Gülşah Merve Yüksel, Ketika Guru Menjadi Penjelajah Dunia dengan Motor
Di lereng terjal Pegunungan Atlas, Maroko, sorot mata Gülşah Merve Yüksel terpancar tajam di balik helmnya. Saat itu, ia tak hanya berperang melawan jalan berbatu dan ketinggian 4.000 meter, tetapi juga melawan pandangan skeptis warga lokal yang jarang melihat perempuan bersepeda motor sendirian.
"Mereka bertanya, 'Di mana suamimu? Kenapa tidak ada pria yang mendampingi?'" kenangnya. "Saya hanya tersenyum dan menjawab, 'Saya bisa menjadi pendamping diri sendiri.'"
Inilah potret perjalanan Gülşah, seorang mantan guru asal Turki yang memilih keluar dari zona nyaman untuk menjelajahi 23 negara dalam dua tahun. Namun, ini lebih dari sekadar petualangan.
Kisahnya adalah tentang bagaimana seorang perempuan membongkar stigma, merajut persaudaraan lintas budaya, dan menjadikan motornya, Aprilia Tuareg 660, sebagai simbol kebebasan.
Sebelum menjadi ikon petualangan, Gülşah menghabiskan hari-harinya di ruang kelas Istanbul. Namun, rutinitas itu perlahan mengikis jiwanya. "Saya cinta mengajar, tetapi ada suara dalam diri yang terus bertanya, Apa yang terjadi jika saya tidak pernah mencoba melihat dunia?'" ujarnya.
Pada 2023, ia memutuskan berhenti dan menjual hampir semua hartanya untuk membeli motor petualang. Keputusan itu menuang protes dari keluarga, terutama di lingkungan sosial Turki yang masih memandang perjalanan solo perempuan sebagai hal tak lazim.
Aprilia Tuareg 660 menjadi lebih dari sekadar kendaraan—ia adalah teman yang setia. Gülşah memodifikasi jok motor setinggi 7 cm agar kakinya menyentuh tanah, langkah krusial bagi rider perempuan dengan postur rata-rata.
"Ini bukan soal fisik, tapi keyakinan. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan bisa menguasai mesin besar tanpa kompromi," tegasnya, seperti dikutip PT Piaggio Indonesia, Jumat (7/3/2025).
Perjalanannya seringkali menjadi ajang dialog budaya. Di pedesaan India, ia menginap di rumah keluarga yang awalnya curiga, tetapi akhirnya mengadakan pesta kecil untuknya. Di Indonesia, para rider lokal menyambutnya dengan kalung bunga dan mengajaknya menjelajahi Bukit Tinggi.
"Mereka tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi juga membuka pintu rumah. Di situlah saya belajar bahwa kemanusiaan mengalahkan semua prasangka," katanya.
Petualangan Gülşah tak lepas dari momen getir. Saat melintasi Umling La (5.800 mdpl) di India, badai salju hampir membuatnya hilang arah. Tanpa sinyal ponsel, ia bertahan dengan berpegangan pada motor yang menjadi satu-satunya tenda.
Di perbatasan Azerbaijan, petugas imigrasi sempat menolaknya karena mengira ia pengemis akibat debu yang membaluri tubuh. "Saya menangis, tetapi lalu menunjukkan video perjalanan saya. Mereka akhirnya meminta selfie bersama," ucapnya tertawa.
Sebagai content creator, Gülşah sengaja membagikan momen-momen rentannya: dari gagal memperbaiki ban bocor hingga air mata di tengah hutan. "Saya tidak ingin hanya terlihat kuat. Ketika perempuan lain melihat saya berjuang tetapi tetap melanjutkan, itu memberi mereka keberanian," jelasnya.
Akun sosial medianya kini diikuti ribuan perempuan dari Maroko hingga Indonesia, banyak yang mengirim pesan: "Kamu membuat saya yakin bisa naik motor sendiri."
PT Piaggio Indonesia tak hanya memastikan performa motornya prima, tetapi juga menjadi penghubung Gülşah dengan komunitas lokal. "Dia adalah bukti bahwa adveture riding bukanlah dunia maskulin. Setiap kilometer yang ia tempuh membuka jalan bagi rider perempuan lain," ungkap Ayu Hapsari, PR Piaggio Indonesia.
Kini, dengan 60.000 kilometer yang telah ditempuh, Gülşah bersiap untuk menjelajahi Amerika Selatan. Tantangan terbesar bukanlah medan, tetapi mempertahankan mimpi di tengah keraguan. “Tapi, selama kita bergerak, dunia akan terus membuka diri," katanya.
Bagi Gulsah, setiap garis lintang yang ia lewati bukan hanya pencapaian geografis, melainkan tanda bahwa batas antara perempuan dan petualangan hanyalah ilusi. (*)