Climate Hack Bekali Keterampilan Digital Inovator Muda di Asia

null
Climate Hack telah melatih hampir 1.000 anak muda dari 24 negara di Asia. (Foto: Dok.Climate Hack)

Untuk mengembangkan dan mempercepat solusi berbasis teknologi untuk perubahan iklim, Climate Hack membekali orang-orang di Asia dengan keterampilan digital. Sejak tahun 2021, Climate Hack telah melatih hampir 1.000 anak muda dari 24 negara di Asia. Secara kolektif, para peserta program ini telah mengembangkan 130 prototipe dan solusi digital untuk mengatasi tantangan terkait iklim.

Climate Hack 2024 diikuti lebih dari 300 pemuda dari 27 negara berpartisipasi dalam program ini untuk mengembangkan solusi iklim. Mereka menerima pelatihan dari para pakar industri terkemuka di berbagai bidang seperti kecakapan digital, keterampilan memecahkan masalah, pola pikir kewirausahaan, serta praktik terbaik dalam mempresentasikan dan memasarkan ide-ide mereka.

Pada acara Pitch Day, 10 tim yang terpilih mempresentasikan solusi berbasis teknologi mereka di hadapan panel juri. Mereka menyampaikan tantangan lingkungan di berbagai bidang seperti pengelolaan sumber daya alam, penggunaan lahan, transportasi, pengelolaan limbah, dan ekonomi ekologi.

Tiga tim lintas negara keluar sebagai pemenang Climate Hack 2024 Pitch Day dari Singapore International Foundation (SIF) yang merupakan puncak kegiatan dari program lima bulan yang telah berlangsung sejak September 2024. Tiga tim pemenang dipilih berdasarkan kreativitas, kemampuan persuasif, kerja sama tim, serta dampak dan kelayakan solusi mereka. Mereka adalah:

1. E-Connect (Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Filipina)

2. SustainIQ (Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Filipina))

3. Sustainloop (India, Malaysia, dan Filipina)

Selain itu, Ecolove (Kamboja, Indonesia & Singapura), menerima penghargaan People's Choice Award. Penghargaan ini didasarkan pada pemungutan suara di media sosial menjelang Pitch Day oleh para penonton yang hadir secara langsung di lokasi acara.

Keempat tim akan mengunjungi Singapura pada bulan Maret tahun ini untuk mempelajari lebih lanjut mengenai Singapore Green Plan 2030 – sebuah gerakan untuk memajukan agenda nasional Singapura dalam pembangunan berkelanjutan.

Carla Gomez Briones, Spesialis Iklim dan Keberlanjutan, United Nations Development Program Global Centre for Technology, Innovation, and Sustainable Development (Singapura), salah satu juri di Pitch Day menuturkan kecerdikan dan pemahaman mendalam yang ditunjukkan oleh para tim benar-benar menginspirasi. Mulai dari mengatasi berbagai tantangan seperti pengelolaan sumber daya alam hingga memikirkan kembali sistem pengelolaan limbah, para inovator muda ini telah menunjukkan kemampuan dalam berinovasi untuk tujuan dan dampak yang besar.

Wan Muhamad Asyrad Wan Zaki, anggota Sustainloop dan Pemenang Climate Hack 2024 dari Malaysia, mengatakan dengan tim lintas negara (India, Malaysia, dan Filipina) guna memanfaatkan jaringan ASEAN dan mengembangkan bisnis ke berbagai pasar. Bekerja dengan orang dari berbagai budaya telah mengajarkan kami untuk menghargai sudut pandang yang beragam, berkomunikasi dengan baik untuk menghindari kesalahpahaman, dan menghormati adat istiadat serta tradisi setempat.

“Pendekatan ini membantu kami berinovasi lebih cepat, membangun kemitraan yang lebih kuat, dan menyesuaikan strategi kami untuk setiap pasar,” kata dalam siaran pers yang diterima swa.co.id, Selasa (4/3).

Ahmad Yasri Zaenuri, anggota Ecovolve dari Indonesia mengakui program Climate Hack dengan bimbingan mentor Caitlin Medley dari Australia, ia belajar membuat solusi pelacakan karbon digital agar dapat ditindaklanjuti dan lebih memahami aspek bisnis terkait teknologi iklim. Hal lain yang paling berkesan adalah kesempatan untuk bekerja bersama tim-tim lain yang memiliki semangat tinggi dalam mengatasi krisis iklim dariberbagai sudut pandang.

Lainya halnya dengan Sheena Joy Palcis, anggota E-Connect dari Filipina menuturksn Climate Hack telah membantu mendapatkan wawasan untuk mengubah ide dan gagasannya tentang ketahanan iklim menjadi aksi nyata. Melalui lokakarya ini, saya mendapatkan keterampilan untuk mengembangkan solusi yang berdampak dan praktis.

Jaryll Chan, Direktur Eksekutif SIF, Divisi Program, menambahkan perubahan iklim memengaruhi setiap orang karena kita hidup di dunia yang saling terhubung. Di SIF, ia percaya dapat menciptakan kolaborasi untuk menghasilkan solusi bagi dunia yang lebih baik.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag