indonesia (PDB) atau GDP yang mencapai lebih dari US$1 triliun. Sementara, return atau keuntungan dari sovereign wealth fund atau dana kekayaan negara (SWF) rata-rata di 11% dalam dolar Amerika Serikat atau mencapai di atas satu kali terhadap PDB.

“Kalau kita bicara aset Danantara sekarang, di mana GDP kita di atas US$1 triliun, artinya kita masih di bawah satu kali. Masih banyak ruang untuk meningkatkan perusahaan-perusahaan [BUMN]. Ini menurut saya menjadi tantangan kita,” ujar Iman dalam pemaparannya di Gedung BEI, Jakarta,, pada Jumat (28/2/2025).

Tantangan berikutnya adalah langkah pengawasan dan tata kelola Danantara mendatang. Di pasar modal, sebuah perusahaan tercatat akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk mengumumkan sejumlah aksi korporasi perusahaan, baik itu akuisisi, merger, penerbitan surat utang, penjualan aset, pengumuman kinerja keuangan, hingga pembagian dividen. Semua itu diumumkan dalam keterbukaan informasi.

Sementara, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BPI Danantara masih mengkaji peluang model bisnis Danantara, apakah akan menjadi SWF atau perusahaan investasi. Begitu juga dengan keterbukaan informasi yang akan diterapkan di Danantara. Sampai saat ini masih belum terjadi transaksi masuk, baik berupa crossing, perpindahan aset, atau sejenisnya ke Danantara.

“Menurut saya, sekarang ini waktunya BPI Danantara untuk sosialisasi apa yang dilakukan, sehingga lebih jelas, mau jadi SWF atau investment company. Pertanyaan-pertanyaan itu yang menjadi perhatian,” tutup Iman. Sampai saat ini, BEI masih menunggu arahan BPI Danantara terkait kejelasan model bisnis, pengelolaan dana, hingga detail lainnya. (*)

# Tag