Kia dan Samsung Merevolusi Bisnis UKM dengan Mobil Pintar

null
Kolaborasi Kia dan Samsung untuk Bisnis UKM (Foto: Kia Corporation)

Di tengah gelombang transformasi digital, kolaborasi antara Kia dan Samsung Electronics bukan sekadar tentang kendaraan atau gadget — ini tentang menciptakan ekosistem di mana mobil hidup dan berinteraksi dengan bisnis pemiliknya.

Dengan mengintegrasikan platform IoT Samsung, SmartThings Pro, ke dalam Platform Beyond Vehicle (PBV) Kia, kedua raksasa Korea Selatan ini membawa revolusi bagi usaha kecil: kendaraan yang tak hanya mengantar pemilik ke tujuan, tetapi juga mengelola toko, mengatur inventaris, bahkan memastikan roti tetap segar.

Bagi pemilik usaha mikro, waktu adalah modal. Konsep Plug & Play yang diusung kolaborasi ini memungkinkan PBV Kia berubah menjadi asisten bisnis dalam hitungan menit.

Tanpa instalasi rumit, cukup colokkan konektor pintar, dan PBV langsung terhubung dengan perangkat IoT toko—mulai dari AC, sistem pendingin, hingga papan reklame. Contoh nyata?

Bayangkan pemilik bakery kecil yang menuju pasar grosir. Saat ia memasukkan tujuan di dashboard PBV, sistem otomatis mengaktifkan Mode Pembelian Bahan: pendingin kendaraan menyesuaikan suhu untuk menjaga tepung dan telur tetap segar. Begitu tiba di toko, Mode Perjalanan menyala—AC toko mulai beroperasi, lampu neon hidup, dan daftar tugas seperti cek stok gula muncul di layar.

"PBV Kia adalah kanvas bagi inovasi. Kami tak hanya menjual mobil, tapi ruang kerja beroda yang terhubung dengan ekosistem digital pemilik usaha," tegas Sangdae Kim, Head of Kia’s PBV Division, dalam siaran resmi, Selasa (4/3/2025).

Sementara itu, Chanwoo Park, Executive Vice President of B2B Integrated Offering Center at Samsung Electronics. Samsung menambahkan, "Ini awal dari era di mana kendaraan dan bisnis bicara dalam bahasa yang sama—bahasa efisiensi."

Kecerdasan buatan dalam SmartThings Pro bukan hanya automasi, tapi pembelajaran. Sistem ini menganalisis pola operasional—kapan toko mulai ramai, kapan perlu restock, bahkan kapan filter AC harus diganti. Misalnya, saat jam tutup, mematikan perangkat secara otomatis, mengaktifkan penghemat energi, dan mengirim notifikasi jika ada gerakan mencurigakan di toko.

Untuk bisnis hospitality, PBV bahkan bisa menjadi resepsionis bergerak : pemilik mengelola check-in tamu, membuka kunci kamar, atau memantau keamanan via layar infotainment mobil—semuanya sambil berkendara!

Kolaborasi ini bukan hanya tentang teknologi, tapi juga ambisi geopolitik. Kia dan Samsung sengaja memilih segmen UKM sebagai ujung tombak, mengisi celah pasar yang sering diabaikan kompetitor.

Melalui proyek percontohan untuk usaha kecil, mereka menguji daya adaptasi PBV di berbagai industri—mulai kuliner hingga ritel.

Ke depan, kedua perusahaan berencana merancang paket IoT khusus untuk sektor spesifik, seperti logistik atau layanan kesehatan keliling, sambil berekspansi ke pasar Eropa dan AS. Ini adalah strategi cerdas: menjadikan Korea Selatan sebagai kiblat smart business mobility melalui solusi yang terjangkau dan mudah diadopsi.

Kolaborasi Kia dan Samsung mengisyaratkan masa depan di mana kendaraan tak lagi diam di garasi, tetapi aktif mengoptimalkan bisnis pemiliknya. Bagi UKM, ini adalah lompatan dari sistem manual menuju operasional real-time yang diprediksi AI.

Bagi Korea Selatan, ini adalah pijakan untuk memimpin pasar IoT global. Dan bagi kita semua, ini pengingat: dalam era disruptif, yang bertahan bukan perusahaan terbesar, tapi yang paling lincah berkolaborasi. (*)

# Tag