Menyongsong Matahari di Punggung Buffett

null
Warren Buffett, sang maestro investasi (Foto: apnews.com)

Waktu terus berjalan, melingkarkan dirinya dalam siklus yang tak terhindarkan. Di ujung perjalanan Warren Buffett, seorang maestro investasi, sebuah nama lain perlahan-lahan muncul ke permukaan, seperti bayangan yang mendekat saat senja merayap ke ufuk.

Sang Penerus

Greg Abel, sosok yang mungkin masih samar bagi banyak orang, adalah lelaki yang digadang-gadang akan mengambil alih takhta Buffett di Berkshire Hathaway yang sekarang menjadi Chairman dan CEO-nya. Tidak ada ledakan besar yang mengiringi namanya, tidak ada parade kemenangan, hanya sebuah pengakuan sederhana yang terlontar tanpa sengaja dari bibir seorang tetua bijak bernama Charlie Munger, yang nota bene wakil Buffet di Berkshire.

Siapa pun yang memahami Buffett tahu bahwa ia bukan hanya seorang investor, tetapi juga seorang perajut ekosistem bisnis yang unik. Selama puluhan tahun, ia membangun sebuah kerajaan yang bertumpu pada kesabaran, keyakinan, serta pemahaman mendalam tentang nilai yang tersembunyi di balik angka-angka dingin. Dan di tengah gemuruh dunia keuangan yang penuh ketidakpastian, Greg datang membawa janji kesinambungan, meneruskan simfoni yang telah lama dimainkan oleh sang maestro.

Namun, tidak ada suksesi yang terjadi tanpa skeptisisme. Nama Buffett bagaikan mantra yang melindungi Berkshire dari serangan oportunis dan pemburu keuntungan sesaat. Dalam genggaman lelaki berusia 94 tahun, konglomerat ini menjadi lebih dari sekadar entitas bisnis; ia adalah sebuah gagasan, sebuah cara berpikir, sebuah warisan.

Pertanyaannya kini adalah: mampukah Greg bukan hanya menjadi penerus, tetapi juga penjaga nilai-nilai yang telah menjadikan Berkshire begitu istimewa?

null
Judul Greg Abel, lelaki yang digadang-gadang menjadi sang penerus Buffett (Foto: Calgary Herald)

Sejarah selalu bergerak dalam gelombang yang berulang. Di masa lalu, kita telah melihat pemimpin besar menyerahkan estafet kepada mereka yang dianggap layak, dan kita juga telah menyaksikan kejatuhan dinasti karena salah perhitungan dalam memilih pewaris. Greg berdiri di antara dua kemungkinan itu, menatap cakrawala yang berwarna jingga, di mana matahari Buffett perlahan-lahan merunduk, memberikan ruang bagi fajar baru untuk menyingsing.

Pekerja Keras

Di luar sanjungan dan proyeksi masa depan, Greg adalah sosok yang berakar kuat pada kerja keras dan ketekunan. Gregory Edward Abel, lahir pada 1 Juni 1962 di tanah dingin Edmonton, Kanada, sebuah kota yang mengajarkannya tentang siklus pasang surut ekonomi sejak usia belia.

Dari mengayuh sepeda membagikan selebaran hingga mengumpulkan botol soda bekas, ia memahami nilai dari setiap sen yang ia dapatkan. Dan dalam perjalanan panjang itu, ia membawa serta satu pelajaran penting — bahwa tidak ada kemenangan tanpa usaha, tidak ada kejayaan tanpa kesabaran.

Saat seseorang bertumbuh dengan kesadaran bahwa hidup adalah tentang bertahan dan beradaptasi, maka instingnya akan lebih tajam dalam membaca perubahan. Greg memahami itu sejak kecil. Ibunya, seorang ibu rumah tangga yang kadang bekerja sebagai asisten hukum, dan ayahnya, seorang penjual alat pemadam kebakaran, mengajarkannya bahwa pekerjaan datang dan pergi, tetapi nilai seseorang terletak pada cara ia menghadapi pasang surut kehidupan.

“Kadang-kadang orang memiliki pekerjaan, dan kadang-kadang tidak,” kenang Abel.

Namun, ia juga percaya bahwa di tengah ketidakpastian, selalu ada peluang untuk bermimpi. Dari jalanan Edmonton yang bersalju, Greg melangkah ke arena hoki, mengasah daya juangnya bersama teman-teman yang sama keras kepalanya. Di sanalah ia belajar bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang berbakat, tetapi juga mereka yang tahu cara bekerja dalam tim.

“Ketika Anda bermain hoki, Anda cepat menyadari bahwa Anda lebih sukses bermain untuk tim daripada sebagai individu,” ujarnya. Olahraga itu bukan sekadar permainan, melainkan cerminan dari bagaimana ia akan menghadapi bisnis kelak—dengan disiplin, keuletan, dan kemampuan membaca gerakan lawan.

Dunia korporasi bukanlah es yang licin, tetapi medannya sama kerasnya. Greg bergabung dengan MidAmerican Energy (yang kemudian menjadi Berkshire Hathaway Energy/BHE) pada tahun 1992 dan terus naik pangkat hingga menjadi CEO BHE pada tahun 2008. Sejak bergabung dengan BHE, Greg telah menunjukkan dirinya sebagai seorang yang tahu cara menjaga keseimbangan.

Buffett melihat itu sejak awal, dan dengan caranya yang khas, ia merangkum keunggulan Greg dalam satu kalimat sederhana, “Ada banyak orang pintar di dunia ini, tetapi beberapa dari mereka melakukan hal-hal bodoh. Greg adalah orang pintar yang tidak akan pernah melakukan hal bodoh.” Dalam dunia yang penuh jebakan ego dan ambisi, memiliki seseorang yang cerdas tetapi tetap berhati-hati adalah aset yang tak ternilai.

Tak heran jika pada suatu sore di tanggal 1 Mei 2021, Charlie Munger, entah sengaja atau tidak, mengungkapkan sesuatu yang selama ini dirahasiakan. Dalam sesi tanya jawab yang selalu menjadi bagian dari tradisi Berkshire, ia berkata tanpa basa-basi, “Greg akan menjaga budaya itu.” Seolah-olah, dari ratusan pengunjung yang hadir secara virtual hari itu, tak seorang pun menyadari bahwa sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Beberapa detik hening, lalu dunia investasi pun bergemuruh.

Pengungkapan itu bukan sekadar penegasan atas kepemimpinan Greg, tetapi juga sebuah momen simbolik. Selama bertahun-tahun, Buffett dan Munger selalu menolak menyebutkan nama sang penerus, membiarkan publik berspekulasi dan menunggu dengan sabar.

Namun, dengan satu kalimat yang meluncur begitu saja dari Munger, teka-teki itu pun terjawab. Dua hari kemudian, Buffett sendiri mengonfirmasi, “Ya, Greg akan mengambil alih.” Setelah lebih dari setengah abad, sebuah transisi akhirnya mulai nyata, perlahan-lahan beranjak dari imajinasi menjadi kenyataan.

Membangun BHE

Bagi banyak orang, Buffett bukan sekadar investor ulung, tetapi juga penjaga filosofi bisnis yang menentang arus zaman. Ia membangun Berkshire Hathaway dengan kesabaran, memilih investasi seperti seorang kolektor seni yang hanya mengambil lukisan terbaik, dan menanamkan keyakinan bahwa “bisnis yang baik adalah bisnis yang dapat bertahan dalam jangka panjang”.

Kini, di pundak Greg – yang selain menjadi CEO BHE juga menjadi Vice Chairman of Non-Insurance Operations Berkshire Hathaway, prinsip itu harus terus dihidupkan. Tetapi, apakah seorang penerus dapat benar-benar mengisi ruang yang ditinggalkan oleh pendahulunya?

Kepercayaan Buffett terhadap Greg bukanlah sesuatu yang muncul dalam semalam. Seperempat abad lalu, ketika Berkshire mulai merambah dunia energi, Greg menjadi bagian dari perjalanan itu.

Sebagai CEO BHE sejak 2008, ia mengubah perusahaan tersebut menjadi salah satu kekuatan dominan dalam industri energi, dengan aset yang membentang dari ladang angin di Texas hingga jaringan pipa di California. “Bagaimana Anda melibatkan [pihak lain]? Bagaimana kita akan menjadi mitra untuk jangka panjang?” Begitulah caranya mendekati negosiasi — bukan dengan agresi, tetapi dengan keberlanjutan.

null
Sebagai CEO BHE, Greg sukses membawa perusahaannya berkinerja cemerlang (Foto: desmoinesregister.com)

Tak hanya soal membangun bisnis, Greg juga tahu cara membangun kepercayaan. Regulator yang awalnya menatapnya dengan skeptis akhirnya melunak. Komunitas yang terdampak oleh proyeknya justru menjadi pendukung. Ia memahami bahwa bisnis bukan sekadar soal angka, tetapi juga tentang relasi dan keberlanjutan. Itulah sebabnya ketika Buffett melihatnya, ia melihat lebih dari sekadar seorang eksekutif, tetapi seorang pemimpin yang memahami esensi dari warisan Berkshire.

Namun, Greg bukan Buffett. Ia tidak akan tampil di panggung rapat tahunan dengan ukulele, menyanyikan “My Way” di depan ribuan investor. Ia juga bukan Munger, yang dengan cerdas dan tajam melontarkan komentar penuh humor. Tetapi, di balik sikapnya yang lebih pendiam, ada kekuatan yang tak kalah besar — kemampuannya untuk memahami bisnis dari akar terdalamnya.

“Jika Anda berkinerja buruk, Anda akan mendapat telepon dari Greg,” kata seorang eksekutif yang pernah bekerja dengannya. Tidak ada kompromi dalam standar yang ia tetapkan.

Sikap tegas itu mungkin menjadi pembeda terbesarnya dari Buffett. Jika sang maestro cenderung membiarkan anak perusahaan berjalan dengan kebebasan penuh, Greg sedikit berbeda. Ia bukan tipe yang hanya duduk dan mengamati dari kejauhan. Ia akan turun tangan, memastikan roda bisnis berputar sesuai dengan harapannya.

“Greg tidak akan membiarkan yang tertinggal tetap tertinggal,” ujar seorang rekan bisnisnya. Itulah yang membuatnya disegani — bukan dengan suara keras, tetapi dengan konsistensi dan keteguhan.

Dikepung Keraguan

Namun, tantangan terbesar bagi Greg bukan hanya membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang layak, tetapi juga mempertahankan warisan Berkshire dalam era yang berbeda. Jika dulu Buffett membangun konglomerat ini dengan naluri tajam terhadap investasi dan akuisisi yang menguntungkan, Greg kini menghadapi lanskap yang lebih kompleks. Dunia berubah. Pasar tidak lagi sama. Dan ekspektasi pemegang saham semakin menuntut strategi yang lebih fleksibel.

Seorang eksekutif yang mengenalnya berkata, “Greg memiliki kemampuan untuk mencerna informasi dalam jumlah besar.” Tetapi, apakah itu cukup untuk mempertahankan reputasi Berkshire sebagai salah satu mesin kekayaan paling solid dalam sejarah?

Dari lantai bursa dilaporkan, laba operasional Berkshire Hathaway Inc., melonjak 71% pada kuartal IV/2024, karena suku bunga yang lebih tinggi mengangkat pendapatan investasi konglomerat dan bisnis asuransinya membaik. Melansir pernyataan Berkshire Hathaway yang dikutip dari Bloomberg (24/2/2025), laba operasional perusahaan ini pada kuartal IV/2024 mencapai US$14,5 miliar.

Peningkatan ini dilaporkan sebagian didorong oleh lonjakan pendapatan investasi asuransi sebesar 48% menjadi US$4,1 miliar, di tengah kenaikan suku bunga. Pendapatan ini juga mendapat dorongan signifikan dari pemulihan yang kuat dalam bisnis penjaminan asuransi perusahaan, dengan pendapatan operasional meningkat hingga empat kali lipat selama periode tersebut menjadi US$3,4 miliar.

Berkshire mengakhiri tahun 2024 dengan uang tunai dan surat utang negara senilai US$321,4 miliar atau setara Rp5.239 triliun (asumsi kurs Rp 16.300/US$), setelah memperhitungkan utang yang dicatat untuk membeli utang pemerintah jangka pendek. Itu adalah kinerja yang menawan, menandai rekor dan peningkatan 3,6% dari tiga bulan sebelumnya.

Yang menarik, salah satu tantangan yang sudah terlihat adalah kinerja bisnis utama Berkshire. Geico, perusahaan asuransi yang dulu menjadi kebanggaan Buffett, disebut-sebut mulai tertinggal dari pesaingnya. Bisnis energi Greg juga menghadapi tekanan dari perubahan kebijakan dan regulasi. Kereta api BNSF, yang pernah menjadi salah satu akuisisi terbesar Buffett, kini menunjukkan hasil yang lebih lemah dibandingkan operator lainnya.

Dan di balik semua itu, satu fakta tak terbantahkan tetap mengintai: era Buffett dan Munger telah berakhir. Dunia kini menatap Greg dengan pertanyaan yang sama: “Dapatkah dia menjaga kapal ini tetap berlayar dengan cara yang sama?”

Jika ada yang memahami skala tantangan ini, itu adalah Greg sendiri. Sejak ia bergabung dengan Berkshire, ia telah melihat bagaimana imperium ini dijalankan — bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, tetapi sebagai jaringan bisnis yang memiliki nyawa, sejarah, dan filosofi tersendiri.

“Warren telah menemukan cara untuk mengatur perusahaan ini seperti ekosistem,” ujar seorang analis. Dan tugas Greg bukan hanya menjadi penerus, tetapi juga menjadi penjaga ekosistem itu, memastikan bahwa setiap bagian tetap berfungsi dengan baik tanpa menghilangkan ruh yang telah membuatnya besar.

Dalam dunia bisnis, ada banyak kisah tentang para suksesor yang gagal menjaga warisan pendahulunya. Tetapi ada juga kisah tentang mereka yang, dengan kesabaran dan kebijaksanaan, justru membawa perusahaan ke era kejayaan baru.

Buffett telah merancang strategi untuk melindungi Berkshire dari intervensi eksternal, memastikan bahwa transisi kekuasaan berjalan dengan tenang dan terkendali. Namun, ujian sejati Greg baru saja dimulai. Bisakah ia bukan hanya menjaga, tetapi juga membawa Berkshire ke level yang lebih tinggi?

Di luar pertanyaan besar itu, satu hal tetap tak berubah: Greg tidak meminta sorotan. Ia tidak mengejar ketenaran, tidak membangun citra flamboyan, dan tidak mencari validasi publik. Ia bekerja dalam diam, membangun dengan sabar, dan mengelola dengan kepala dingin.

Mungkin, justru dalam kesederhanaan itu, ia menemukan kekuatannya. Karena seperti yang sering dikatakan Buffett, “Investasi terbaik bukanlah tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling sabar dalam menunggu hasilnya.” Dan kini, dunia bisnis hanya bisa menunggu: apakah Greg akan menjadi legenda berikutnya dalam sejarah Berkshire Hathaway? (*)

# Tag